Aleta Baun: Mantra

/ Rina Kusuma @sketsarina

Upacara Adat

Senjata kami adalah upacara adat, maka kami bersama leluhur melawan perusak Ibu Bumi.

Ketika mengalami kesulitan, kami harus meminta pertolongan, tidak harus ke negara, karena negara mengizinkan tambang.

Kami melakukan ritual adat pada ritus-ritus adat di tempat kami. Itu senjata kami yang paling ampuh untuk melawan siapa saja yang merusak, baik masyarakat yang merusak alam, baik perusahaan, juga negara yang mengizinkan merusak alam.

Traditional Rituals

Traditional rituals are our weapon, so together with our ancestors we resist the destroyers of Mother Earth.

When faced with challenges, we seek support, although not necessarily from the state, as it allows mining operations.

We conduct traditional rituals in our customary places. They are our most powerful weapon against anyone destroying nature, whether the community, a company, or even the state that permits it.

Semut

Semut bisa memindahkan pupuk dari satu tempat ke tempat lain karena ada kerjasama.

Jadi, di masyarakat itu, bagaimana harus merangkul orang, jadi setiap orang menghadiri demo, setiap orang ditanyakan sudah makan belum dari rumah. Hal itu diajarkan kepada kami dari kecil, harus banyak memberi pada orang lain, tanpa mengharapkan balasan.

Terlepas orang itu kekurangan atau orang punya, tetap harus diberi makan. Hidup dalam kebersamaan, sehingga nanti ketika melakukan pekerjaan banyak yang bisa membantu.

Ants

Ants can move fertiliser from one location to another because of their cooperative nature.

In our community, we extend a warm welcome to all individuals, every time they attend a demonstration, and always ask them if they have eaten at home already. From a young age, we are taught the importance of giving to others without expecting anything in return.

Whether people are going short or have enough, they still have to be given food. By living together in solidarity, we can ensure that many people are available to assist with tasks later on.

Perempuan

Ruang kehidupan sebenarnya adalah mencari di mana kehidupan itu membutuhkan air, kehidupan itu adalah air. Kalau air ada di mana, pasti orang akan hidup di situ. Begitu juga perempuan, ketika dia hidup di mana pun, pasti ada kehidupan juga di situ, perempuan akan ada di mana, kepemimpinan juga akan ditemukan di tempat itu.

Women 

The essence of life lies in discovering where it requires water; indeed, life is synonymous with water. There is no doubt that if water is available, people will live there. It’s the same with women, wherever they live, life will be present; wherever the women are, leadership will be found there.

Kepemimpinan Perempuan

Kepemimpinan kita dan berkebun akan berjodoh, kenapa?

Perempuan akan berulangkali mengurus lahan, mengurus kebun, dan keduanya itu adalah jodoh kita.

Tidak mungkin kita tidak berjodoh dengan lahan dan kebun, karena kita sangat membutuhkan pangan dari lahan.

Female leadership

Our leadership and gardening form a harmonious partnership. Why?

Women consistently nurture the land, and the gardens, both of which are our partners.

It is impossible for us not to partner with the land and the gardens, because we really need food from the land.

Negara dan Masyarakat Adat

Kami menghargai dan menghormati leluhur kami, karena merekalah penjaga dan memelihara, melestarikan alam. Masyarakat adat tidak akan mengakui negara kalau negara merusak alam.

Karena kami adalah pecinta alam dan kehidupan kami tidak bisa dipisahkan dari alam.

Jadi, ketika negara merusak alam, maka kami juga tidak mengakui negara.

***

Kami mencintai alam, bukan perusak alam.

Hentikanlah segala pengerusakan alam.

Ketika mereka merusak alam,

kami mendesak agar dihentikan,

karena kami orang yang tinggal dekat dengan alam,

kami adalah pencinta alam.

Kalau kami perusak alam, berarti negara datang atau PT datang dan orang luar datang,

Mereka tidak melihat hutan yang ada, dan tidak melihat keindahan alam yang ada.

The State and Indigenous People

We hold our ancestors in high regard and respect them as guardians who maintain and preserve nature. Indigenous people will refuse to recognise the state if it continues to harm nature.

Because we love nature, and our lives cannot be separated from nature.

Therefore, when the state destroys nature, we, too, cannot acknowledge its authority.

***

We love nature; not the destroyers of nature.

Stop all destruction of nature.

If they destroy nature,

we demand that it ceases,

for we are people who live close to nature,

we are nature lovers.

Were we to be destroyers of nature, that would mean the state would come, or the corporation and people from outside,

They do not see the forest that is there, and overlook the beauty of nature that is there.

Melawan

Kami hanya jual apa yang kami bisa buat,

kami tidak jual apa yang tidak bisa kami buat.

Kami tidak bisa buat tanah,

kami tidak bisa buat air,

kami juga tidak bisa buat batu.

Kami tidak bisa jual hutan karena kami tidak bisa membuat hutan.

Kami hanya bisa jual apa yang kami bisa buat,

seperti pisang, kain tenun: Itu yang kami jual.

***

Leluhur mengatakan cacing itu tidak bangun untuk jalan, karena dia tidak punya sayap untuk terbang, tapi dia punya sejuta kaki yang ada di dadanya. Tapi dia bekerja kuat untuk melumpuhkan satu persoalan yang besar.

Jadi dia bisa membuat lubang di mana-mana.

Suatu saat gunung itu akan rubuh karena banyak lubang yang sudah dia bangun, banyak jaringan yang dia sudah bangun.

***

Melawan orang dalam rumah itu lebih berat daripada melawan musuh di luar.

Karena musuh tidak bisa membaca apa yang kita lakukan, tetapi kalau melawan orang di dalam rumah, karena dia tahu, jadi menggerogoti dari dalam.

Hal itu lebih keras, karena melawan diri sendiri lebih berat daripada melawan orang di luar.

The Fight

We only sell what we can make.

We do not sell what we cannot make.

We cannot make land.

We cannot make water.

We cannot make stone.

We cannot sell the forest because we cannot make a forest.

 We can only sell what we can make,

such as bananas, woven cloth: that is what we sell.

***

The ancestors said that the worm does not rise to walk, it lacks wings to fly, yet it possesses a million legs within its chest. It works diligently to overcome a big problem.

It can make holes everywhere.

One day, that mountain will collapse due to the numerous holes it has made and the many nets it has woven.

***

It is more difficult to confront people inside the house than to face an enemy outside.

The enemy is unaware of our actions, but when we engage with someone within our home, it gnaws away at us because that person understands our daily routine.

It is more challenging to battle oneself than to contend with someone from outside.

Membersihkan Diri 

Sebagai pejuang haruslah membersihkan diri, bukan membersihkan diri dari dosa saja, tapi dari turunan kita juga. Misal kita turunan yang keras, hal itu harus dilepas dengan mengorbankan hewan, tidak hanya berupa kata-kata, tapi jiwa orang, dulu jiwa dibunuh untuk persembahan.

Sekarang tidak boleh, karena jiwa tidak boleh dipertukarkan, dan ajaran agama tidak memperbolehkan membunuh orang. Kemudian kita ganti dengan hewan. Diganti darahnya dengan darah hewan, baru setelah itu kita akan tenang. Jika tidak, kita tidak akan tenang.

The Self-Cleaning

As fighters, we must purify ourselves not only from sin but also from our heritage. For instance, if we come from a lineage marked by violence, we must release that legacy through the sacrifice of animals. This is not merely a matter of words; the souls of individuals cannot be treated lightly. In the past, souls were sacrificed, but such practices are no longer permissible.

Souls cannot be exchanged, and religious teachings prohibit the killing of people. Therefore, we must substitute humans with animals. We must replace human blood with animal blood, and only then can we achieve peace. Otherwise, we will remain unsettled.

Leluhur

Leluhur mengajarkan kepada kami agar ketika masuk hutan harus menghormati pohon-pohon yang ada di hutan dengan berdiri dan bicara dengan pohon.

Yang dibicarakan: “Mohon pamit, boleh saya memiliki pohon ini untuk saya tebang nanti?”

Kalau diizinkan, itu bisa dilakukan.

Leluhur juga mengajarkan untuk belajar dari pohon yang kecil, belajar dari biji.

Ketika kecil harus mencintai tanah, setelah itu mencintai alam, kemudian membesarkan nama alam.

Ancestors

Our ancestors taught us that when we enter the forest, we should honour the trees by standing before them and speaking respectfully.

What is expressed is: “Please grant me permission to take this tree so that I may fell it later.”

If permission is granted, then it may be done.

The ancestors also taught us to learn from a small tree, to learn from the seed.

In your youth, you should cultivate a love for the land, followed by an appreciation for nature, and ultimately, a reverence for the essence of nature.

Air

Roh kehidupan kami adalah sumber air.

Maka, hentikanlah segala kegiatan yang merusak alam.

Tanpa ada alam, sumber mata air tidak ada.

Maka, jika sumber mata air tidak ada, manusia akan mengalami kematian.

Semua makhluk yang hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan, akan mati. Di mana pun manusia hidup, berarti memerlukan sumber mata air.

Sumber mata air menjadi roh penghidupan bagi makhluk-makhluk hidup di Bumi.

Water

Our life spirit is the water source.

So stop all activities that damage nature.

Water sources only exist in nature.

If there is no water source, humans will die.

All living creatures, including plants, will die. Humans need a source of water wherever they live.

Water sources are the source of life for living creatures on Earth.

Alam

Allah menciptakan Bumi untuk dijaga dan dipelihara, bukan untuk diperjualbelikan.

Allah menitip Bumi ini kepada manusia untuk dijaga dan dilindungi dan tidak boleh dijual.

Karena alam dilambangkan sebagai tubuh manusia, maka tidak boleh diperjualbelikan.

Ketika dia menjual alam, maka sama dengan dia menjual manusia.

Nature

God created the Earth to be safeguarded and nurtured, not to be commodified.

God placed the Earth in the care of humans to safeguard and nurture it, not to sell it.

After all, nature is often represented as the human body – we are intrinsically connected to it – we cannot commodify it.

To sell nature is to sell a part of humanity itself.

Agama dan Adat

Saya berjuang dan berhadapan dengan senjata tajam, karena saya orang yang melawan.

Ketika pendeta diundang dan akan berdoa sebelum membongkar kubur, lalu saya bilang, “Saya mau potong ayam untuk Bapak dan Mama dulu.”

“Bapak Pendeta tolong diam, nanti Bapak Pendeta tolong berdoa safaatnya.”

Muka kakak saya langsung masam. Saya meminta kakak saya tenang, karena agama itu berdiri di atas adat.

 

Religion and Custom

I fought and faced sharp weapons, because I am a rebellious person.

When the priest was invited and wanted to pray before digging the grave, I said, “I want to sacrifice a chicken for my Father and Mother first.”

“Priest, please be quiet. Later the priest will pray for their intercession.”

My brother's face immediately turned sour. I asked my brother to calm down, because religion stands on tradition.

Inside Indonesia 163: Jan-Mar 2026