Hantu dan ketidakpastian di Ponorogo
Aku pertama kali bertemu dengan arwah-arwah di Ponorogo ketika sedang tidur. Satu malam yang terasa berat tanpa bisa aku jelaskan pada akhir September. Dalam mimpi itu, serombongan tentara berbaris menembus lanskap yang remang dan diselimuti kabut. Gerak mereka serempak, senapan tersandang rapi di pundak masing-masing. Namun ada yang tidak beres: sebagian dari mereka tidak berkepala. Meski begitu, mereka tetap melangkah, mantap dan tanpa ragu. Ketika aku tersentak bangun dengan jantung berdegup kencang, aku merasa mimpi itu bukan hanya milik diri sendiri—tapi sebuah mimpi yang muncul dari tempat di mana aku tinggal.
Ponorogo, sebuah kabupaten di Jawa Timur, tampak damai dari luar. Bukit-bukit yang bergelombang, sungai yang tenang, jalan-jalan bertepi pepohonan—semuanya memberi kesan sebuah kota kecil yang tenteram. Namun di balik permukaan itu tersimpan sejarah yang gagal terkuburkan oleh tanah. Pada tahun 1960-an, kawasan ini termasuk di antara banyak lokasi pembantaian massal dalam gelombang pembersihan anti-komunis. Banyak orang di sini masih berbisik tentang sungai, hutan, dan bukit yang pernah menjadi saksi kekerasan yang hingga kini masih menimbulkan rasa berkabung.
Kisah-kisah hantu tumbuh subur di sini. Mereka beredar dalam percakapan dan obrolan yang menjadi latar belakang cerita tentang tempat ini, dan tak pernah sirna. Diwariskan dari guru, dibisikkan oleh senior, terjalin erat dalam rasa keterikatan masyarakat terhadap tempat ini. Kisah-kisah itu bukan semata-mata tentang ruh; mereka juga berfungsi sebagai cara tidak langsung untuk membicarakan sejarah yang terlalu berat, terlalu berbahaya, atau terlalu tidak pasti untuk diungkapkan secara terbuka.
Bahkan para pengajar kadang menyinggungnya. Dalam sebuah diskusi tentang tradisi lokal di kelas, seorang dosen berhenti sejenak dan berkata dengan nada setengah bercanda: 'Di Ponorogo ini banyak tempat angker. Kadang bukan karena setannya, tapi karena ceritanya.' Sebuah komentar pendek yang terus bergema setelah kelas selesai.
Salah satu kisah pertama yang kudengar datang dari seorang senior di asramaku. Ia menunjuk santai ke arah sungai di belakang gedung asrama. 'Dulu, mayat-mayat PKI dibuang di situ.' Nada bicaranya lepas, seperti sedang berbicara tentang cuaca. Namun sejak saat itu, sungai itu berubah bagiku. Setiap kali aku berdiri di tepiannya, aku mendapati diri menatap air, bertanya apa yang mungkin tersembunyi di dasarnya.
Sungai itu menjadi, dalam bayanganku, penjaga kisah yang bisu. Bukan tempat yang dihantui sosok hantu berbaju putih, melainkan tempat di mana kenangan mengendap dan mengumpul. Perasaan ganjil yang bukan berasal dari hal-hal gaib, tapi dari jurang ketidaktahuan—tentang apa yang sesungguhnya terjadi, berapa banyak yang mati, dan siapa yang masih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakpastian itulah yang menjadi hantu.
Suasana serupa menyelimuti sebuah jalan berbukit yang membentang di antara Kabupaten Ponorogo dan Trenggalek. Jalan itu memotong lereng dengan rapi, menjadi sebuah jalur pintas antara dua kota tersebut. Namun warga setempat bercerita bahwa ketika jalan itu sedang dibangun, para pekerja menemukan tulang-tulang manusia yang tertanam di dalam tanah. Menurut cerita yang beredar, pekerjaan konstruksi sempat terhenti sementara ketika para pekerja mencoba memahami apa yang telah mereka temukan. Sebuah rahasia yang telah terkubur puluhan tahun.
Meskipun aku sendiri tidak pernah melihat tulang-tulang itu, kisahnya terus tinggal bersamaku. Melintas di jalan itu saat senja, aku kerap merasakan sesuatu yang berat di udara. Gema mesin motorku terdengar berbeda, seolah bukit itu mendengarkan, atau memiliki rongga-rongga di udara yang kasat mata. Tentu saja jalan tersebut masih terlihat sama, tapi cerita tentang masa lalu ini membuat jalan ini terasa berbeda.
Dan tentu ada berbagai kejadian tanggal 30 September.
Setiap tahun pada tanggal itu, kenangan tentang berbagai peristiwa 1965 membuat udara di Ponorogo terasa seperti bermuatan listrik. Di seluruh Indonesia, tanggal ini menyimpan makna politis, namun di sini, ia terasa sangat dekat. Orang-orang berbicara lebih pelan. Malam hari terasa lebih sunyi. Susah dijelaskan kecuali kamu ada di sana, tapi suasana terasa bergeser tanpa perlu ritual.
Pada salah satu malam itulah aku bermimpi tentang prajurit-prajurit tanpa kepala. Seragam mereka menyerupai gambar-gambar yang kerap ditampilkan dalam dokumenter dari jaman mereka. Tubuh-tubuh yang berdisiplin, senapan di bahu. Namun kepala yang hilang membuat mereka menjadi anonim. Mereka berbaris tanpa wajah, tanpa suara, tanpa pengakuan.
Ketika terbangun, mimpi itu tidak terasa sepenuhnya asing. Ia tampak tersusun dari serpihan-serpihan yang muncul di kehidupan sehari-hari di sana: dari sungai di belakang asrama, di jalan yang menembus bukit, dari kesunyian dan percakapan yang gelisah.
Tinggal di Ponorogo perlahan mengubah cara aku memahami cerita hantu. Jarang sekali orang bercerita tentang penampakan yang muncul jelas atau dramatis. Sebaliknya, perhantuan itu muncul bersama atmosfer keseharian.
Dalam bukunya 2008, Ghostly Matters, sosiolog Avery F. Gordon menggambarkan ‘haunting’ sebagai apa yang terjadi ketika kekerasan yang telah dikubur menolak untuk tetap terkubur. Haunting, menurutnya, adalah sebuah pengalaman sosial: sesuatu yang muncul ketika hal-hal penting diabaikan dan tidak terselesaikan. Di Ponorogo, para hantu bukan hanya arwah orang yang telah tiada; mereka adalah pengingat akan kisah-kisah yang tidak pernah sepenuhnya didengarkan. Mereka muncul dalam celah-celah antara apa yang dikatakan orang dan apa yang mereka hindari.
Cerita hantu di sini bukan sekadar hiburan atau takhayul. Mereka memiliki fungsi. Mereka memberi ruang bagi orang untuk berbicara secara tidak langsung tentang kekerasan 1965–66, tentang sanak saudara yang hilang, tentang ketakutan yang masih tersisa. Mereka membiarkan kenangan bertahan tanpa konfrontasi. Mereka menjaga sejarah tetap hidup tanpa harus melabrak kesunyian yang masih menyelimuti kehidupan sehari-hari.
Dengan cara inilah, perhantuan menjadi sebuah bentuk pengetahuan. Ia mengajarkan orang ke mana sebaiknya tidak berjalan seorang diri, sungai mana yang harus dilewati secara hormat, hari-hari apa yang terasa berbeda, dan bagian mana dari kisah keluarga yang lebih aman dibiarkan tidak selesai. Ia menciptakan sebuah peta tentang kebenaran emosional dan sejarah yang tidak bergantung pada catatan tertulis maupun narasi resmi.
Seiring waktu, aku berhenti mencoba memisahkan yang 'nyata' dari yang 'tidak nyata.' Sungai itu nyata, dan begitu pula cerita tentangnya. Jalan itu nyata, dan begitu pula tulang-tulang yang tidak pernah kulihat. Suasana tahunan 30 September itu ada, meskipun tak kasat mata. Dan prajurit-prajurit tanpa kepala itu nyata—bukan sebagai penampakan yang harfiah, melainkan sebagai ekspresi dari sebuah masa lalu yang belum sepenuhnya muncul ke permukaan.
Ketika aku mengenang Ponorogo sekarang, aku memikirkan bagaimana sejarah mendiami ruang-ruang keseharian. Dalam sungai yang mengalir tenang di belakang asrama. Di jalan-jalan yang membelah bukit yang hijau. Dalam percakapan yang mengalir di ruang-ruang kelas dan warung-warung pinggir jalan.
Para hantu ada di sana, namun mereka bukan ada untuk menakut-nakuti. Mereka ada karena sesuatu masih belum selesai. Mereka berbaris dalam mimpi, menetap dalam cerita, dan tinggal dengan diam di bawah permukaan sungai dan jalan—menunggu, barangkali, bukan untuk balas dendam, melainkan semata-mata untuk diakui keberadaannya.
Muhammad Afdillah adalah pengajar di Departemen Studi Perbandingan Agama, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Indonesia.









