Hantu di Bukit Batu

Ida di Sedusun / Arsip Ida

'Kata orang, warga Gunungkidul itu dukun' 

Read English version

Semakin jauh kami masuk ke Gunungkidul, semakin sepi jalanan yang kami lewati: perkebunan membentang di atas tanah tandus, gua-gua menganga di sisi bukit, dan rumah-rumah berdiri dalam senyap—hanya jagung kering yang bergoyang ditiup angin. Lebih banyak orang tua daripada yang muda—hal ini sudah bisa diduga, karena banyak anak muda Gunungkidul memilih pergi ke Kota Jogja.

Di Gunungkidul kami bertemu Ida, salah satu dari mereka yang memilih pergi tapi kini telah kembali.

Ketika Ida berumur sembilan tahun, orang tuanya membawanya ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah. Ia kerap dirundung di kota besar tersebut; Gunungkidul terletak kurang dari dua jam perjalanan dengan mobil, ke arah tenggara dari Jogja. Namun, meski dilahirkan kurang dari lima puluh kilometer dari kota, ia sering diasingkan karena asal-usulnya—dicap kotor, ketinggalan zaman, dan percaya takhayul. Ida menanggung stigma itu hingga lulus dari universitas, ketika sebuah perjalanan pulang ke kampung halaman membuka matanya bahwa Gunungkidul jauh lebih kaya dari apa yang selama ini diremehkan dalam pendidikannya.

'Salah satu tuduhan yang paling sering dilontarkan kepada warga Gunungkidul, setidaknya menurut saya, adalah bahwa mereka percaya takhayul. Kata orang, warga Gunungkidul itu dukun. Dulu, saya pun sempat percaya bahwa Gunungkidul penuh dengan praktik dan tradisi mistis. Tapi setelah belajar bersama teman-teman, ternyata tidak seperti itu. Bukan seperti yang orang bilang. Itu hanya permukaannya saja. Sekarang, inilah yang membuat saya bahagia di Gunungkidul,' ujarnya.

'Tetangga saya percaya bahwa hantu itu benar-benar ada, dan kita hidup bersama mereka. Itulah kepercayaan mereka. Itulah mengapa mereka tidak bisa sembarangan dalam memandang sesuatu. Ada yang bilang ini hanya imajinasi. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, mereka sadar bahwa mereka tidak hidup sendirian. Kalau ada kejadian—seperti kecelakaan—meskipun ada kronologinya, mereka juga mempercayai cerita mistis di baliknya.'

Jevi Adhi Nugraha dalam salah satu kegiatan komunitas lokal di Gunungkidul / penulis

Pada tahun 2023, Ida memutuskan untuk kembali ke Desa Rongkop, Gunungkidul. Kini Ida mengelola Laboratorium Dusun, sebuah organisasi yang berkomitmen melestarikan budaya lokal melalui inisiatif pendidikan dan konservasi. Meski pemahamannya tentang kehidupan kota terus berkembang, Ida ingin menjaga lanskap budaya Gunungkidul—termasuk para hantunya. Ida berkata bahwa di lingkungannya, kisah-kisah mistis masih beredar dan masih dipercayai.

Jevi Adhi Nugraha, seorang penulis muda dari Gunungkidul, juga menulis tentang hantu dalam bukunya Menanam Hantu di Bukit Batu. Tulisannya tidak secara khusus membahas hantu sebagai objek tunggal, melainkan aspek simbolik dari bagaimana Gunungkidul begitu erat dikaitkan dengan kisah-kisah mistis yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Berbeda dengan Mbak Ida, Jevi telah tinggal di Gunungkidul sejak lahir, di Desa Keblak. Di situ, ia mendirikan komunitas bernama Klenik Club Studies untuk berbagi cerita tentang hal-hal yang bersifat spektral. Berbeda dengan Yogyakarta yang kerap dikenal dengan sikapnya yang progresif dan standar pendidikan yang tinggi, ia mengatakan bahwa banyak orang memandang Gunungkidul jauh tertinggal dalam segala aspek—termasuk pendidikan. 'Di desa saya,' kata Jevi, 'takhayul masih sangat mengakar. Bahkan sekarang, menjelang pemilihan kepala desa, banyak orang yang masih mendatangi dukun.'

Salah satu istilah yang Jevi gunakan untuk menjelaskan cerita-cerita supernatural adalah istilah Jawa bloko, yang berarti komunikasi yang lugas dan terus terang. Ia percaya bahwa orang Jawa—terutama di desanya—cenderung berkomunikasi dengan cara yang tidak bloko, yang pada akhirnya melahirkan berbagai makna dan tafsir yang beragam. Dalam konteks ini, cerita mistis menjadi medium untuk menyampaikan perintah, larangan, atau aturan sosial secara tidak langsung.

Di Gunungkidul, masyarakat setempat sangat merawat pohon-pohon besar, yang mereka sebut Resan. Pohon-pohon besar berakar kuat yang menyimpan air disebut Resan—berasal dari kata Jawa reksa, yang berarti 'penjaga'—karena pohon-pohon inilah yang menjaga mereka dari kekeringan di tanah mereka. Jevi mengenang bagaimana para sesepuh menciptakan kisah-kisah mistis tentang pohon Resan untuk melindunginya dari kerusakan. Meski cara komunikasi ini tidak bloko, hantu-hantu dipanggil untuk melindungi Gunungkidul dari kekeringan—ancaman yang jauh lebih mematikan daripada arwah gentayangan.

Namun kini, banyak pohon besar yang masih terus ditebang. Jalan-jalan juga terus dibangun, mengancam ekosistem dan habitat satwa di kawasan sekitarnya. Sebagian besar pembangunan ini ditujukan untuk mendorong industri pariwisata yang menggiurkan. Saat ini, sekitar 10.000 hektar lahan berada di bawah kendali para investor yang berharap mengembangkan Gunungkidul di bawah citra inisiatif 'Bali Baru' Indonesia. Ini berlanjut ke perampasan lahan dari komunitas lokal dan mengancam budaya dan lingkungan Gunungkidul. Menurut Mbak Ida, ini justru jauh lebih menakutkan daripada hantu.

Angka kemiskinan di Gunungkidul lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Yogyakarta. Meskipun kawasan ini merupakan tujuan wisata populer berkat keindahan alamnya, warga Gunungkidul sudah lama tertinggal dalam hal pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Namun, yang lebih mengkhawatirkan—bagi Ida maupun Jevi—adalah persepsi bahwa warga Gunungkidul terbelakang karena cara berpikir mereka yang dianggap kuno, serta kepercayaan merek aterhadap takhayul dan fenomena mistis.

Justru menurut Ida, kepercayaan-kepercayaan lokal itulah yang melindungi diri dan ekosistem mereka. Namun, ketidakberdayaan komunitas lokal untuk menolak campur tangan pihak-pihak yang meraup keuntungan dari tanah mereka inilah yang menghantui Gunungkidul dalam bentuk yang berbeda: yang lebih kuat dan tidak bisa diusir oleh ritual. Kini, ritual yang dulunya mempersatukan komunitas mulai dieksploitasi demi keuntungan, dan lanskap-lanskap sakral terancam dihancurkan.

'Tetangga saya percaya bahwa hantu itu benar-benar ada, bahwa kita hidup bersama mereka. Itulah kepercayaan mereka. Tapi bukan berarti kita menjadi takut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ini mengajarkan kita agar tidak semena-mena dalam memaknai sesuatu,' kata Mbak Ida.

'Ya, ada juga yang bilang ini hanya imajinasi, tidak realistis. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, dari sini, mereka—komunitas itu—menyadari bahwa mereka tidak hidup sendirian,' lanjut Mbak Ida.

Perayaan Rasulan oleh komunitas setempat / Khairani Fitri Kananda

Baik Mbak Ida maupun Jevi sama-sama berbagi cerita tentang Watu Manten, yang sudah umum dikenal di kalangan warga Gunungkidul. Watu Manten adalah sepasang batu kembar yang dipercaya sebagai penjelmaan sepasang pengantin baru yang sedang duduk di bawah pohon ketika disambar petir. Sejak tragedi itu, mereka menjadi penjaga tempat tersebut. Kepercayaan ini diperkuat oleh kabar bahwa setiap pasangan pengantin baru yang mengunjungi Watu Manten akan menghadapi masalah dalam pernikahan mereka.

Kisah Watu Manten menjadi terkenal ketika sebuah proyek pembangunan persimpangan jalan mengharuskan batu-batu itu dipindahkan dan pohon-pohon keramat ditebang. Komunitas setempat sebelumnya telah memperingatkan kontraktor agar tidak memindahkannya secara sembarangan demi menghindari bencana. Peringatan ini diabaikan. Alhasil proyek pemindahan batu itu tidak berjalan mulus: peralatan sering mengalami kerusakan dan banyak pekerja jatuh sakit sepanjang berjalannya proyek.

Ida menceritakan apa yang terjadi setelah mereka mencoba memindahkan batu-batu itu. Setelah banyaknya kesulitan, solusinya adalah meminta izin. Sang kontraktor memanggil ahli dari keraton untuk menggelar ritual memohon izin dari penjaga Watu Manten. Setelah itu, proses pemindahan pun akhirnya bisa dilaksanakan. Bagi Mbak Ida, gangguan-gangguan ini bukanlah peringatan ataupun sumber teror, melainkan sebuah bentuk perlindungan. Aturan-aturan yang ditegakkan melalui kisah-kisah ini bukan dimaksudkan untuk membatasi tindakan manusia, melainkan untuk mengatur hubungan kita dengan alam.

'Peran 'hantu' itu penting. Saya memandang hantu sebagai 'polisi pelindung alam’; mereka melindungi alam dan budaya. Dengan demikian, hantu-hantu ini bertugas mencegah desa ini berubah menjadi kota,' kata Ida.

Meskipun tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, hantu-hantu ini memang nyata adanya. Penjelasan ilmiah menjadi tidak terlalu penting dibanding pelajaran yang diajarkan oleh para arwah ini. Terlepas dari stigma yang melekat padanya—stigma yang sama yang pernah dihadapi Mbak Ida di masa mudanya—Gunungkidul kini menghadapi perubahan yang begitu cepat. Hantu-hantu ini mungkin adalah garis pertahanan terakhir melawan keserakahan manusia dan ancaman eksistensial berupa penghapusan budaya. Dan sebagai balasannya, orang-orang seperti Ida dan Jevi berusaha memberikan suara kepada arwah-arwah itu. Dan meskipun batu-batu telah diambil dari puncak bukit, hantu-hantu tetap ada.

Khairani Fitri Kananda adalah seorang lulusan antropologi yang terus menulis dan melakukan penelitian tentang budaya dan media. M. Cole Grady adalah lulusan antropologi dan jurnalisme yang saat ini memimpin Bukit Lawang Trust, sebuah pusat pendidikan masyarakat di Sumatera Utara.

Inside Indonesia 164: Apr-Jun 2026