Pembela Ibu Bumi

Read English version

Perempuan Indonesia memainkan peran khusus dalam aktivisme lingkungan. Edisi ini mengulas beberapa pejuang lingkungan yang membela Ibu Bumi. Berbekal pengetahuan adat yang holistik, mereka melawan penambang yang ingin menghancurkan alam demi keuntungan jangka pendek. Mereka tampil dalam buku baru Indonesia, Senjata kami adalah upacara adat, yang disunting oleh Siti Maimunah dan Noer Fauzi Rachman.

Rukka Sombolinggi membuka edisi ini dengan gambaran terang tentang betapa tangguhnya orang ini. 'Perempuan-perempuan adat dalam buku ini menunjukkan bahwa menyanyikan doa bukanlah bentuk kepasrahan, tapi deklarasi perlawanan', tulisnya.

Kami selanjutnya menyoroti tiga di antaranya dan mantra-mantranya.

  • Gunarti adalah pemimpin dalam gerakan Samin di Jawa Tengah – mungkin gerakan sosial paling tua di Indonesia. 'Mantra-mantra' yang ia sampaikan bagi mereka yang ingin digairahkannya menghembuskan nafas perlawanan nir-kekerasan, dengan cinta yang membara kepada Pegunungan Kendeng. Semboyannya: 'Bertani untuk melawan; berjuang adalah dengan cara bertani.' Ia melanjutkan: 'Saya menganggap Ibu Bumi adalah ibu saya, ibu yang menghidupi saya... [Tetapi] saya merasa belum sepenuhnya bisa membuat Ibu Bumi bahagia, tersenyum'.
  • Aleta Baun memimpin sebuah komunitas di wilayah Mollo, di Timor Barat, yang telah lama membela gunung mereka, bernama Nausus. 'Senjata kami adalah upacara adat', ia berkata, 'maka kami bersama leluhur melawan perusak Ibu Bumi.'
  • Jull Takaliuang memimpin perlawanan yang sukses terhadap tambang-tambang emas di Pulau Sangihe dan wilayahnya di Sulawesi Utara. Ini adalah tanggung-jawab besar. 'Ketika semesta sudah memilih kita menjadi penjaganya,' ia bertutur, 'maka kita sebagai manusia tak punya kuasa untuk menolaknya. Jadi, segala risiko, semua yang ada di diri kita, itu harus kita gunakan untuk menjaga alam'.

Sementara itu, Siti Maimunah menerangkan bagaimana ia belajar dari perempuan Mollo bahwa tubuh alam dan tubuh manusia terikat satu sama lain secara tak terpisahkan: 'Apabila kita merusak tubuh alam, kita merusak tubuh kita sendiri'. Riwayat aktivisme lingkungan dalam perjalanan hidup membawanya dari medan tambang batu bara di Kalimantan, lewat tambang nikel di Sulawesi, ke Jerman, di mana ia mengembangkan gagasan-gagasannya menjadi sebuah disertasi.

Mudah-mudahan Anda yang membaca edisi ini merasakan inspirasi yang sama seperti yang kami rasakan saat menyiapkannya.

Siti Maimunah dan Noer Fauzi Rachman (eds). Senjata kami adalah upacara adat: ungkapan pelambang dan mantra Nausus, perempuan pembela HAM-Lingkungan. Sleman, Yogyakarta: Mama Aleta Fund & Insist Press, 2025.

Siti Maimunah (mai.jebing@gmail.com) adalah direktur Mama Aleta Fund yang mendukung perempuan pembela HAM Lingkungan. Noer Fauzi Rachman (noerfauziberkeley@gmail.com) memimpin Pondok Cikedokan, sebuah pusat percakapan dan pembelajaran, terutama mengenai psikologi komunitas, studi agrarian, gerakan sosial di kabupaten Garut. Gerry van Klinken (gvanklinken@gmail.com) adalah anggota dewan redaksi majalah Inside Indonesia. Terjemahan cuplikan dari buku dikerjakan oleh Aloysia Yosephin Fibriana dan Le Ahn Nguyen Long sebagai language editor (di sini telah disunting secara ringan).

Inside Indonesia 163: Jan-Mar 2026