Hantu dan modernitas di Indonesia
Suatu malam, di sebuah bar yang sepi, sekelompok teman yang baru bertemu bertanya kepada Emmelia apakah ia percaya hantu itu ada. Setelah beberapa kali mengunjungi Indonesia, ia ragu bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.
Keraguannya itu sebenarnya bukan soal hantu itu sendiri, tapi sesuatu yang lebih sulit diungkapkan. Di Indonesia, Emmelia mulai merasakan bahwa yang betah tinggal di dunia ini bukan hanya arwah orang yang telah pergi, tapi juga masa lalu itu sendiri—cara hidup yang lebih tua, ruang-ruang yang lebih tua, tatanan moral yang lebih tua—yang belum sepenuhnya tersisihkan oleh kehidupan modern.
Ini bukan gejala yang hanya ada di Indonesia. Namun di Indonesia, masa lalu itu kerap terasa lebih dekat ke permukaan. Modernitas belum berhasil menghapusnya. Ia hadirl dalam rupa-rupa baru—kadang sebagai nostalgia, kadang sebagai tradisi, kadang sebagai sesuatu yang menggelisahkan. Cerita hantu adalah salah satu cara orang berbicara tentang kehadiran itu.
Malam-malam di Yogyakarta
Emmelia berusia sembilan belas tahun ketika ia tinggal di sebuah asrama universitas di Yogyakarta, mengajar bahasa Inggris. Gedung itu tampak biasa saja pada siang hari. Tapi ketika malam tiba, suasananya berubah. Lorong panjang di lantai dasar menjadi redup dan sunyi—dan bukan sunyi yang terasa damai, melainkan yang terasa berat. Dalam redup dan sunyi itu, Emmelia mulai melihat kilasan-kilasan cahaya di sudut pandangnya. Pada awalnya, ia berpikir mungkin dirinya terlalu lelah, dan ia tidak bercerita kepada siapa pun.
Lalu orang-orang lain mulai berbicara.
Seorang pria bercerita tentang sosok perempuan berbaju putih yang muncul setiap kali ia mematikan lampu. Gambarannya cocok dengan kuntilanak. Seorang perempuan terbangun sambil menangis, menggedor pintu setelah bermimpi didatangi sesuatu yang terasa mengancam. Emmelia sendiri terbangun dalam keadaan tidak bisa bergerak, mendengar bisikan perempuan: ‘Apa kamu benar pikir kamu bisa melakukan ini tanpa aku?’
Akhirnya mereka bercerita kepada seorang rekan dari Indonesia. Ia tertawa—bukan karena meremehkan, tapi karena dia sudah tahu. Banyak orang percaya gedung itu dibangun di atas kuburan, katanya. Yang membuatnya heran bukan penampakan dan pengalaman dihantui itu sendiri, tapi bahwa ternyata orang asing pun bisa merasakannya.
Awalnya Emmelia mencoba mencari penjelasan: stres, sakit, lingkungan yang asing, disorientasi karena masih muda dan jauh dari rumah. Penjelasan-penjelasan itu masuk akal, namun tidak pernah benar-benar menenangkan diri. Ini bukan hanya tentang pengalaman itu sendiri, tapi tentang bagaimana cara berbicara tentang pengalaman tersebut. Di Indonesia, cerita-cerita semacam ini tidak perlu dibungkam. Ia bisa diakui, dibandingkan, dan dilebur ke dalam percakapan sehari-hari.
Ada sesuatu yang bergeser dalam diri Emmelia setelah itu. Ia tidak tiba-tiba percaya pada hantu, tapi keyakinannya berubah tentang bagaimana masa lalu adalah sesuatu yang aman terkurung pada tempatnya. Di Amerika Serikat, pengalaman-pengalaman ganjil cenderung dijelaskan melalui logika medis dan psikologi, atau diabaikan. Di Indonesia, pengalaman itu bisa dinarasikan sebagai bagian dari dunia tempat kita hidup bersama. Batas antara imajinasi dan kehadiran dalam dunia menjadi tidak jelas.
Ketika teman-teman dari Amerika kini bertanya apakah ia percaya hantu, Emmelia mendapati dirinya ragu dalam menjawab. Jawabannya bergantung pada di mana ia sedang berpijak. Di Amerika, ia cenderung skeptis. Di Indonesia, ia sering menjawab ya—bukan karena hantu terasa lebih nyata, tapi karena masa lalu terasa lebih hadir.
Pementasan ketakutan
Ron menjumpai sesuatu yang serupa di tempat yang sangat berbeda: wahana hantu di Bali dan Yogyakarta. Ruang-ruang yang sengaja dirancang untuk menakut-nakuti pengunjung. Namun apa yang ditampilkan di dalamnya justru mengungkapkan banyak hal di luar perhantuan.
Di Bali, sebuah wahana drive-through menampilkan sosok-sosok yang sudah akrab: kuntilanak berwajah pucat, pocong yang terbungkus kafan, dan Rangda, ratu penyihir dari Bali. Ada juga nenek-nenek yang berkeliaran mencari suami, mengaburkan batas antara cerita rakyat dan sindiran sosial. Reaksi para pengunjung bermacam-macam. Ada yang tertawa, ada yang benar-benar ketakutan. Seorang mahasiswa membaca doa Rosario dalam bahasa Spanyol. Yang lain terus mengulang mengatakan ‘sampai jumpa’, seolah-olah menggunakan bahasa bisa menjadi tameng.
Rasa takut dan rasa bercanda berbaur. Para aktor cenderung mendekati pengunjung yang menunjukkan ketakutan, meningkatkan pengalaman mereka. Wahana itu tidak sekadar menampilkan hantu; ia merupakan sebuah pementasan budaya yang familiar. Sosok-sosok hantu dalam wahana itu dikenal bukan hanya karena mengerikan, melainkan karena sudah mendarah daging dalam cerita sehari-hari.
Di Yogyakarta, dua wahana yang berdampingan mempertajam hal ini. Satu adalah museum horor dengan barang-barang antik yang berisi pajangan yang ditunjukkan dalam remang-remang. Di sebelahnya, sebuah rumah hantu dengan aktor. Keduanya bersandar kuat pada estetika ‘Jawa kuno’: barang antik berdebu, boneka usang, dan interior yang tampak meluruh. Pengunjung berjalan perlahan melalui lorong-lorong sempit, menyerempet benda-benda yang terasa tidak pada tempatnya di zaman sekarang.
Ini bukan semata representasi tentang kematian. Ini representasi tentang ketuaan. Benda-benda lama yang terlepas dari kehidupan sehari-hari menjadi menyeramkan. Masa lalu, ketika dipajang dalam bingkai modern, menjadi tampak asing. Ini bukan hanya kematian yang menghantui sebuah tempat—ketuaan itu sendiri bisa menghantui. Modernitas telah menciptakan bentuk-bentuk ketakutannya sendiri.
Bayangan kolonial
Kisah-kisah yang dibagikan oleh teman-teman Indonesia menunjuk ke arah yang sama. Rektor sebuah universitas Islam negeri bercerita tentang pengalamannya terbangun di sebuah hotel era kolonial di Bandung: di sisinya ada seorang perempuan yang anggun, dan di kaki ranjangnya berdiri seorang lelaki tua. Tamu-tamu lain juga pernah melihat sosok yang sama. Reaksinya bukan rasa takut, melainkan jengkel. Kalau mereka terus mengganggunya, katanya, ia akan minta untuk dipindahkan ke kamar lain.
Latar dan tempat di sini penting. Hotel-hotel kolonial bukanlah ruang yang netral dan tanpa arti. Mereka adalah pengingat secara fisik mengenai berbagai jaman lain. Pengingat yang jenuh dengan berbagai lapisan sejarah. Tamu datang mengharapkan kenyamanan dan keramahan, namun bangunannya menyimpan jejak dan hierarki kehidupan yang berbeda. Cerita-cerita hantu di tempat-tempat seperti ini terasa bukan seperti pertemuan dengan hal yang tak dikenal, melainkan pertemuan dengan apa yang masih ada dan belum benar-benar pergi.
Dalam kisah lain, seorang pekerja di sebuah rumah sakit bercerita tentang masa kecilnya dalam keluarga yang sangat ‘kolot’. Mereka menjalani ritual mandi bunga dan berbagai bentuk laku spiritual. Kakek mereka sering bermeditasi di mana rohnya bisa berkelana. Ketika sanak keluarga salah paham dan membawa tubuhnya ke rumah sakit, roh sang kakek tidak bisa kembali. Kini, kata mereka, roh sang kakek masih sering berkunjung. Anjing di rumah sering bereaksi terhadap sesuatu yang tidak terlihat. Keluarga sering meninggalkan rokok dan air untuk membuat roh ini betah.
Kisah-kisah ini bukan semata soal kepercayaan pada hantu. Mereka menunjuk pada kebersamaan antara berbagai lapisan temporalitas. Praktik-praktik yang mungkin dianggap takhayul di satu konteks tetap bermakna penting di konteks lain. Mereka tidak lenyap. Mereka bertahan, kadang diam-diam, berdampingan dengan institusi-institusi modern.
Bahkan program Kuliah Kerja Nyata telah melahirkan cerita hantunya sendiri. Para mahasiswa yang ditempatkan di desa-desa terpencil sering kembali membawa kisah-kisah ganjil: langkah kaki di luar rumah yang kosong, sosok yang terlihat di tepi sawah, suara-suara aneh di malam hari. Berbagai narasi ini telah diangkat oleh buku dan film. Cerita-cerita itu mencerminkan kecemasan tertentu: hasil pertemuan anak muda modern dengan tempat-tempat di mana cara hidup yang lama masih kuat bertahan.
Hidup bersama dengan yang masih ada
Bila dilihat secara keseluruhan, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa hantu di Indonesia bukan hanya soal hal-hal gaib. Mereka juga berbicara soal waktu. Mereka muncul di tempat-tempat di mana lapisan-lapisan temporal yang berbeda bertemu: kolonial dan pascakolonial, desa dan kota, tradisional dan modern.
Bagi Emmelia, berbagai kisah ini mengubah makna tentang apa artinya menjadi orang dari luar. Awalnya, pengalaman-pengalamannya tampak lebih menegaskan jarak antara dirinya dan Indonesia. Namun seiring waktu, ia mendapati diri menghuni ruang yang ambigu dengan orang-orang di sekitarnya. Menjawab ‘ya’ terhadap keberadaan hantu di Indonesia tidak selalu menjadi sebuah pernyataan harfiah. Itu bisa juga cara mengakui bahwa masa lalu masih aktif hidup dalam masa kini.
Ada risiko dalam pergeseran dalam pikiran Emmelia. Ia menuntut kita melepaskan asumsi bahwa modernitas telah dengan rapi menggantikan apa yang datang sebelumnya. Ia menuntut kita menerima bahwa berbagai cara memahami dunia bisa berdampingan tanpa harus benar-benar cocok. Namun yang kita dapat dalam cara berpikir ini adalah pengertian yang lebih dalam tentang bagaimana manusia hidup dalam kesinambungan sekaligus perubahan.
Bagi Ron, pertemuan-pertemuan ini memiliki resonansi dengan pola yang lebih lama yang diamatinya selama puluhan tahun penelitian. Modernitas di Indonesia jarang tampil sebagai masa kini yang bersih dari kehadiran masa lalu. Ia hadir sebagai negosiasi. Praktik-praktik, ruang-ruang, dan kepekaan yang lebih tua tidak begitu saja tergantikan. Mereka terus ditafsir ulang—kadang dengan nostalgia, kadang dengan ketidaknyamanan, dan kadang sebagai sesuatu yang terasa seperti sebuah kehadiran.
Hantu adalah salah satu cara berbicara tentang kehadiran itu.
Mungkin.
Maka ketika Emmelia ditanya apakah ia percaya hantu, jawabannya tetap hati-hati: ‘Aku tidak tahu. Tapi mungkin.’
Bukan kepercayaan sepenuhnya, tapi juga bukan penolakan. Ia mencerminkan kesadaran bahwa di Indonesia, masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu. Ia bertahan—dalam gedung-gedung, dalam laku keluarga, dalam cerita, dan dalam ruang-ruang kegelisahan yang muncul ketika cara-cara hidup yang berbeda melakukan pendekatan.
Dan kadang, ketika lapisan-lapisan itu muncul terlalu dekat satu sama lain, terasa seolah ada sesuatu yang lain muncul di sana.
Emmelia Helkins adalah mahasiswa pascasarjana antropologi medis di University of Florida, dengan pengalaman lapangan di Indonesia, Kenya, dan Zanzibar. Ronald A. Lukens-Bull adalah Profesor Antropologi dan Studi Agama di University of North Florida. Penelitiannya berfokus pada pendidikan Islam, praktik keagamaan sehari-hari, dan modernitas di Indonesia. Ia adalah penulis A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java dan Islamic Higher Education in Indonesia: Continuity and Conflict (2005), dan telah melakukan penelitian lapangan di Jawa, Sumatra, dan Bali selama lebih dari tiga dekade.









