Belajar membaca hantu

Pohon batu dan hantu-hantu / Kurniadi Widodo_Project Multatuli

Dialog tentang hantu, jurnalisme dan antropologi

Read English version

Tito Ambyo, di apartemen di tingkat tiga di Kensington, Melbourne. Atau Narrm - nama yang diberikan oleh orang Wurundjeri, yang sudah hidup lebih dari empat puluh ribu tahun di tempat ini sebelum orang Eropa datang dan membuka penjagalan untuk mendukung kehidupan di kota, mengotori sungai Maribyrnong dengan darah dan isi perut sapi, babi dan domba.

Titah AW, di rumah tingkat dua di bukit bibis, Bangunjiwo, Yogyakarta. Sekitar 200 tahun lalu, di tengah kobaran perang Jawa, Pangeran Diponegoro membangun markas rahasia di salah satu goa di kaki bukit ini. Bersama ratusan pasukannya, ia merencanakan strategi penyerangan terhadap penjajah Belanda. Kala itu, hutan-hutan di selatan Jawa ini masih menjadi rumah bagi harimau jawa, raja hutan yang kini dikenal lewat awetan, fosil, dan legenda.

Mereka menghidupkan monitor komputer dan terhubung melalui internet dan data, pixel per pixel, untuk bicara tentang hantu, jurnalisme, dan antropologi.

Pengetahuan yang dihantui

Tito: Jadi tema obrolan kita adalah: apakah jurnalisme perlu dihantui oleh antropologi, dan apakah antropologi perlu dihantui oleh jurnalisme? Atau mungkin dua-duanya perlu dihantui secara umum? Karena kita mau bicara tentang hantu bukan cuma sebagai topik, tapi juga hantu sebagai saksi, sebagai mitra dalam mencari pengetahuan, dan sebagai metode.

Tapi pertama, ini pertanyaan menarik untuk seorang Titah AW: ketika media mainstream meliput kepercayaan supernatural, framing-nya biasanya seperti apa? Dan apa yang dirimu lakukan yang agak berbeda?

Titah: Aku mulai terpantik menghubungkan hantu-hantu dengan jurnalisme dari pengamatanku waktu dapat tugas kuliah dulu. Saat itu tugasnya sederhana: beli koran setiap hari selama tujuh hari, amati isinya. Dan aku menemukan pola: di koran, selalu ada kolom kecil di halaman utama yang isinya cerita-cerita lucu sehari-hari. Cerita hantu masuk di situ, bersama pencopet, perselingkuhan, skandal. Hal-hal yang dianggap remeh.

Cerita hantu atau fenomena supranatural kalau nggak diberitakan sebagai sesuatu yang konyol, ya dipotret sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Media memotretnya seolah-olah sambil bertanya: kenapa kok hari gini masih ada orang yang percaya hal seperti ini? Padahal boleh dikata, sejak kecil hal-hal seperti itu jadi bagian dari realita yang aku alami. Dan waktu itu aku sudah familiar dengan cerita, misalnya soal setiap ada proyek pembangunan, apalagi yang memanipulasi lanskap secara besar-besaran, itu biasanya ada fenomena supranatural. Biasanya cerita ini memang nggak keluar di media atau laporan resmi, tapi dialami dan menyebar dari mulut ke mulut di antara warga sekitar, orang-orang yang tinggal di lanskap terdampak itu.

Dan apalagi rezim-rezim dua puluh tahun terakhir tuh hobi banget sama pembangunan infrastruktur. Misalnya 2022 lalu, proyek Jalan Jalur Lintas Selatan yang dilakukan seperti di Gunung Kidul itu hanya diberitakan dari sisi ekonominya, dari sisi investasi, narasi kemajuan.

Aku jadi melihat pola ini sebagai kemungkinan cara pandang alternatif, jangan-jangan fenomena ini lebih dari sekedar cerita hantu?

Nah, sebenarnya yang aku lakukan ketika aku nulis soal hantu-hantu di Gunung Kidul, aku seperti menyediakan pandangan lebih besar untuk melihat kasusnya secara lebih menyeluruh, lebih holistik gitu.

Pembangunan infrastruktur itu nggak cuma soal ekonomi doang loh, ada soal ekologinya. Kamu kalau bangun di situ itu ada ekosistem alam yang kemudian terganggu. Dan barangkali respon hantu-hantu ini adalah karena keseimbangan natural-kultural yang kemudian terganggu. Itu tuh menunjukkan sebuah lapis realitas dan pemetaan yang lebih komplit gitu loh daripada kalau beritanya tuh mengabaikan si hantu-hantu ini.

Tito: Ada gap yang besar ya, antara pengalaman sehari-hari kita dengan cara kita bercerita tentang hantu dalam media. Kita besar di Indonesia, yang artinya kita besar dengan hantu. Dan hantu-hantu ini sering bukan hanya yang seperti di film. Enggak ada jump scare, tapi banyak cerita menegangkan tapi juga sehari-hari. Motor mogok pas lewat jalan gelap, misalnya, penjelasannya langsung: ada hantu. Dan kita sering berbicara tentang ini dengan temen-temen. Tapi kenapa ada gap antara cerita sehari-hari kita tentang dunia dengan bagaimana kita sebagai wartawan bercerita tentang dunia?

Titah: Kayaknya ada hubungannya sama isu kelas juga deh. Profesi jurnalis berhubungan dengan intelektualitas: menulis, analisa, data, fakta. Kemampuan itu, umumnya kamu dapat kalau kamu berpendidikan. Dan di Indonesia, ketika kamu disebut berpendidikan, artinya kamu dihantui oleh sistem pendidikan kolonial yang serba rasional. Jadi topik hantu dianggap topik kelas bawah, tidak berpendidikan, tidak rasional. Sekarang pun, jurnalis yang spesifik meliput hantu di Indonesia hampir tidak ada.

Tito: Dulu ada majalah Misteri, dan dulu pernah beli Misteri aja di lapak majalah bekas, yang jualannya bilang: 'Wah, hanya Misteri, Mas? Biasanya orang kayak Mas ini beli Misteri dibarengin beli Tempo,' dia bilang sambil ketawa. Intinya sih dia bilang: orang yang tampilannya ‘berpendidikan’ beli Tempo biar kelihatan berkelas, tapi sebenernya pengen baca Misteri.

Titah: Itu tadi sih, karena sistem pendidikan kita masih dihantui sistem pendidikan kolonial. Ketika ada cerita hantu, mereka buru-buru membacanya sebagai logika mistika – sesuatu yang harus dihindari, tidak saintifik, dan karenanya ditinggalkan. Padahal menurutku, cerita hantu itu adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Mungkin ini menyingkap sesuatu soal dekolonisasi pengetahuan kita. Mungkin ini menyimpan pengetahuan leluhur, bentuk budaya pengetahuan lain, soal realitas yang lebih kaya yang selama ini sudah dimanfaatkan dan disingkirkan oleh kolonialisme. Kalau dalam sastra, jangan-jangan apa yang oleh genre barat dilabeli realisme magis, ya itu realisme aja buat kita?

Hantu sebagai saksi

Titah: Waktu liputan ebeg di Banyumas, aku berdiri di tengah lapangan, sadar sepenuhnya, sementara di sekelilingku orang-orang kesurupan. Dan aku jadi sadar: pertanyaan soal ini beneran ada atau nggak sudah tidak valid. Pengalaman ini sedang dialami secara kolektif, di hadapanku, dan aku tidak bisa mengaksesnya secara indrawi. Tapi keterbatasan indraku bukan berarti pesta antar dimensi ini tidak nyata.

Aku tanya dukunnya: 'Pak, di sini ada apa aja?' Dia bilang: 'Wah, kalau saja kamu bisa lihat, Mbak — ada harimau, ada monyet, ada ini, ada itu'.

Tito: Dan yang menarik dari liputanmu itu, waktu aku baca, aku enggak baca tentang kesurupan, tapi tentang anak-anak muda di Banyumas yang melakukan sesuatu yang sama dengan anak-anak muda di Melbourne yang ke nightclub. Mereka juga mencari altered states. Atau liminalitas.

Titah: Dan buat mereka, ini jadi persoalan urgent di kehidupan sosial mereka loh. Roh apa yang berhasil kamu dapatkan, seperti apa kamu kesurupan — itu menentukan posisimu di lingkaran sosial keesokan harinya di sekolah. Kemampuanmu dalam hal supranatural adalah nilai sosialmu.

Tapi sekarang aku sadar sesuatu yang waktu liputan belum kepikiran. Roh-roh yang merasuki mereka — harimau, monyet — itu hewan-hewan yang dulu ada dan hidup di situ. Sekarang kan Harimau Jawa sudah punah secara biologis. Tapi jangan-jangan dengan Danu (narasumber di artikel) kesurupan harimau tiap minggu, Danu sedang menjaga ingatan kolektif soal hutan purba yang dulu ada di Banyumas. Hantu-hantu itu adalah living memory dari sesuatu yang sudah tidak ada.

Tito: Itu yang menarik soal materialitas hantu di Indonesia. Hantu-hantu di Eropa tinggal di bangunan batu, kastil dan benteng, yang berumur ratusan tahun. Tapi bangunan di Indonesia kebanyakan dibangun dengan materi yang tidak sepermanen batu. Ditambah lagi berbagai kekerasan jaman kolonialisme dan post-kolonialisme sudah menghancurkan banyak yang tersisa. Nah tapi yang menarik, kalau di kota-kota seperti Bandung, misalnya, banyak hantu yang terkenal itu hantu Belanda karena rumah mereka yang dibuat dari batu masih ada.

Tapi tentu kita punya candi. Dan prasasti. Tapi hantu-hantu yang ada di candi bukan hantu sehari-hari. Jadi di mana rumah untuk hantu kita yang sehari-hari? Ada di hutan, di rumah tua Belanda, di tempat-tempat yang angker karena ada makna spiritualitas, tapi juga ada di pohon, kita undang merasuk ke tubuh kita, dan juga di jalan, jembatan dan terowongan. Jadi ini mungkin pertanyaan tentang ekologi dan lanskap apa yang tersedia untuk hantu kita untuk dijadikan tempat tinggal untuk mereka dan cerita-cerita mereka.

Di Bandung atau Jakarta, misalnya, ritme pembangunan yang sangat cepat tanpa perlindungan heritage membuat sulit untuk kita membayangkan kota-kota ini dulunya seperti apa. Tapi kita punya cerita. Termasuk cerita hantu yang jadi cara kita berhubungan dengan sejarah.

Di Jalan Cipaganti di Bandung, misalnya, ada hantu jawara tanpa kepala yang katanya dulu jagoan lokal yang punya ajian Pancasona. Nah dia masih gentayangan di situ, dan makanya kalau naik motor harus hati-hati di sana. Tapi selain biar aman ketika berkendara, kita juga bisa berkendara menembus waktu untuk mengingat, atau membayangkan — oh dulu di sini ada seorang pendekar yang melawan Belanda. Dan sampai sekarang jiwanya masih ada. Ceritanya mungkin tidak objektif, tapi sejarah jadi terasa.

Mungkin memang hantu itu sejarah buat orang yang tidak belajar sejarah. Walaupun ada juga yang namanya Om Hao, yang belajar sejarah tapi juga punya kemampuan retrokognisi. Aku denger dia pernah presentasi di Universitas Gajah Mada, tempat dia kuliah.

Pesta antar dimensi / Umarudin Wicaksono_VICE Indonesia

Titah: Dan bukan cuma sejarah manusia. Di Aceh, dalam riset Tales of Belonging di Leuser, aku menemukan bahwa komunitas di pinggir hutan punya peta tentang dunia yang tidak terlihat dalam hutan. Mereka tahu teritori masing-masing spesies, rute harimau, rute jelajah gajah, arus sungai, arah angin. Dan harimau di sana bukan sekadar hewan liar – dia adalah rimueng aulia, yang kadang muncul sebagai harimau, kadang sebagai manusia dengan kemampuan harimau. Dan sejauh pengalamanku di sana, kayaknya masyarakat tidak ambil pusing dan tidak membedakan mana harimau yang secara biologis, mana yang rimueng aulia, dua-duanya dianggap kerabat mereka.

Belonging mereka dengan lanskap Leuser dibangun melalui persahabatan dan negosiasi yang terus-menerus dengan hantu-hantu hutan. Tapi praktik konservasi negara — yang fortress conservation, yang membatasi manusia — tidak memungkinkan pemahaman akar rumput itu digunakan dengan baik. Peta yang dipunyai masyarakat jadi nggak terbaca sama sekali.

Tito: Dan pemetaan tidak pernah netral. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan akan punya peta yang berbeda untuk lahan gambut yang sama, karena satu mau konservasi dan satu mau menjual. Yang mereka lakukan bukan memetakan dunia. Mereka memetakan kepentingan masing-masing.

Titah: Dan kalau hantu-hantu di Gunung Kidul tidak ditulis dan dipetakan, kita tidak akan tahu ada situs keramat di sana. Kita tidak akan tahu ada pohon yang tidak mau ditebang karena warga sudah akrab dengan roh penunggunya. Masyarakat sudah kenal, sudah tahu namanya, sudah paham kebiasaannya. Hantu sebagai tetangga. Ketika pohonnya mau ditebang, hantunya tidak mau – dan itu adalah data. Data tentang ekosistem, tentang keseimbangan kultural, tentang apa yang hilang kalau pembangunan hanya diberitakan dari sisi investasi dan pertumbuhan ekonomi saja.

Menghantui sebagai metode

Tito: Gimana caranya kita sebagai jurnalis, antropolog, penulis, membangun kembali hubungan kita dengan hantu?

Titah: Mungkin yang pertama: terbuka secara pemikiran. Di lingkungan jurnalis yang aku tahu, masih banyak yang dihantui sistem pengetahuan Barat – ketika ada cerita hantu, mereka buru-buru membacanya sebagai sesuatu yang tidak saintifik, tidak relevan, tidak ada nilai beritanya, dan karenanya ditinggalkan. Padahal sebagai jurnalis kita harus menyediakan diri untuk mendengar kesaksian narasumber tanpa buru-buru menghakimi apakah itu benar atau tidak.

Dari perjalananku ke Aceh, ke Banyumas, ke Maluku, sampai Jayapura, entah gimana tapi aku selalu dapat cerita hantu yang detail dan deskriptif. Mungkin karena caraku bertanya membuat orang-orang ini merasa aman untuk cerita hal-hal itu ya. Dan dari apa yang aku dengar, tiap cerita hantu sebenarnya bercerita tentang sesuatu yang spesifik di tempat dan waktunya. Fenomena supranatural dan pengetahuan spiritual selalu terikat erat dengan lanskap. Ketika lanskapnya berubah, konteks berubah, maka ceritanya pun berubah.

[Melihat kembali titik dalam percakapan kami ini, kami menyadari ada lompatan — antara hutan-hutan Titah di Leuser dan gang-gang kota Tito di Melbourne. Dalam percakapan itu, kami berpindah di antara dua ruang ini seperti orang yang berjalan dari satu kamar ke kamar lain di rumah yang sudah familiar bagi kami, dalam gelap. Tapi mungkin ada baiknya kita menyorot lampu senter ke benang penghubung: bahwa kegagalan untuk mendengarkan pengetahuan perhantuan secara serius bukan masalah yang hanya ada di Indonesia atau Australia, tapi produk rasionalisme kolonial pada setiap lanskap pengetahuan yang ia sentuh. Ia menghapus pemetaan yang sudah ada di sana — peta manusia maupun makhluk-makhluk bukan manusia. Yang tersisa sekarang hanya hantu yang samar. Dan para jurnalis dan antropolog kini sekarang sedang belajar tentang bagaimana cara membaca hantu-hantu yang samar ini.]

Tito: Wartawan sering diajarkan: emosi tidak penting, harus objektif. Tapi kalau ngobrol dengan orang First Nations di Australia di tempat terjadinya pembunuhan leluhur mereka, kayaknya pemetaan kita sebagai jurnalis akan tidak lengkap kalau kita tidak mengakui bahwa emosi itu penting. Di Melbourne kita sering lihat ada ‘ghost bike’ — sepeda yang dicat putih di tempat kecelakaan orang naik sepeda. Dan ada juga She Matters memorial — mural di sebuah gang, Hosier Lane, dengan foto-foto perempuan yang jadi korban kekerasan. Ini masalah besar di Australia, dan kita perlu berbagai cara bercerita untuk kita terus mengingat. 

Titah: Dan hantu bukan hanya tentang sejarah dan luka. Aku pernah ngobrol tentang kuntilanak. Ini kan perempuan yang meninggal karena melahirkan. Seseorang bilang: “Maybe ghosts are proof that our love can go beyond time and space." Jadi selain trauma, ada juga cinta. Emosi yang melampaui dimensi.

Tito: Waktu SMP dan SMA di Bandung, kalau nongkrong, main gitar, makan, minum, sering akhirnya ke cerita hantu. Dan kadang-kadang berlanjut ke ritual. Kalau di folklore studies ini dibilang sebagai contoh ostension atau legend tripping. Jadi waktu itu misalnya kita ke bangunan sekolah tua untuk nyari hantu Noni Belanda. Atau ke Taman Maluku untuk nyari Hantu Pastor Tanpa Kepala. Atau, dulu ada papan reklame besar iklan shampoo yang katanya kalau kita ke sana jam 2 pagi, si model iklan berambut panjang yang ada di billboard ini berubah jadi kuntilanak. Ini sebenarnya penelitian sejarah melalui rasa dan cerita.

Titah: Sekolahku dulu hampir semua — TK, SD, SMP, SMA — adalah tempat berhantu. Dan semuanya bekas bangunan Belanda. Kalau dipikir-pikir, kegiatan ghostbusting kita dulu termasuk kegiatan historis otodidak nggak sih?

Tito: Kegiatan historis yang bermakna.

Penutup

Tito: Nanti, dari wawancara ini, kita bisa bikin transkripnya, kita pendekin, dan kita jadi hantu yang menghantui transkrip.

Dialog kita dengan versi kita yang sudah tiada.

Titah: Yang sudah menjadi hantu.

 

Titah AW adalah jurnalis dan penulis lepas yang kerap menulis cerita realisme magis dan ekologi, tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Tito Ambyo adalah antropolog media, wartawan, aktivis sosial dan dosen di RMIT University, Narrm, Australia.

Inside Indonesia 164: Apr-Jun 2026