Gunarti: Mantra

Mother Earth has given, Mother Earth is wounded, Mother Earth will judge. The landslide at Mount Kapur is part of the punishment for damaging nature /Rina Kusuma @sketsarina

Tanah Air

 

Kendi itu kalau di tempat saya wadah air minum.

Wadah air minum itu terbuat dari tanah liat. Dulu saya sering mendengar kata-kata memperjuangkan tanah air.

Saya tidak tahu yang namanya tanah air itu di mana? Indonesia itu yang seperti apa?

Tetapi, saat-saat ada keterancaman lingkungan, saya baru sadar, ternyata tanah air iku yo ini, tanah yang berisi air dan ini miniatur alam dunia, alam seisinya atau alam semesta yang menjadi sumber kehidupan.

Jadi kita berjuang membela tanah air itu ya membela penghidupan kita sendiri.

The Motherland

*In Indonesian 'Motherland' means literally 'Land-Water'

Kendi (clay jug) is used for drinking water in my community.

The drinking water jug is crafted from clay.  I used to often hear the phrase ‘fighting for the motherland’.

I ask myself where my motherland truly is. What kind of Indonesia is this?

However, when faced with an environmental threat, I began to realise that my motherland is just this, a land abundant in water, a miniature of the whole world, the natural world, or the universe that provides the essence of life.

Thus, when we endeavour to defend our motherland, we are safeguarding our own livelihoods.

Semut

Saya melihat apa pun seperti semut, seperti lebah itu menjadi perlambang.

Apa pun itu bisa jadi melambangkan kita. Dari semut kita belajar bahwa mereka kenal atau tidak kenal ketemu, pasti berkabar, terus bercerita di sana ada makanan dan mengajaknya.

 

Ants

I perceive everything, from ants to bees, as symbolic.

Anything can serve as a representation of us. By observing ants, we understand that, whether they know each other or not, they communicate upon encountering each other, signalling the presence of food and encouraging others to partake.

 

Pemimpin Perempuan

Pemimpin perempuan adalah label yang diberikan ke saya, walaupun saya tidak merasakan seperti itu.

Apa yang saya lakukan selama ini semata-mata adalah, awalnya, karena saya sering dimintai dulur-dulur [saudara-saudara] yang kesusahan atau kerepotan dan kemudian terjadi keterancaman lingkungan seperti yang di Kendeng.

Seringkali saya mendapatkan telepon dari orang, minta didoakan anaknya yang di ICU, saya iyakan dan memberikan kekuatan.

Yang saya lakukan adalah merawat persaudaraan dan merawat alam.

***

Kita bergerak, kita berjuang, harus dengan senyum, tidak boleh dengan sedih, tidak boleh dengan marah.

Ketika kita menjalankan sesuatu, bergerak dengan hati, dengan tulus, itu ya ketemunya ora ketemu sedih, tapi ketemu dulur, ketemu teman yang bisa kita ajak untuk berbagi suka, berbagi duka.

The Female Leader

People have labelled me a 'Female Leader', but I don't view myself that way.

Allow me to clarify that the things I do were at first motivated by requests from my brothers and sisters who were encountering difficulties or inconveniences, and only then because there was a significant environmental threat in Kendeng.

People often telephone me, asking prayers for their children being treated in Intensive Care. I always respond positively and offer them strength.

My approach centres on caring for the community and the environment.

***

When we move, fight, we must do so with a smile, rather than with sadness or anger.

When we engage in any endeavour, let it be with heartfelt sincerity; in doing so, you will encounter not sad individuals but friends with whom you can share both joys and sorrows.

 

Padi

Padi sebagai lambang kehidupan.

Kalau dalam bahasa Jawa, filosofi itu seperti perlambang atau seperti yang simbah [kakek] saya katakan: “Sekahing rupo iso gawe tulodo waton bisa dapukno kemiripane,” yang artinya “dari sesuatu, tidak hanya wajah, bisa berbentuk apa pun, segala sesuatu bisa menjadi contoh asalkan bisa menemukan kemiripannya.” Contohnya, kita sebagai petani menanam padi, kenapa padi ditanam berbaris, tertata berjajar, dan berjarak dari depan hingga belakang? Hal itu sebenarnya melambangkan atau filosofinya untuk kehidupan manusia. Lambang padi mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia itu teratur; ketika padi sudah mulai tua dan menguning, itu seperti kita setelah beranjak dewasa, beranjak tua.

Kalau memang padi yang penuh dengan isi, yang tua penuh dengan ilmu, itu pasti tidak sombong. Lebih banyak diam dan menunduk ke bumi. Saya pernah buat satu tembang gambuh judulnya “Ilmu Padi” yang hanya bercerita tentang hal-hal tersebut; ternyata anak-anak sekarang sudah jauh untuk tahu bahwa tandur itu melambangkan manusianya. Manusia itu jangan mau kalah sama tandurannya yang bisa bijak seperti itu. Dan dia juga mengabdikan dirinya untuk kita, untuk menguatkan kita menjalani hidup ini.

Rice

Rice is a symbol of life.

In Javanese philosophy, the concept is encapsulated in a saying of the old people: 'Sekahing rupo iso gawe tulodo waton bisa dapukno kemiripane' – meaning that “anything, not just appearances, can serve as an example, provided we can discern the similarities.” Take farming as an illustration. We, as farmers, plant rice in rows, spaced evenly from front to back. Why? It represents the philosophy of human existence. The symbol of rice suggests that human life is structured. As the rice ripens and turns yellow, it ages; that’s like us maturing.

 

 

Just as the rice is full of substance, so the aged are full of knowledge, yet without arrogance. They tend to be more reserved and humbler, bowing down to the earth. I once composed a gambuh song titled The Knowledge of Rice (Ilmu Padi), which conveys these themes. I think young people today understand very well that planting (tandur) serves as a symbol for humanity. Humans should not be less wise than the plants in that regard. The plants selflessly dedicate themselves to us, nurturing and strengthening us throughout our lives.

Melawan

Apa yang saya lakukan bersama dulur-dulur memang jauh dari pikiran supaya mendapatkan apa pun, karena hal itu memang sudah menjadi kewajiban untuk menjaga lingkungan sekitar, karena itu adalah ruang hidup kami untuk kehidupan sekarang dan berikutnya.

Dan itu pun menjadi bagian dari kewajiban kami menjaga apa yang sudah kami nikmati selama berpuluh-puluh tahun.

Bertani untuk melawan, berjuang, adalah dengan cara bertani.

Tidak semua yang berjuang itu harus keluar (rumah). Urusan dapur, urusan perut itu kekuatan.

Sawah itu tidak akan melebar, ukurannya kalau satu hektar adalah sepuluh ribu meter.

Tetapi ketika tanah itu sudah dibagi ke anak dan cucunya, berarti tinggal sedikit.

Tapi fungsinya untuk tanaman ternyata masih terus mencukupi.

Berarti harus ada yang diubah dengan cara perawatan dan pengolahannya.

Resist

Whatever I do together with my brothers and sisters is far from the thought of getting something out of it, because this is simply our duty, to protect our environment, which serves as our habitat for both our present and future lives.

 

This commitment is part of our obligation to safeguard what we have cherished for decades.

To farm is to fight; to fight is to farm.

Not everyone who fights needs to venture outside (of the house). Matters concerning the kitchen and the stomach are sources of power.

The rice field cannot expand; a hectare measures ten thousand square metres.

However, as the land is divided among children and grandchildren, little will remain.

Nonetheless, its cropping function remains adequate.

This implies that a change is necessary in the way it is tended and cultivated.

Kekuatan Lima

Kebutuhan dasar manusia, semua manusia di seluruh dunia, ada lima, seperti Pancasila yang tertera di Undang-Undang Dasar.

Lima itu kekuatan. Apa itu?

Kabeh wong kui pada dasare butuh lemah, butuh tanah, butuh air, butuh sehat, wong punya uang segudang dua gudang tidak akan membuat bahagia kalau badannya sakit; tetap butuh makan, dan tidak mungkin mereka telanjang, pasti butuh sandang.

Makanya, sandang, pangan, papan, seger, waras, yo kudu nandur, kudu ngopeni, ikulah sing akhire nggawe urip tentrem lan ayem. Harus menanam, merawat, itulah yang akhirnya bikin hidup tenteram dan damai.

The Power of Five

Basic human needs are universal, and all people in the world share five fundamental requirements, akin to the five principles of Pancasila outlined in the constitution.

Five is power. What is it?

Everyone requires the earth, soil, water, and optimal health. Someone with a warehouse or two warehouses full of money will not be happy if their body is ill. They still need food, and they cannot possibly go naked, they need clothing.

Thus, clothing, food, shelter, health, and mental well-being must be nurtured and preserved. We have to plant, to care, because these after all are essential for achieving a peaceful and contented life.

Gunung

Gunung-gunung berkumpul dalam tubuh.

Batu itu bagaikan tulang-tulang.

Ketika tubuh kita, kalau di dalam gunung karst, satu lempengan batu ke lempengan yang lain itu pasti ada lem perekat, dan itu namanya fosfat; biasanya kalau penambang fosfat itu mengambil lem-lem dari batu itu dan tidak umur panjang lagi gunung itu pasti akan ambruk.

Itu artinya, di dalam tubuh kita, tulang-tulang kita ini, di persendian ini, ada perekat-perekatnya, kita membiarkan itu, melihat itu, dan tidak bertindak apa-apa, bisa dirasakan sampai umur berapa lagi, ya?

Dan jari saling menyangga, kita tidak akan kuat ketika satu jari saja ada yang terluka.

Ketika di gunung itu ada yang merusak, terasa tubuh ini ikut sakit.

Mungkin setelah pulang dari sini, bisa coba dirasakan bahwa ikatan kita sama alam ini seperti apa, walaupun di tempat yang sangat jauh, [bisa] sangat terasa.

***

Gunung ketok sakit pertandane koyo opo?

Gunung itu juga sakit, dan ketika sakit, pertandanya seperti apa? Ibarat kepala, rambutnya rontok, dan ketika orang yang sudah sakit rambutnya rontok, itu sudah sakit parah, pertanda bahaya di depan mata. Pepohonan sudah mulai tidak ada, saya melihat di sini rambutnya subur, pertanda sehat, walaupun saya juga sadar bahwa dari satu gunung ke gunung yang lain itu fungsinya berbeda, saya paham.

Mungkin karena saya ada di Kendeng, saya akan menceritakan soal Kendeng yang sekarang keadaannya seperti orang yang sakit parah.

Walaupun begitu, saya tetap yakin dan percaya bahwa di situ ada satu orang atau sepuluh sampai dua puluh.

Jika suatu saat ada kejadian Ibu Bumi mulai ngulet [meregangkan tubuh] terus terjadi sesuatu, saya masih yakin bahwa kita akan terselamatkan.

Kita harus jadi induk yang mempunyai telur untuk ditetaskan dan dibesarkan supaya bisa berkembang untuk menjadi manusia seperti ini.

***

Di dalam isi gunung itu seperti isi perut.

Ketika gunung itu dibongkar, ditambang, diobrak-abrik, seperti isi perut kita (jangan perut kita ya, jangan melambangkan kita).

Tetapi seperti perut yang sedang diodel-odel, ning endi kekuatane menungso?

Kekuatan manusia adalah di perut, di kampung tengah, kampung weteng.

 

Makanya itu [Jawa] terbagi menjadi tiga: Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah.

Jawa Timur itu kaki, Jawa Tengah itu perut, Jawa Barat itu kepala dan pusat pemikiran, pusat pemerintahan itu di Barat, Jawa Barat, di Jakarta.

 

Kepala bisa pusing, kaki bisa pegel linu, tetapi kalau perutnya masih terisi, kita masih bisa dan mampu untuk makan, bisa minum, maka masih punya harapan untuk kuat, untuk kesehatan, dan kita bisa meneruskan perjalanan.

Mountains

Mountains gather in the body.

The rocks are like bones.

When our body… when in a karst mountain, one rock plate glued to another requires a binding agent known as phosphate. If phosphate miners extract this glue from the rock, the mountain will not withstand this exploitation for long and will inevitably collapse.

In a similar way, within our body, our bones and joints contain a form of glue. We recognise its presence, yet we do nothing about it. Yes, we can feel it, but how long can we endure?

Fingers support one another; we are not strong if even one finger is injured.

If something harmful exists on the mountain, it feels as though this body experiences pain as well.

When we go home from here, we can attempt to perceive our connection with nature, even from a distant place, as it remains remarkably tangible.

***

The mountain appears to be unwell. What are the signs?

When a mountain is unwell, what are the indicators? Much like a head losing its hair, a sign of severe illness, the mountain shows symptoms that suggest danger ahead. The trees are starting to disappear, but I can see that the hair is still thick here, which is a sign of health. I recognise, however, that one mountain has a different function to another mountain.

As someone from Kendeng, I want to discuss Kendeng, which is currently in a state of severe distress.

 

Nevertheless, I remain confident and believe that there is still one person, or ten or even twenty.

If one day Mother Earth were to tremble and something were to occur, I remain convinced that we will be saved.

 

We must embody the nurturing mother who has eggs to hatch and raise so that they can grow into people like this.

***

The contents inside a mountain are like the contents of a stomach.

If the mountain is dismantled, mined, or disrupted, it is like the contents of our stomachs (not the stomach itself, that does not symbolise us).

But in the act of disrupting the stomach, where does human strength lie?

Human strength resides in the Stomach, within the Middle Village, in the Stomach Village.

This is why [Java] is divided into three parts: East Java, West Java, and Central Java.

East Java represents the feet, Central Java the stomach, West Java the head and the centre of thought. The centre of government is in the West, West Java, Jakarta.

The head may feel dizzy, the legs may ache, but as long as the stomach remains full, so long as we can eat and drink, we still possess the hope of being strong and healthy, and we can continue on our journey.

Ibu Bumi

Sadumuk bathuk sanyari bumi, Ibu Bumi bakal tak belani. Artinya, bakal itu akan, sebisa mungkin saya berusaha untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Karena saya menganggap Ibu Bumi adalah ibu saya, ibu yang menghidupi saya.

Karena ibu, ibuku adalah perantara aku ada di bumi.

Beliau juga tidak membuat saya ada, beliau hanya sakdermo, sekadar menjalani, melakukan hubungan suami istri, dan kebetulan dianugerahi seorang anak.

Jadi, ibunya ibuku, ibunya embahku, ibunya leluhurku, dan ibu kita semua adalah Ibu Bumi.

Makanya sadumuk bathuk itu ya apa pun akan saya lakukan demi Ibu Bumi.

***

Dan setidaknya saya sudah melakukan dengan cara ketika di Kendeng mengalami keterancaman dan mungkin sangat berbeda, karena kegigihan, persatuan yang bukan hanya saya sebagai Sedulur Sikep atau masyarakat, tetapi semua sedulur yang sama-sama akan terdampak.

Saat ini ada dua pabrik semen yang berencana dibuat di Pati, tapi urung, tidak sampai eksploitasi, walaupun mereka sudah mendapat izin pada waktu itu.

Kata-kata bakal adalah akan, tetapi sebenarnya sedikit sekali, sepucuk kuku ireng, saya berusaha untuk sudah melakukan bersama sedulur-sedulur.

Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi bakal ngadili. Ibu Bumi sudah disakiti, maka Ibu Bumi akan mengadili.

Dan itu pasti akan terjadi di mana pun.

Kita juga, saya sendiri mungkin.

Saya merasa belum sepenuhnya bisa membuat Ibu Bumi bahagia, tersenyum.

 

Ibaratnya ada beberapa anak, mungkin ada anak yang paling nakal, ada yang juga belum begitu membuat beliau bahagia.

Tetapi saya berusaha, bagaimana cara ibu saya tidak marah karena ulah saya, tidak membuat Ibu Bumi menjadi kecewa.

 

Sebab, kalau Ibu Bumi marah, itu yang terdampak bukan hanya saya, tetapi ke semua anaknya, artinya semua kehidupan.

Kalau Ibu Bumi, ibaratnya ibu sedang tidur, terus ngulet, gerak sedikit saja, tidak bisa dibayangkan dan pasti sudah tahu akibatnya.

Mother Earth

Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, Ibu Bumi bakal tak belani. (I will caress Mother Earth with all the power I have). “Bakal” is future tense, meaning I will do all I can to be a devoted child to my parents.

Because I view Mother Earth as my mother – the one who sustains me.

A mother, my mother, is the intermediary for my existence on earth.

She did not create me; she merely in passing, voluntarily, engaged in a husband-wife relation, and happened to be granted a child.

 

Thus, my mother’s mother, my grandmother’s mother, my ancestors’ mother, and all of our mothers can be seen as Mother Earth.

So, sadumuk bathuk, I will do everything for Mother Earth.

***

At least I did something when Kendeng was under threat, and maybe it was very different, because the tenacity and unity did not come only from myself or even from Sedulur Sikep or the community, but from all the affected brothers and sisters.

 

There are currently plans to construct two cement factories in Pati. But they have held back, are not exploiting, although they had their permits.

The word bakal means “will”, but I have done very little, just a fingernail; I always endeavoured together with my brothers and sisters.

Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi bakal ngadili. (Mother Earth has given, Mother Earth is wounded, Mother Earth will judge.)

It will definitely happen everywhere.

To us, too, maybe even to myself.

I feel I have not yet been able to make Mother Earth completely happy, make her smile.

It's like there are several children. Perhaps some are the naughtiest, while others have simply not yet brought her joy.

But I have tried, how to make sure mother is not angry because of my actions, how to not disappoint Mother Earth.

Because if she is upset, it will impact not only me but all her children, that is, all of life.

If Mother Earth is resting and then stirs even slightly, it is unimaginable and we surely know the result.

Dongeng

Saya menggunakan dongeng sebagai cara memahamkan perjuangan.

Pertama kali saya jalan ke desa-desa itu saya pernah bercerita tentang kalahnya gajah terhadap semut. Dan itu terjadi, saya pertama kali jalan bersama ibu-ibu berjalan ke satu desa yang desanya mau didirikan pabrik semen. Saya itu bercerita tentang gajah dengan semut dalam bahasa Jawa.

Gajah itu melambangkan kepala desa kalau di desa, semut itu kita, rakyat. Tapi kenapa kok bisa gajah kalah oleh semut? Ketika semut ada yang diinjak, ada yang jadi korban diinjak-injak gajah, semut-semut itu tidak patah semangat dan malah semakin kuat, menunggu celah di mana kelemahan si gajah. Ada yang masuk ke kuping, dll., dengan keterbatasan gajah, dia tidak mampu belalainya untuk mengusir semut yang masuk ke dalam kupingnya.

Fairy Tales

I use fairy tales to explain the struggle.

The first time I visited the villages, I shared a story about how the ants defeated the elephant. This occurred during my initial trip with the mothers to a village where a cement factory was slated to be built. I recounted the tale of the elephant and the ants in Javanese.

 

In this story, the elephant represents the village head, while the ants symbolise us, the people. But how could the ants defeat the elephant? When some ants are stepped on, trampled by the elephant, the ants remain unfazed. Instead, they grow stronger, biding their time for an opportunity to exploit the elephant's weaknesses. Some of them venture into the elephant's ear, etc. Due to its limitations, the elephant struggles to use its trunk to fend off the ants in its ear.

Batin dan Tubuh

Macapat itu ada dandanggula, pangkur, mijil, asmara-dana, pucung, gambuh, megatruh.

 

Ini merupakan bagian dasar untuk mengajarkan anak-anak; untuk merawat sebuah pohon, akarnya harus kuat menancap, sehat dan kuat, sehingga pohonnya bisa dipakai hidup, dan teduh.

Yang kita jalani juga. Saya tidak sekolah, tapi seiring berjalannya waktu mempelajari apa yang dilakukan ibu, ketika ada sedulur Kendeng dan Sedulur Sikep yang memang bisanya seperti ini, jadi terlihat dan saling melengkapi.

 

Di antara tubuh dan batin kita terlihat hubungannya dan perasaan yang memunculkan keberadaan orang lain.

Adanya Indonesia yang beraneka ragam bahasa, pulau, dan tata cara, tapi rukun antara lima itu, bersatu dengan UUD dan Pancasila.

Ketika salah satu sakit, maka tidak sekuat ketika bersatu.

Mind and Body

Mocopat is a form of Javanese poetry, conveying ancient wisdom. Its forms include dandang gulo, pangkur, mijil, asamarondono, pucung, gambung, and megatruh.

They are fundamental to teaching children; to care for a tree, the roots must be firmly planted, healthy, and strong to ensure the tree supports life and gives shade.

That’s what I experienced too. I never went to school, but over time I observed what my mother did, when the Kendeng community were there, and Sedulur Sikep, who were adept at doing this, creating a visible and complementary relationship.

Between our body and our mind there is a bond and a feeling that brings other people into existence.

The rich diversity of Indonesia with its languages, islands, and customs, is yet harmonious because of those Five, united in the Constitution and Pancasila.

If even one falls ill, it will not be as strong as when it is united.

 

Anak Muda

Wajibnya anak-anak muda menerima pitutur, setelah menerima pitutur itu harus diperiksa, apakah yang diucapkan orang tua ini sudah benar atau belum.

Orang tua mendidik anak, ketika marah itu bagian dari nuturi [memberi nasihat]. Tidak seharusnya semua yang dikatakan orang tua digugu [dianut] dan dicerna.

Kalau kita dikasih, pasti mengambil yang enak secukupnya, pasti kita akan memilih yang mana yang enak.

Dan anak muda punya tugas untuk meneliti keseharian orang tua, bagaimana dan apakah sudah sepatutnya, walaupun sebenarnya kita tidak boleh memandang siapa pun, karena yang kita serap adalah ucapannya.

***

Dulu anak-anak Sedulur Sikep kalau ke warung selalu diomelin atau dihina oleh mereka, dibilang anak bodoh, tidak sekolah, dan lainnya, sehingga mereka pulang, enggak jadi ke warung.

Kami membalas mereka yang membenci kami dengan memberikan bantuan pada mereka jika ada hajatan dll., lama-kelamaan mereka mulai berpikir, “kok anak-anak Sedulur Sikep lebih santun dari yang anak-anak kebanyakan.”

Sehingga ada usulan dari tetangga untuk mengumpulkan anak-anak Sedulur Sikep dengan anak-anak lainnya untuk membuat kegiatan bersama.

Youngsters

Young people must accept advice and check the wisdom of what they are told by their elders.

 

Parents educate children, and parents’ anger is part of that process. Children must think for themselves and not blindly follow what parents say.

If we are given advice, we will only take what we find useful and good.

Young people must examine their parents' daily lives to decide whether to follow them. We should not look at who gives advice because what we absorb is their advice.

 

***

In the past, when the children of Sedulur Sikep went to the shop, they were often scolded or insulted, labelled as stupid for not attending school and so on. They would come home without buying anything.

We respond to those who harbour animosity towards us by assisting them during celebrations and other activities. Over time, this prompted them to wonder, "Why are the children of Sedulur Sikep more polite than most children?"

Eventually our neighbours proposed that we bring the Sedulur Sikep children together with other children to do things together.

Alam

Bumi, ibu kami. Lesumu, lesu kami.

Apakah kita pernah melihat pertanda bahwa Ibu Bumi ini sedang lesu?

Pernahkah kita sebagai perempuan merasa lesu, bukan hanya sekedar rasa, bukan hanya sekedar pikiran, tetapi sampai tubuh. Karena dari rasa ke pikiran dan tubuh, dan ketika ke tubuh itu bisa dilihat, “Oh, Gunarti kae lagi lesu, sedina iki lagi males, turonan wae, tapi ora sakit, mung lesu. [Oh, Gunarti itu sedang tampak lesu, seharian ini lagi malas, tiduran saja, tapi tidak sakit, cuma lesu.]

Bagaimana melihat alam itu lesu?

Pohon-pohon di sekitar malas untuk berbuah, karena apa?

Dan kalau Ibu Bumi sudah lesu, ya semua ikut lesu.

Di dalam satu rumah, ketika seorang ibu itu lesu, tidak sakit parah, itu semua sudah bisa dibilang kacau, pekerjaan tidak selesai, anak tidak keurus, sawah juga tidak terurus.

Yang seharusnya jam 4 jam 3 bangun, memasak untuk dibawa ke sawah, tidak bisa dijalankan oleh seorang ibu, maka dalam satu rumah, ketika satu ibu jatuh sakit, sudah bisa dibilang semua di dalam rumah lapar dan lesu semua.

Tetapi karena seorang ibu juga, lesu itu seperti dihilangkan. Ketika ingat tanggung jawab “Aku ojo sampe lesu, menngko nek aku lesu, anakku piye? Bojoku piye? Kewanku kepiye? Wong kewanku kae tak openi, mosok kewan sing ta arepke lemu ora ta pakani ora ta ombeni?” [Jangan sampai aku lesu, kalau lesu, nanti anakku bagaimana? Suamiku bagaimana? Ternakku bagaimana? Hewan yang itu saja aku rawat, masak hewan ternak yang aku harapkan gemuk enggak aku kasih makan dan minum?] Itulah ibu, sakit sedikit-sedikit tidak dirasa.

***

Alamku sumber penguripanku [penghidupanku], kita semua butuh alam.

Apakah alam masih membutuhkan orang-orang yang belum tahu caranya untuk berbakti?

Dan lewat jembatan kita-kita inilah, untuk bagaimana memahamkan anak-anak dari ibu itu, supaya paham bagaimana caranya berbakti, bagaimana caranya matur nuwun setelah sekian lama dikasih kenikmatan tinggal menikmati tanpa bersusah payah.

Mereka belum sadar bahwa sakjane dasar-dasar kebutuhane wong urip iku opo to? [Sebenarnya dasar kebutuhan orang hidup itu apa sih?]

Kita belum menemukan kebutuhan dasar dari manusia hidup, semua manusia hidup itu butuh dasarnya apa.

Nature

Earth, our mother. Your weariness is our weariness.

Have we have observed signs that Mother Earth is weary?

Have we ever as women experienced weariness, not merely as a feeling, or a thought, but in the body. From feelings to the mind and the body, and when it manifests in the body, it can be observed. “Oh, Gunarti kae lagi lesu, sedino iki lagi males, turonan wae, tapi ora sakit, mung lesu. (Oh, Gunarti looks weary. She has been lying down all day, feeling lazy, but she is not unwell, she is just weary).”

How can we see if nature is weary?

Why are the trees reluctant to bear fruit?

If Mother Earth is weary, does that not mean everything is weary?

In a household, when a mother feels weary but is not seriously ill, chaos ensues: tasks remain unfinished, the children are neglected, and the rice fields are left untended.

If a mother fails to rise at four or even three o'clock in the morning to prepare food to take to the rice field, the entire household risks starvation and lethargy, because of one mother who falls ill.

But it is also part of being a mother that fatigue can be put away. When she remembers: “Aku ojo sampe lesu, menngko nek aku lesu, anakku piye? Bojoku piye? Kewanku kepiye? Wong kewanku kae tak openi, mosok kewan sing ta arepke lemu ora ta pakani ora ta ombeni? (I cannot be weary. If I am weary, what will happen to my child? My husband? My livestock? Surely this one animal I have to look after, that I hope will get fat, surely I can feed it and give it to drink?)” That’s a mother, she puts a little pain aside.

 

***

My nature is my livelihood; we all depend on nature.

Does nature still require people who lack filial piety?

It is our responsibility, as mothers who act as a bridge, to teach our children the importance of being filial and expressing gratitude after receiving so much joy without effort.

 

 

They still do not realise what human beings' fundamental needs really are.

 

We have yet to uncover the basic needs of living humans, the essential requirements shared by all living beings.

Inside Indonesia 163: Jan-Mar 2026