Kalau kita bertanya ke banyak orang Indonesia tentang hantu, jawabannya cenderung bisa ditebak: kuntilanak, pocong, tuyul. Roh perempuan berbaju putih, mayat terbungkus kafan yang melompat-lompat, anak botak pencuri duit. Inilah hantu-hantu film horor yang juga sering muncul dalam kegiatan nongkrong larut malam. Mereka populer bukan tanpa alasan: mereka memang hidup, menakut-nakuti, dan tertanam dalam di budaya bercerita di Indonesia.
Namun hantu, di Indonesia seperti di tempat lain, bukan hanya tentang ketakutan.
Edisi khusus Inside Indonesia ini mengambil masalah perhantuan dan pergentayangan secara serius. Bukan untuk memperdebatkan apakah hantu itu nyata atau tidak. Melalui proses penyuntingan artikel-artikel ini dan percakapan yang terpancing olehnya, kami menyadari bahwa pertanyaan tentang ‘apakah hantu benar ada’ bukan pertanyaan yang paling menarik. Seperti yang ditunjukkan oleh para kontributor edisi ini, hantu punya andil dalam dunia. Mereka menyimpan kenangan yang tidak tercatat dalam laporan-laporan resmi. Mereka melindungi hutan dari pengembang yang ceroboh. Mereka berjalan menembus mimpi seorang peneliti yang bersentuhan dengan naskah-naskah terlarang. Mereka berbaris, tanpa kepala, melewati jalan yang telah lama terendam dalam kekerasan. Mereka membuka ruang bagi yang sulit dikatakan dan untuk perihal-perihal yang dianggap telah disingkirkan secara paksa oleh modernitas.
Artikel-artikel yang terhimpun di sini mencerminkan berbagai suara. Dari akademisi, jurnalis, antropolog, hingga peneliti komunitas yang menulis dari berbagai penjuru Indonesia dan di luar negeri. Mereka menawarkan peta yang kaya dan bertekstur tentang apa yang hantu lakukan di dunia ini.
Christy Childs menawarkan sebuah gerbang memasuki kepercayaan gaib di Bali, menelusuri bagaimana leyak, balian, dan logika mengenai keseimbangan spiritual membentuk kehidupan sehari-hari melalui kesaksian Pak Andri, seorang profesor di Bali. Tulisannya menegaskan sebuah tema kunci dalam edisi ini: bahwa di Indonesia, dunia gaib bukan hanya berjalan paralel dengan dunia manusia, melainkan terjalin erat ke dalam jaringan kehidupan sehari-hari. Tulisan Khairani Putri Kananda dan M. Cole Grady menunjukkan bagaimana untaian-untaian ide politis memanifestasikan diri dalam hal-hal gaib. Di Gunungkidul, sebuah kawasan yang lama dikenai stigma sebagai terbelakang dan takhayul, mereka bercerita tentang bagaimana anak-anak muda terhubung dengan ritual gaib untuk melindungi sumber-sumber air di kawasan karst yang rawan kekeringan, serta untuk melawan pariwisata yang tidak etis yang melakukan komersialisasi atas ritual-ritual supranatural.
Kontribusi Verena Meyer memberikan sebuah jendela refleksif tentang apa artinya meneliti hantu. Sebagai Asisten Profesor di Universitas Leiden yang bekerja dengan naskah-naskah Islam dari Asia Tenggara, Meyer menceritakan pengalamannya mendampingi sebuah proyek digitalisasi di Museum Siginjei di Jambi, Sumatra, di mana ia berjumpa dengan sebuah naskah fotokopi yang menyertakan peringatan tulisan tangan: naskah ini tidak boleh disalin atau diperlihatkan kepada siapa pun yang bukan keturunan Sultan tertentu. Dalam artikelnya, ia bertanya: bagaimana seharusnya para peneliti memahami agensi naskah-naskah itu sendiri, terutama di era ketika digitalisasi, dan kini akal imitasi (AI), dapat melempar bahan-bahan berusia ratusan tahun ke dalam konteks yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka yang bertugas menjaga naskah-naskah tersebut?
Muhammad Afdillah menulis tentang arsip dan ingatan dari Ponorogo, Jawa Timur. Ia membuka dengan sebuah mimpi, tentang prajurit-prajurit tanpa kepala yang berbaris, dan bertanya apa yang diarsipkan dan diingat oleh mimpi tersebut. Pada tahun 1960-an, Ponorogo adalah salah satu dari banyak lokasi pembantaian massal dalam gelombang kekerasan anti-komunis di Indonesia. Afdillah menelusuri bagaimana kekerasan itu bertahan di masa kini melalui cerita-cerita hantu: di sungai di belakang asramanya tempat mayat tertuduh komunis dilaporkan dibuang, jalan berbukit tempat para pekerja konstruksi menggali tulang-tulang manusia, dan atmosfer yang terasa menegangkan setiap tanggal 30 September. Dibaca bersama tulisan Noanda Deghaska yang melihat bagaimana infrastruktur Indonesia menyimpan dan meneruskan ingatan tentang kekerasan, dua tulisan ini mengajukan pertanyaan: apa yang terjadi ketika sebuah masyarakat tidak bisa berkabung secara terbuka, dan bumi serta infrastruktur dibiarkan melakukan perkabungan bersama kita?
Tulisan Bianca Smith membawa dimensi yang berbeda dalam edisi ini, menelusuri bagaimana jin supranatural menjadi kehadiran yang aktif dalam proses berduka dan penyembuhan komunitas dengan cara-cara yang sulit dibayangkan tanpa kehadiran mereka.
Sementara itu, Emmelia Helkins dan Ronald Lukens-Bull mendekati hantu dan isu tentang gentayangan dari sudut yang berbeda dengan menawarkan pendapat mereka bahwa hantu-hantu Indonesia muncul di titik-titik di mana lapisan-lapisan temporal yang berbeda bertabrakan: kolonial dan pascakolonial, desa dan kota, tradisional dan modern.
Dan kami tidak mungkin menerbitkan edisi tentang cerita hantu tanpa menghadirkan film-film horor yang turut membentuk cara kita membayangkan dan menuturkan kisah-kisah yang menghantui kita. Dalam artikelnya, Andrea Decker menelusuri munculnya sosok penari perempuan dalam film-film Indonesia terkini seperti KKN di Desa Penari, Badarawuhi, dan Ronggeng Kematian, dan bertanya kegelisahan apa tentang perempuan, politik setempat, dan kekuatan gaib yang sedang diemban oleh para penari spektral ini.
Kami juga menghadirkan percakapan antara salah satu ko-editor edisi ini, Tito Ambyo, dengan Titah AW, seorang wartawan yang telah meliput hantu-hantu di Indonesia. Dalam percakapan ini, keduanya merefleksikan apa artinya menulis dan meliput supranatural dengan serius sebagai seorang jurnalis dan memasukkan dukun, pohon keramat, dan permintaan dunia roh ke dalam liputan berdampingan dengan wawancara dengan pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Karya Titah AW menunjuk ke arah kemungkinan jurnalisme yang baru; jurnalisme yang cukup lapang untuk memetakan bukan hanya pemangku kepentingan manusia, tetapi juga kekuatan-kekuatan lebih-dari-manusia yang hadir dalam dunia kita.
Edisi ini menunjukkan bahwa terlepas dari apa yang Anda percayai, atau di mana pun Anda berdiri dalam frasa ambigu yang kerap diucapkan orang Indonesia: percaya engga percaya, cerita-cerita hantu itu ada, dan mereka melakukan hal-hal yang penting di dunia ini. Mereka membawa sejarah-sejarah yang tidak boleh dimunculkan secara resmi. Mereka mengatur hubungan manusia dengan alam. Mereka membuat kesedihan yang tak terkatakan menjadi bisa terekspresikan. Mereka membuka ruang bagi yang tak terungkapkan atau sulit untuk diungkapkan.
Di dunia yang semakin kacau dan sulit dijelaskan, mungkin ini saatnya kita butuh lebih banyak cerita hantu untuk membantu mengakui hal-hal yang sulit diakui—dan menyingkap tubuh-tubuh kebenaran yang telah kita kubur sebelumnya.
Tito Ambyo (arsisto.ambyo@rmit.edu.au) adalah seorang antropolog media, jurnalis, pengorganisir komunitas, dosen di Universitas RMIT, Narrm, Australia, dan anggota Dewan Inside Indonesia. Jamie Edmonds (James.Edmonds@asu.edu) adalah Direktur Institut Bahasa Kritis dan Asisten Profesor Klinis di Universitas Negeri Arizona, serta seorang calon ahli berkebun dan anggota kolektif editorial Inside Indonesia.









