Di antara dua dunia

/ Noandha Dhegaska

Perjumpaan dengan yang tak kasat mata di Bali

Read English version

Pada malam Kajang Kliwon, sebuah hari suci Bali ketika tirai antara dunia fisik dan dunia spiritual dipercaya menjadi sangat tipis, ibunda Pak Andri, Ibu Rum, mengalami sesuatu yang tidak bisa ia lupakan. Sekitar jam tengah malam, ia terbangun untuk ke kamar kecil ketika ia mendengar seekor anjing melolong tepat di luar rumah. Malam itu senyap, tiada angin, dan lolongan anjing tersebut menembus kesunyian tanpa henti. Meski sendirian, Ibu Rum tidak terlalu mencemaskannya. Ia ada di dalam, aman dalam rumah, dan anjing itu ada di luar. 

Keesokan paginya, ketika hendak ke pasar, ia melihat seekor anak sapi telah mati tergeletak tepat di tempat anjing itu melolong semalam. Tubuhnya tampak seperti telah dibedah. Usus anak sapi itu terburai di tanah. Meski ia tidak menyaksikan apa yang terjadi, Ibu Rum mencurigai ini adalah ulah leyak. Waktu dan lokasi kejadian, dan keterlibatan hewan-hewan, membuatnya ragu ini kalau ini dibilang kebetulan semata. 

Dalam budaya Bali, leyak sering digambarkan sebagai individu yang memiliki kekuatan spiritual dan mampu berubah wujud. Mereka dikaitkan dengan marabahaya tapi juga perlindungan, dan ini mencerminkan keyakinan yang ada tentang keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan: baik dan jahat, yang terlihat dan yang tak terlihat. Ketika penyakit atau kematian tidak bisa dijelaskan melalui sebab-sebab alamiah atau ilmiah, sebagian orang mungkin menisbatkannya kepada leyak atau kekuatan gaib lainnya. Dalam kasus-kasus seperti ini, seorang leyak bisa dipercaya telah menyerahkan jiwa orang lain kepada roh jahat, dan sebagai imbalannya ia mendapatkan kemampuan untuk menyebabkan penyakit, melakukan manipulasi atas benda-benda, atau meracuni orang lain. Tindakan-tindakan semacam itu kadang dipahami sebagai sesuatu yang didorong oleh rasa dendam pribadi.

Kejadian-kejadian seperti ini sering dilihat sebagai tanda ketidakseimbangan dan bukti adanya gangguan di dunia gaib. Untuk mengatasinya, orang mungkin mencari balian, penyembuh tradisional, yang bisa menyarankan perubahan pada lingkungan atau perilaku seseorang, atau memberi resep jamu. Masalahnya bisa bersumber dari sesajen yang terabaikan, roh yang tersinggung, atau pengaruh leyak. Mengatasi gangguan ini membutuhkan pengetahuan tentang hal-hal yang tak kasat mata.

Leyak are believed to have the ability to shape-shift and wield spiritual power/ Hasan

Entah itu ulah leyak atau bukan, pengalaman malam tersebut terus teringat oleh Ibu Rum dan memengaruhi cara ia membesarkan putranya, Pak Andri, mengajarinya untuk memandang hal-hal gaib sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan dan patut ditakuti. Bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah wawancara daring, Pak Andri berbagi pengalamannya sendiri. Suatu malam, ketika menginap di sebuah vila di Ubud dan menikmati makan dan minum bersama teman-temannya, ia berulang kali melihat sesuatu yang tampak seperti kain putih bergerak seolah sedang menari. Saat itu ia mengabaikannya. Namun keesokan paginya, ketika merenungkan kembali malam sebelumnya, ia mencoba mencari penjelasan. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa pasti itu seorang staf yang sedang membersihkan salah satu kamar. Tapi waktu itu sudah sekitar pukul sepuluh malam, dan Pak Andri bertanya-tanya mengapa sosok itu bergerak menuju hutan? Begitu menyadari hal itu, bulu kuduk Pak Andri berdiri.

Beberapa tahun kemudian, ia mengalami kejadian lain yang menggelisahkan. Larut malam, dengan lampu yang sudah dimatikan, ia mendengar suara dengkuran keras seekor babi hutan dari sekumpulan pohon di dekatnya.

'Suaranya keras sekali!' kenangnya, sambil menirukan bunyi itu.

Ia membeku. Perlahan, ia bergerak mendekati dinding, dan suara itu memudar. Namun ketika ia melangkah mundur, dengkuran itu kembali keras. Bertindak atas naluri, ia memetik sebatang ranting pohon kelor, yang dipercaya memiliki energi pelindung, dan menggenggamnya erat. Semak-semak bergetar, lalu segalanya sunyi.

/ wikimedia cc

Pengalaman-pengalaman gaib di Bali tidak selalu harus menakutkan. Ibu Vera, seorang teman Pak Andri, menggambarkan saat gempa bumi mengguncang di tengah sebuah upacara di pura. Orang-orang berhamburan melarikan diri, namun ia tetap diam di tempatnya, larut dalam doa, memohon agar lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Ketika orang-orang kembali ke pura, mereka bertanya mengapa ia tidak ikut berlari. Ia menjawab bahwa ia bahkan tidak merasakan gempa itu. Yang ia rasakan justru ketenangan yang sangat mendalam dan rasa terhubung secara spiritual. Ia malah memaknai saat itu sebagai tanda bahwa doa-doanya akan terkabul.

Keterjalinan antara kekuatan-kekuatan dunia fisik dan spiritual adalah sesuatu yang tidak sederhana dan tidak bisa dipahami dari satu sudut pandang saja. Namun ada rasa hormat yang dimiliki secara kolektif terhadap yang tak kasat mata. Kisah-kisah yang orang ceritakan, kadang dengan suara pelan, kadang dengan rasa enggan, mencerminkan pandangan dunia di mana hal-hal gaib dan spiritual tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan berkelindan erat di dalamnya. Yang gaib dipahami sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas antara yang terlihat dan yang tidak terlihat dan memiliki potensi untuk membawa perubahan, baik yang menguntungkan maupun yang membawa kehancuran. 

Christy Childs adalah mahasiswa senior di Washington and Lee University, mengambil jurusan Ilmu Kognitif dan Perilaku dengan mata kuliah minor Ilmu Data.

Inside Indonesia 164: Apr-Jun 2026