Pendahuluan
Kesetiakawanan dan keberlanjutan: inilah tiang kembar sebuah visi ke depan yang semakin menarik perhatian. Ekososialisme mengawinkan motivasi ‘merah’ demi kerakyatan dengan yang 'hijau' demi alam. Carl Boggs, pemikir di Kalifornia, berkata: 'Satu-satunya pilihan manusia sebagai keseluruhan adalah sebuah revolusi ekologis global.'
Menurut The Routledge Handbook on Ecosocialism, ini bukanlah pertama-tama sebuah teori atau garis partai dari atas, melainkan 'konvergensi gerakan perlawanan dan anti-kapitalis dari bawah.' Di dalamnya terdapat 'beragam nilai dan pandangan, dari varian-varian Marxisme, feminisme, anarkisme, Indigenisme, dekolonisasi (pemerdekaan nasional).... dan filsafat agama, seperti teologi pembebasan, Buddhisme, dan Taoisme.'
Gerry van Klinken mengupas gagasan-gagasan ekososialis dari pemikir internasional seperti John Bellamy Foster dan Jason Moore. Masa depan dibayangkan bebas dari bahan bakar fosil, cukup digerakkan tenaga surya. Kehidupan bersama ditata ulang atas dasar kesetiakawanan, bukan laba.
David Efendi menguji tradisi Islam Muhammadiyah yang ia praktekkan, dan menyimpulkan: 'Panduan hidup ekososialisme tak berbeda dengan teologi lingkungan dan amal kebajikan dalam Islam yang saya pahami.' Teologi 'Al-Maun' umatnya ia kembangkan hingga juga merangkul alam: Al-Maun Hijau.
Inilah edisi terakhir. Kami menikmati perjalanannya! Buku Bacaan Bumi akan segera terbit dengan Yayasan Obor Indonesia. Para penulisnya akan hadir di berbagai kampus atara 16/11-15/12/2025 untuk peluncurannya.
Simaklah Bacaan Bumi edisi ini! Kirimlah tanggapan ke editor@insideindonesia.org.
Gerry van Klinken (Editor, Bacaan Bumi)