14b. Ekososialisme

Käthe Kollwitz, Biji tanam tak boleh digiling (1941)

Kesetiakawanan dan keberlanjutan

(S)atu-satunya pilihan manusia sebagai keseluruhan adalah sebuah revolusi ekologis global.

(Boggs 2012: xviii)

Gerry van Klinken

Kesetiakawanan. Keberlanjutan. Kedua kata itu, bagi banyak orang, mencirikan masa depan yang makmur dan bahagia, di mana krisis global dewasa ini telah berhasil diatasi. Di tengah banyak percobaan yang berbeda-beda, kedua kata ini menjadi tiang kembar bagi sebuah visi yang semakin jelas, dan yang semakin merangsang semangat generasi muda baik di Selatan maupun di Utara. Ada yang menyebutkan visi utopis ini 'peradaban ekologis', karena cakupannya memang jauh melampaui hanya sekedar kebijakan politik (dan karena tak ingin orang membayangkan Uni Soviet almarhum, yang sama-sama terobsesi pertumbuhan berdaya karbon dengan dunia Barat). Ada lain yang terus-terang menyebutnya 'eko-sosialisme', di mana 'eko' melambangkan keberlanjutan, dan 'sosialisme' kesetiakawanan. President Evo Morales menjalankan kebijakan yang ia sebut 'eko-sosialis' di Bolivia selama hampir 14 tahun.

Bab ini menelusuri ekososialisme sebagai gerakan politik dari bawah, di tengah dunia yang sedang mencari arah baru. Pertama, beberapa kata tentang istilah ekososialisme sendiri, yang baru muncul belakangan. Setelah itu, bab ini akan mengangkat dua pertanyaan kunci: Apa analisanya penganut ekososialis terhadap sistem ekonomis yang kini berlaku? Dan apa visinya di hati pegiat berbagai pergerakan eksosialis yang menuju masa depan lebih cerah? Tersirat dalam pertanyaan kedua adalah pertanyaan praktis: bagaimana rupanya peta jalan menuju ekososialisme yang dapat diharapkan dalam situasi global yang didominasi negara adidaya kapitalis ini? Bab ini kemudian ditutup dengan daftar bacaan lebih lanjut, dan saran untuk penelitian ke depan.

Istilah ekososialisme pertama muncul pada tahun 1980an, terkait nama filsuf Perancis André Gorz dan ekonom Amerika James O’Connor (Foster 2015). Mereka menyayangkan bahwa Karl Marx sepertinya memikirkan nasib buruh tetapi melupakan alam. Mereka lalu mengekstrapolasi pemikiran Marx ke arah ‘eko.’ Banyak pemikir lain melanjutkan usaha ini (termasuk Kohei Saito yang dibicarakan bab lain buku ini, yang antara lain membantah bahwa Marx masa bodoh soal alam). Tiga dasawarsa kemudian, menurut pemikir ekososialis terdepan John Bellamy Foster: 'Marxisme ekologis atau ekososialisme [merupakan] tantangan paling menyeluruh terhadap krisis struktural yang dewasa ini kita alami' (Foster 2017).

Sejarah pemikirannya relatif singkat, sehingga rumusannya tetap bersifat cair, terbuka, lincah – yang pasti: jauh dari kekakuan yang menimpa tradisi ideologis yang lebih tua. Satu-satunya hal yang ingin dipegang teguh adalah tak terpisahkannya kesetiakawanan dan keberlanjutan. Istilah ekososialisme tidak lain adalah singkatan bagi dwitunggalnya dua konsep kunci ini. Itulah yang membuat ekososialisme berbeda dengan ideologi yang mengutamakan keberlanjutan belaka, termasuk ekologisme panutan sejumlah Partai Hijau (yang dibicarakan bab lain buku ini). Keberlanjutan tanpa kesetiakawanan tertangkap juga dari pernyataan mereka yang ingin menyelamatkan kapitalisme dengan hanya menghilangkan bahan bakar fosil dari sistemnya. Dan tentu, ekososialisme berbeda dari sosialisme gaya lama yang sampai sekarang masih dianut banyak Partai Buruh, yang mengutamakan solidaritas antar-manusia tanpa banyak memikirkan alam.

Terakhir, ekososialisme berbeda dengan deep ecology, sebuah filsafat pribadi (yang juga dibicarakan bagian lain buku ini). Banyak aktivis ekososialis terinspirasi oleh deep ecology, tetapi mereka juga bergulat dengan kerangka-kerangka kemasyarakatan. Bagaimana caranya menggerakkan konstelasi politik, ekonomi, masyarakat, dan alam yang amat rumit dan saling terkait ini ke arah yang lebih positif? Demikianlah pertanyaan strategis kaum ekososialis. Akhirnya dunia hanya akan berubah kalau seluruh umat manusia sepakat untuk mengubah gaya hidupnya secara kolektif.

Namun, ekososialisme tidak ngotot memperjuangkan 'perbedaan'. Penganutnya mengimpikan kesetiakawanan yang mencakup seluruh umat manusia, bahkan seluruh alam, yang semuanya sedang kesakitan. Hal itu hanya akan tercapai lewat upaya membangun persekutuan dengan banyak aliran perjuangan yang berbeda-beda. Gagasan ekososialis bergema secara kuat di antara aktivis masyarakat adat yang sedang menuntut kembali tanahnya. Kalangan ekofeminis barangkali lebih banyak menyumbang pemikiran segar kepada dunia ekososialis dibanding siapapun lainnya. Terdapat banyak kesamaan antara ekososialisme dengan pergerakan keadilan iklim, dan dengan pergerakan degrowth (lihat bab lain buku ini).

The Routledge Handbook on Ecosocialism (Brownhill et al. 2021: 2-3) memberikan definisi yang ramah kerakyatan:

Bagi kami, ekososialisme bukanlah pertama-tama sebuah teori atau garis partai yang turun dari atas, melainkan konvergensi gerakan perlawanan dan anti-kapitalis dari bawah, beserta praktik dan kritiknya... [Di dalamnya terdapat] beragam nilai dan pandangan dari varian-varian Marxisme, feminisme, anarkisme, Indigenisme, dekolonisasi (pemerdekaan nasional), abolisionisme, sindikalisme, kooperativisme, spiritualisme, dan terkadang aspek-aspek dari aliran-aliran tertentu demokrasi sosial, statisme teknokratis, dan filsafat agama, seperti teologi pembebasan, Buddhisme, dan Taoisme.

Kemenangan sayap kanan di seantero dunia belakangan ini membuat jelas: ekososialisme bukanlah sebuah impian jangka pendek. Banyak orang terutama di dunia Utara sudah lama dikondisikan takut dengan istilah Sosialisme, dan bagi mereka eko-sosialisme sama sekali tidak bisa dipikirkan. Namun, bagi siapapun yang tidak takut menghadapi kenyataan secara tatap muka, dan yang masih mampu berimajinasi tentang hubungan manusia-alam yang lebih baik, maka tak ada lain yang memuaskan di luar semacam ekososialisme.

Analisa

Setiap pemaparan ekososialis memulai pembahasannya dengan kritik terhadap sistem yang kini berlaku. Sebelum menjadi bimbingan aktivisme menuju masa depan, ekososialisme merupakan diagnose atas masalah yang sedang kita hadapi. Kini kebanyakan orang mengerti bahwa krisis ekologis global adalah krisis buatan manusia. Ahli kimia atmosfir Paul Crutzen (2000) mengemukakan nama Antroposen (Anthropocene) bagi sebuah zaman geologis yang dimulai belum lama ini, karena ‘manusia’ (anthropos bahasa Yunaninya) telah mendominasi ciri-ciri khasnya seperti pencemaran dan lain-lain. Istilah Antroposen langsung melejit, dan saya sendiri juga sempat menggunakannya. Tetapi penganut ekososialisme bersikap kritis terhadap istilah Antroposen, sambil bertanya: Apakah benar yang tersirat dalam nama Antroposen, yaitu bahwa ada masalah dengan seluruh umat ‘manusia’? Kodratnya yang serakahkah barangkali? Aneh, sebab kodrat manusia dari dulu tidak banyak berubah, sedangkan Antroposen oleh Crutzer dikatakan baru berawal akhir abad ke-18. Bahkan sebuah panel ahli geologi berwibawa belakangan mengusulkan titik awal pertengahan abad ke-20.

Maka muncul nama lain, yang menyiratkan mekanisme pencetus zaman ini yang berbeda. Ahli ekologi Swedia bernama Andreas Malm menyarankan istilah Kapitalosen (Capitalocene), yaitu zaman bumi yang ditentukan oleh modal (Moore 2016a). Istilah itu belum sepopuler Antroposen, tetapi penganutnya yakin ia jauh lebih tepat. Bukan keserakahan manusia yang universal yang menyebabkan krisis iklim, melainkan sebuah sistem ekonomis yang relatif baru, yang dikembangkan di Eropa sejak beberapa ratus tahun terakhir ini, dan yang kemudian menyebar sayapnya ke seluruh penjuru bumi. Yang paling merusak ekologi di muka bumi adalah perusahaan-perusahaan raksasa yang kini menguasai roda ekonomi di seluruh dunia, dilindungi dan didukung oleh negara adidaya terutama Amerika Serikat. Mereka beroperasi sesuai dengan sejumlah aturan main yang umumnya disebut 'kapitalis'. Dari dulu aturan tersebut tidak hanya berdampak buruk terhadap lingkungan tetapi juga terhadap manusia seperti kaum buruh serta pekerja tak diakui. Untuk menyelesaikan krisis iklim, bukan kodrat manusia yang harus di-update melainkan pengaruh perusahaan raksasa itu harus dipatahkan.

Sejarawan Jason Moore (2016b) telah menggariskan bagaimana aturan main kapitalis pertama lahir di Eropa pada abad ke-16. Ia memulai argumennya dengan menggambarkan bagaimana kehidupan manusia berlangsung sebelum zaman kapitalis. Dalam kenyataan kosmik, di mana kita semua adalah bagiannya, maka kuasa, dan kehidupan, dan produksi, dan reproduksi, semuanya berkembang dalam ‘jaring kehidupan’ itu sendiri, dan tidak pernah lepas dari jaring kehidupan yaitu ekosistem di muka bumi. Kenyataan ini sampai sekarang masih dapat diamati di sebagian besar dunia Selatan. Pemikir feminis terdepan seperti Maria Mies dan Vandana Shiva (2014 [1993]) ingin supaya kita memandang masyarakat adat di Selatan sebagai teladan, bukan lagi kaum 'terbelakang.' Namun, di dalam masyarakat yang dominan di dunia ini, aturan main kapitalis justru memisahkan aktivitas tertentu dari jaring kehidupan. Mereka menciptakan wilayah ‘ekonomis’ tersendiri, yang otonom dan hanya menaati aturan ciptaan ekonom.

Dalam lingkaran kapitalis yang terisolasi dari alam itu, ada barang tertentu yang memiliki nilai tukar sehingga disebut 'komoditas' (seperti Coca Cola). Barang ini dapat diperdagangkan dengan menggunakan uang tunai. Dan ada barang lain yang masih alamiah, yang masih terletak di luar sistem sehingga dianggap 'hibah gratis dari alam' (seperti air di sungai yang dipakai untuk membuat Coca Cola). Dengan cara pikir yang sama, ada manusia tertentu yang dianggap 'buruh' yang bekerja dengan imbalan gaji (karyawan pabrik Coca Cola). Dan ada manusia lain, di luar sistem, yang dianggap tidak perlu digaji meskipun ia tetap bekerja (seperti misalnya ibu rumah tangga yang membesarkan anak hingga menjadi karyawan). Segala sesuatu yang bukan komoditas dan bukan karyawan dianggap 'murah' bahkan 'gratis', meskipun dalam kenyataan menjadi bagian berharga dari jaring kehidupan di tempat itu.

Secara historis, maka 'perempuan, alam, dan wilayah jajahan' semuanya dianggap 'murah' sehingga gampang diperas. Sejarah bertumbuhnya kapitalisme adalah sejarah komodifikasi orang dan barang yang terus meluas – pertama terbatas hanya di Eropa, lalu sampai ke benua Amerika, ke Asia, hingga ke seluruh dunia. Sejarah kapitalisme, dengan kata lain, adalah cara baru untuk menata alam. 'Pekerjaan' bukan lagi bagian dari jaring kehidupan yang serasi, tetapi menjadi sesuatu yang abstrak dan dihitung hanya dengan imbalan uang dari tangan kapitalis.

Sejumlah contoh dari sejarah komodifikasi a la Jason Moore itu dapat disebut di sini. Langkah pertama adalah ditetapkannya tanah sebagai ‘milik pribadi’ di Eropa Barat pada akhir abad ke-15. Akibatnya, banyak sekali petani kehilangan tanahnya, hingga mereka pindah ke kota yang baru, di mana mereka menjadi buruh yang digaji uang tunai. Proses yang sama diulangi di wilayah lain di dunia ketika orang Eropa mulai menjajahnya, hingga saat ini. Australia mengalaminya pada abad ke-19, ketika pendatang Eropa merampas tanah Aborigin. Negeri tetangga Indonesia tetap mengalaminya hingga sekarang. Konflik tentang tanah adat Indonesia yang dipicu oleh perusahaan kelapa sawit (Berenschot et al. In press [2025]) tidak berbeda dengan perampasan tanah di Eropa 500 tahun lalu.

Belanda menjadi raja sedunia pada abad ke-17 – sebelum Britania Raya ‘menguasai ombak.’ Belanda mulai merajalela ke laut setelah kehabisan sumber tenaga gambut di negeri sendiri. Sambil menyebarkan sayap ke Amerika dan Asia, mereka merombak lingkungan secara fundamental di banyak tempat. Segala sesuatu di ‘alam’ dianggap boleh diambil dengan harga murah – sebuah harga yang ia paksakan dengan menghalalkan segala cara. Misalnya pohon-pohon cengkeh dibabat di Pulau Banda setelah ia mendudukinya tahun 1621, karena dianggap ‘tidak sah’ menurut aturannya sendiri. Bukan hanya pohon yang dianggap pemberian gratis oleh alam – manusia juga. Orang yang ‘belum beradab’ dianggap bagian dari alam. Mereka boleh diculik dari Afrika untuk dijadikan komoditas hidup di perkebunan tebu di wilayah Karibia. Sebagian besar umat manusia dengan demikian ditempatkan di luar Masyarakat Beradab – termasuk seluruh pribumi yang hidup di luar Eropa, bahkan sebagian besar perempuan di Eropa sendiri. Semuanya dianggap sumber pekerjaan yang ‘gratis.’ Demikian juga batubara dan minyak bumi, yang mulai dimanfaatkan secara besar-besaran dari awal abad ke-19, dianggap sebagai sumber pekerjaan yang praktis tanpa onkos.

Sejarah komodifikasi hanya dapat berlangsung selama masih ada frontier yang belum dikomodifikasi. Frontier tersebut kini sudah tidak ada lagi. Maka, menurut Jason Moore, sejarah kapitalisme menemui titik kritis karena sudah hampir kehabisan orang dan barang yang belum dikomodifikasi. Cina lama sekali dianggap sebagai lautan nyaris tak terhingga besar berisi buruh pabrik yang murah, tetapi kini sebagian besar orang Cina sudah masuk kota dan menuntut gaji yang baik. Minyak bumi lama sekali dianggap sumber daya alam yang murah dan tak terhingga besar, tetapi sekarang hampir belum ada ladang minyak baru yang dapat ditemukan - tinggal sumber minyak dan gas yang mahal dieksploitasi seperti minyak serpih (shale oil) dan cadangan di laut dalam. Pertarungan ke depan demi barang sejenis dikhawatirkan bersifat semakin keras dan tidak berperikemanusiaan.

Masih ada analisa historis Kapitalosen lain, yang menekankan mekanisme di samping komodifikasi. Perumusnya merasa mekanisme ini lebih dekat dengan pemikiran Karl Marx: yaitu keuntungan, aka laba.

Komoditas dan laba tentu berhubungan. Marx memahami modal (kapital) sebagai sebuah proses yang mengaitkan satu dengan yang lain; '… transformasi terus-menerus dari modal-sebagai-uang menjadi modal-sebagai-komoditas, disusul dengan transformasi ulang modal-sebagai-komoditas menjadi modal-sebagai-uang-lebih-banyak-lagi' (Foster, Clark, and York 2010: 39). Maka perdagangan komoditas ditujukan kepada keuntungan, dan penghasilan keuntungan adalah 'hukum mutlak modus produksi ini,' tulis Marx. Secara sangat sederhana, namun sangat kejam, sistem kapitalis berlangsung selama keuntungan itu ada, dan mati ketika keuntungan tidak ada lagi. Dinamika yang kita saksikan dalam sejarah terus-menerus mengejar keuntungan, untuk selamanya, tanpa pernah berhenti dengan alasan apapun termasuk kiamat ekologis. Setiap usaha untuk menghentikannya akan dilawan dengan segala kekuatan yang ada padanya, yang kekuatan itu memang cukup fantastis karena didukung ototnya negara adidaya.

Banyak orang berharap krisis iklim akan dapat diatasi lewat penemuan teknologi baru. Namun, menurut analisa ekososialis, harapan itu merupakan bentuk optimisme yang keliru. Dan bukan hanya pemikir ekososialis yang berpendapat demikian. Donella Meadows dan kawan-kawan menulis dalam sebuah update bagi Batas-Batas Pertumbuhan (dikutip dalam (Foster, Clark, and York 2010: 44):

Apabila tujuan tersirat sebuah masyarakat adalah mengeksploitasi alam, memperkaya para elitnya, dan mengabaikan masa depan jangka panjang, maka masyarakat itu akan mengembangkan teknologi dan pasar yang menghancurkan lingkungan hidup, demi keuntungan jangka pendek. Singkat kata, masyarakat seperti itu mengembangkan teknologi yang justru mempercepat keruntuhan alih-alih mencegahnya.

Dorongan mencari keuntungan otomatis berimplikasi bahwa masa depan tidak memiliki nilai. Dalam hal ini, kapitalisme lebih merupakan ekonomi gelembung (bubble economy), yang menelan sumberdaya alam sambil mengalihkan onkosnya kepada bumi sendiri. ‘Hutang’ pada lingkungan hidup menumpuk terus dan tak pernah dilunasi. Itulah alasan mengapa ahli ekonomi cenderung mengabaikan baik kerusakan terhadap lingkungan maupun penderitaan bagi manusia. Mereka lebih peduli dengan laba swasta daripada masalah lebih besar seperti kesejahteraan manusia ataupun lingkungan. Di dunia mereka, pasar menguasai seluruhnya, termasuk alam. Ekonom konvensional terkenal Milton Friedman pernah berkata bahwa bagi dia lingkungan hidup bukanlah masalah besar (Foster, Clark, and York 2010: 92): 'Nilai-nilai ekologis dapat menemukan tempatnya secara alamiah di dalam pasar, tak beda dengan tuntutan konsumen yang lain.'

Sebaliknya, Evo Morales, presiden ekososialis dari Bolivia, pernah menyatakan hal berikut mengenai 'konsumen' tersebut (Foster, Clark, and York 2010: 115):

Persaingan dan kehausan akan laba tanpa batas dari sistem kapitalis sedang menghancurkan planet. Di bawah kapitalisme kita bukanlah manusia melainkan konsumen. Di bawah kapitalisme ibu bumi tidak ada, yang ada adalah sumberdaya alam… [Tetapi] bumi itu jauh lebih penting daripada bursa efek di Wall Street.

Dinamika kapitalis untuk selalu meningkatkan keuntungan tanpa melihat onkosnya pada sistem di luar pasar menciptakan retakan antara metabolisme masyarakat manusiawi dengan metabolisme alam yang lebih luas. Istilah metabolisme (dijelaskan lebih jauh dalam bab mengenai ekonomi ekologis) mencakup pertukaran materi seperti oksigen, air, gizi dan air buangan yang terus-menerus keluar-masuk sebuah organisme. Kehidupan tidak mungkin berlangsung tanpa metabolisme. Apabila putaran materi secara metabolik diganggu, kehidupan akan terganggu. Metabolisme menghidupi setiap insan secara perorangan, dan juga setiap masyarakat manusiawi, singkatnya, setiap ekosistem kecil maupun besar.

Di dalam alam, tidak ada 'limbah' metabolik. Yang dikeluarkan makhluk yang satu, dimakan makhluk lain. Hanya kapitalisme yang menghasilkan limbah yang tak dapat dicernakan makhluk hidup lain. Kapitalisme mengganggu metabolisme alamiah, dan ini akan mengganggu seluruh kehidupan. Kapitalisme telah membangun sebuah sistem ekonomis yang (katanya) terpisah, yang ‘memakan’ jauh lebih banyak sumberdaya dibanding apa yang dapat disediakan oleh bumi, dan yang ‘mengeluarkan’ jauh lebih banyak limbah daripada apa yang dapat diresap oleh bumi. Dan semuanya itu ia lakukan di tempat yang salah. Yang lebih buruk lagi: apabila sudah retak, kerusakannya tidak bisa diperbaiki lagi melalui sistem kapitalis.

Karl Marx saja sudah melihatnya, dan sejak saat itu retakan tersebut melebar menjadi jurang. Mula-mula retakan itu terlihat di dunia pertanian, di mana hasil bumi diperdagangkan pada jarak jauh tanpa mengembalikan materi organiknya ke tanah asal. Ini disebabkan karena manusia telah pindah ke kota secara besar-besaran. Akibatnya, tanah membutuhkan semakin banyak pupuk buatan pabrik. Transportasi pangan dan serat organik ke seluruh penjuru bumi melanggar syarat-syarat keberlanjutan secara sistematis dan mendalam. Karl Marx (Foster, Clark, and York 2010: 356) sudah mencatat satu setengah abad yang lalu bahwa ‘hasrat buta akan keuntungan… telah melelahkan tanah’ di Inggeris, hingga tanah perlu dipupuk dengan guano yang di-impor dari Peru. Pertanian industrial yang kapitalis telah merubah putaran unsur gizi secara fundamental hingga tidak lagi ‘swasembada,’ karena ‘tidak lagi mendapatkan syarat-syarat alamiah bagi produksinya di dalam alam sendiri, di mana kekuatan alamiah itu lahir secara natural, secara spontan, dan siap pakai.’

Di bawah kapitalisme, tidak ada lagi hubungan yang positif antara metabolisme masyarakat dan metabolisme alam. Pencarian akan keuntungan jangka pendek menentukan laju kapitalisme. Modal tak dapat beroperasi apabila ia harus mengeluarkan biaya untuk mempertahankan kesehatan alam (Foster, Clark, and York 2010: 137). Ekonom Marxis Amerika bernama Paul Sweezy pernah menjelaskannya demikian (Foster, Clark, and York 2010: 157):

Tersirat di dalam konsep sistem ini sendiri adalah [dua] dorongan yang saling terkait dan amat kuat, yang satu menuju kepada penciptaan, yang lain kepada penghancuran. Di pihak plus, dorongan kreatif berhubungan dengan apa saja yang dapat diperoleh bagi manusia dari alam untuk memenuhi kebutuhan sendiri; di pihak minus, dorongan destruktif terlihat paling kentara dalam kemampuan alam [yang tidak mencukupi] untuk menanggapi tuntutan yang diarahkan kepadanya. Cepat atau lambat, tentu saja, kedua dorongan ini bersifat bertentangan dan tak cocok satu dengan yang lain.

Pada kesempatan lain Paul Sweezy melanjutkan pemikiran yang sama (Foster, Clark, and York 2010: 202):

Adalah obsesi dengan penumpukan modal ini yang membedakan kapitalisme dari sistem sederhana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia ([padahal] teori ekonomi mainstream biasanya mencirikan kapitalisme sebagai sistem sesederhana itu). Sebuah sistem yang tergerak oleh penumpukan modal adalah sistem yang tak pernah berhenti, yang selalu berubah, yang selalu membuang metode lama demi metode baru di bidang produksi dan distribusi, selalu membuka wilayah baru, sambil menaklukkan masyarakat yang terlalu lemah untuk membela diri. Terperangkap oleh proses yang tak henti-henti mengejar pembaruan dan perluasan, sistem ini secara kasar membuldozer banyak pihak termasuk penerima manfaatnya sendiri apabila mereka menghalanginya atau apabila mereka gagal melaksanakan tugasnya. Sejauh menyangkut lingkungan alam, kapitalisme menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang perlu dihargai dan dinikmati, melainkan sebagai cara untuk mencapai tujuan yang paling tinggi yaitu mencari keuntungan dan menambah lagi penumpukan modal.

Sejarah kapitalisme berlumuran darah. Australia membantai penduduk aslinya pada pertengahan abad ke-19 dalam apa yang disebut Perang Frontier. Rezim militer Indonesia menjalankan kekerasan genosidal terhadap bangsanya sendiri pada pertengahan tahun 1960an. Dua-duanya langsung dapat dikaitkan dengan kebutuhan sistem kapitalis untuk secara terus-menerus mencari ladang dan manusia baru yang belum tereksploitasi. Kekerasan struktural yang sama, secara tak terpisah, juga menimpa alam, dengan segala persoalan polusi, kehilangan biodiversitas, dan kerusakan hutan, sungai dan laut yang telah dicatat selama abad ke-20 sebagai akibatnya. 'Kapitalisme harus dienyahkan' (Capitalism has to go) adalah kesimpulan yang mencolok dalam buku pegangan baru mengenai eksososialisme (Brownhill et al. 2021: 2).

Visi dan pergerakan

Keberlanjutan, dan kesetiakawanan – dua istilah kunci. Bagaimanakah pemikiran kaum ekososialis tentang keberlanjutan? Prioritas utama adalah meniadakan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Batubara, minyak dan gas bumi merupakan stok sumberdaya dari masa lampau. Sekali habis, habislah. Dan titik habis itu kini sudah dekat. Dan membakar seluruh stok tersebut dalam waktu singkat telah mulai merusak iklim bumi, juga untuk selamanya. Sebagian besar kota-kota peradaban manusia akan tenggelam. Maka ‘kapitalisme fosil’ kita (Malm 2016) tidak hanya menuntuk subsidi dari masa lampau bumi (dengan menghabisi akumulasi hidrokarbon jutaan tahun dalam waktu hanya dua abad) tetapi juga menuntut subsidi dari makhluk-makhluk hidup di masa depan yang belum lahir (dengan meminta mereka menanggung selama puluhan ribu tahun akibat buruk dari pemborosan kami).

Extinction Rebellion (XR) merupakan salah satu dari sejumlah pergerakan populer di belahan Utara yang membela seluruh kehidupan, manusiawi maupun non-manusiawi, kini dan di masa depan, dengan cara melawan industri ekstraktivisme bahan bakar fosil. Di belahan bumi Selatan, protes terhadap proyek-proyek pembangunan yang digerakkan oleh bahan bakar fosil kini dapat dilihat sebagai bagian dari pergerakan eksososialis demi sebuah umat manusia yang tak lagi berperangan dengan alam. Protes sejenis selama dua abad terakhir ini juga terdengar dari manusia yang diperbudak atau dirampas pekerjaannya karena bahan bakar fosil. Satu saja barel minyak bumi mengandung energi yang sama dengan pekerjaan yang dapat dihasilkan 14 orang manusia selama setahun! Pergerakan tani Amerika Latin bernama La Via Campesina telah tumbuh menjadi organisasi internasional yang mendukung pertanian ekologis, tanpa menggunakan puput berbahan hidrokarbon fosil dan tanpa menggunakan mesin diesel. Naomi Klein menamakan aksi-aksi semacam ini ‘Blockadia,’ sambil menerangkan (2015: 31):

Ekonomi kita sedang berperang dengan berbagai bentuk kehidupan di bumi, termasuk kehidupan manusia. Apa yang dibutuhkan iklim untuk menghindari keruntuhan adalah pengurangan penggunaan sumber daya oleh manusia; apa yang dibutuhkan model ekonomi kita untuk menghindari keruntuhan adalah ekspansi tanpa batas. Hanya satu dari serangkaian aturan ini yang dapat diubah, dan itu bukan hukum alam.

Bahan bakar fosil memiliki daya dorong yang fantastis, yang terus memperluas cengkeraman kapitalisme di dunia. Modus produksi dan modus transportasi telah menghancurkan tatanan waktu dan ruang yang alamiah. Di mana dulu sebuah pabrik kecil ditempatkan dekat dengan sungai yang airnya dipakai untuk menggerakkan roda-rodanya, batubara memungkinkan pabrik yang sama dapat ditempatkan di mana saja, dan dibuat sebesar maunya sang kapitalis. Di mana dulu bahan makanan pokok seperti beras dimakan dekat dengan ladang yang menghasilkannya, kini kapal besar mengangkut segala sesuatu, dari beras sampai botol air minum, sampai ke benua lain di seberang samudera. Di mana dulu orang tidak jauh bepergian karena butuh waktu yang lama, kini hampir setiap orang dapat membeli tiket pesawat yang akan membawanya ke manapun diinginkan untuk sekedar dolan.

Sebuah dunia tanpa bahan bakar fosil, yang digerakkan hanya oleh aliran tenaga surya, akan memulihkan logika waktu dan ruang yang alamiah itu. Pemikir ekososialis Jerman Elmar Altvater (2007) pernah menulis:

Dasar sosial untuk sebuah masyarakat yang mengandalkan tenaga terbarukan sedang menyebar. Dasar itu harus bersifat lebih radikal daripada apapun yang selama ini dicita-citakan (apalagi tercapai) oleh revolusi-revolusi sosialis pada abad ke-20.

Kehidupan sehari-hari akan kembali ke skala lebih lokal, lebih sosial, lebih mesra. Orang akan kembali berhubungan dengan alam dan tetangga di sekeliling, dan terutama dengan tanah. Pangan kembali ditumbuhkan dekat rumah. Demikian juga 'barang' yang dibutuhkan akan diproduksi secara lokal oleh pengrajin. Jelas sekali, transformasi ini menuntut lahirnya sebuah budaya baru, tanpa konsumerisme. Karl Marx pernah menulis dalam alinea terkenal bahwa tanah adalah sumber asli kemakmuran (Brand and Wissen 2018: 53):

Produksi kapitalis dapat mengembangkan teknologi, dan dapat menggabungkan bersama berbagai proses ke dalam sebuah kesatuan, hanya dengan mengikis sumber-sumber asli seluruh kemakmuran – pekerja dan tanah.

Ekonom besar Karl Polanyi, 80 tahun yang lalu (2001 [1944]: 187), menulis bahwa kapitalisme telah menghancurkan hubungan manusia dengan tanah:

Apa yang kita sebut tanah adalah unsur alam yang dianyam bersama secara tak terpisahkan dengan lembaga-lembaga manusia. Tindakan nenek-moyang kita yang melepaskannya dari anyaman ini dan membuatnya sebuah pasar tanah barangkali adalah tindakan yang paling aneh…. Ekonomi pasar melibatkan sebuah masyarakat yang lembaga-lembaganya telah ditaklukkan kepada mekanisme pasar.

Ide itu adalah sangat utopis, seutopis dalam hal tanah seperti dalam hal perburuhan [yang juga ingin dijadikan pasar ekonomis murni lepas dari kehidupan sehari-hari]. Fungsi ekonomis dari tanah hanyalah satu dari sekian fungsi pentingnya. Tanah membuat kehidupan manusia menjadi mantap; tanah adalah tempat tinggalnya; tanah menjadi syarat bagi keselamatan fisiknya; tanah adalah lanskap dan musim. Sama saja membayangkan lahir tanpa tangan dan kaki daripada hidup tanpa tanah. Padahal justru itu – memisahkan tanah dari manusia dan menata masyarakat demikian rupa sehingga memuaskan kebutuhan pasar real estate – yang merupakan konsep ekonomi pasar yang sangat utopis….

Polanyi (yang jelas menggunakan istilah ‘utopis’ di sini secara sangat ironis) kemudian meramalkan bahwa manusia akhirnya akan memberontak terhadap ekonomi pasar itu, atas dasar bahwa pasar semacam itu telah merampas kebahagiaannya. Pemberontakan itu dapat dinamakan ekososialisme.

Eksperimen hidup yang populer dalam ekososialisme juga merangkul solidaritas. Di dalamnya orang menguji-coba cara hidup alternatif, yang berakar pada keadilan sosial dan ekologi. Di seluruh dunia, gerakan masyarakat adat yang memimpin, terutama di Amerika Latin. 'Aktivisme masyarakat adat semakin membentuk gerakan kiri Amerika Latin, dengan penekanan pada ekologi, keadilan dan pembelaan terhadap kepentingan bersama', tulis Derek Wall dalam survei globalnya mengenai gerakan ekososialis (2010: 90-91). Sebuah 'air pasang merah muda' (pink tide) telah melanda Amerika Latin sepanjang abad ke-21, menjauhkan wilayah ini dari rezim militer yang terkenal kejam di abad sebelumnya. Hugo Chavez dari Venezuela bersimpati pada sebagian besar visi ekososialis dan memiliki kementerian khusus untuk itu. Ekuador dan Bolivia, setelah mobilisasi sosial yang besar, keduanya memasukkan elemen-elemen ekososialisme ke dalam berbagai dokumen negara. Konsep yang mendasari Buen Vivir (Hidup yang Baik) menyoroti hak-hak alam dan cita-cita masyarakat adat tentang solidaritas dan keberlanjutan. Politik Paraguay berubah dengan terpilihnya mantan uskup agung Katolik Fernando Lugo pada tahun 2008. Meski terbebani masalah korupsi (Lula di Brasil), otoritarianisme (Chavez), dan ketergantungan yang terus menerus pada pertumbuhan ekonomis serta industri bahan bakar fosil, eksperimen-eksperimen ini telah membawa perspektif baru dan bantuan praktis bagi masyarakat miskin, masyarakat adat, dan alam.

Sebenarnya, terlepas dari persepsi umum tentang kegagalan dalam hal lingkungan, banyak eksperimen sosialis abad ke-20 pada tahap awal memiliki dimensi ekologis yang jauh lebih maju daripada masyarakat kapitalis. 'Satu-satunya negara yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara yang berkelanjutan secara ekologis,' menurut Routledge Handbook of Ecosocialism (2021: 329), ‘adalah Kuba.’ Pada masa awal Uni Soviet, dua ilmuwan bernama Alexandr Bogdanov dan A.V. Lunacharskii (2021: 146) menginspirasi sebuah gerakan ekologis yang canggih secara teoritis, dan yang populer dan efektif. Gerakan mereka akhirnya ditindas oleh Stalin.

Dimensi ekologi yang telah lama terkandung di dalam pemikiran sosialis arus utama muncul kembali dalam gerakan-gerakan kaum muda pada tahun 1968. Keragaman gerakan mereka sangat mengesankan (2021: 3): 'Marxisme, feminisme, anarkisme, indigenisme, dekolonisasi (pembebasan nasional), abolisionisme, sindikalisme, koperatifisme, spiritualisme, dan terkadang aspek-aspek tertentu dari demokrasi sosial, statisme teknokratis, dan filosofi agama, seperti teologi pembebasan, Buddhisme, dan Taoisme.'

Serangan balik neoliberal yang terkoordinasi dengan baik sejak tahun 1980-an telah menenggelamkan banyak gerakan-gerakan ini di Eropa dan Amerika Utara. Hal ini sekali lagi memperkuat kesenjangan Utara-Selatan yang diciptakan oleh sejarah kapitalisme. Itulah sebabnya, saat ini, kaum ekososialis mendesak masyarakat untuk tidak hanya 'bertindak secara lokal' tetapi juga ‘berpikir secara global.’ Salah satu alasan mengapa masyarakat di dunia Utara enggan mengubah gaya hidup konsumeristiknya adalah karena mereka tidak dapat melihat langsung adanya korban dari gaya hidup tersebut. Eksploitasi tenaga kerja wanita di pabrik pakaian di Bangladesh atau di pabrik telepon genggam di Cina tidak terlihat oleh kebanyakan orang di Utara. Limbah plastik, bahan kimia, dan limbah elektronik yang diproduksi di negara-negara kaya tidak dibiarkan menumpuk menjadi gunung-gunung yang jelek, tetapi diekspor ke negara-negara miskin seperti Ghana dan (sebelumnya) Cina dan Indonesia. Penambangan mineral seperti aluminium atau nikel merusak alam; menanam kedelai untuk diberikan kepada ternak sapi dan babi di Utara menghancurkan hutan - dan hal ini sebagian besar berlangsung di wilayah ‘frontier’ di Selatan. Utara yang kaya mengekspor 'eksternalitas negatif' ke daerah-daerah pinggiran yang dijajah secara neokolonial.

Masyarakat di Utara mengalami dunia yang tidak nyata karena 'Modus Hidup Imperial' mereka. Ini adalah istilah kunci dalam buku karya Brand dan Wissen (2018). Hanya gerakan global yang benar-benar global yang dapat menerobos Modus Hidup Imperial, di mana masyarakat global Selatan memiliki suara terkuat. Tanpa pergerakan global yang kuat demi keadilan lingkungan hidup, masyarakat di belahan Utara yang demokratispun mungkin tetap akan bersikap masa bodoh terhadap krisis iklim. Secara historis, demokratisasi di Eropa Barat dan Amerika Utara setelah Perang Dunia 2 memang dibarengi dengan pengrusakan ekologis yang semakin parah (Brand and Wissen 2018: Bab 7). Konsumsi daging melejit naik, padahal industri daging terhitung di antara sumber masalah ekologis yang paling serius. Demikian pula dengan pola kepemilikan mobil pribadi. Karena itu Brand dan Wissen menulis bahwa demokrasi di Utara saat ini ditantang untuk menentukan sikap:

Masyarakat-masyarakat terutama di Utara berdiri di persimpangan jalan: Atau mereka belok kanan, menempuh jalan stabilisasi modus hidup imperial yang eksklusif dan otoritarian – inilah yang misalnya menjadi pendirian Benteng Eropa atau Donald Trump yang menolak pendatang dan pengungsi - atau mereka belok kiri dan mulai mentransformasi pola-pola produksi, konsumsi, dan hidup secara fundamental. Untuk itu, sebuah radikalisasi demokrasi tak terelakkan – yakni, perluasannya sampai kepada pusat-pusat kekuasaan sosial yang di bidang ekonomis, di mana hingga kini demokrasi tidak diperbolehkan masuk.

Yang harus dihindari adalah belokan ke kanan itu. Bumi tidak dapat mentolerir sebuah minoritas inti yang tetap mempertahankan gaya hidup imperialis dan kapitalis, yang berlindung di balik tembok bersenjata nuklir, dan yang mengutuk mayoritas dunia yang di luar tembok untuk masuk neraka. Biarpun minoritas itu mengaku sudah menjadi Kapitalis Hijau karena telah memiliki mobil Tesla, itu tetap tidak akan mencukupi untuk menyelamatkan situasi. Gaya hidup a la Benteng Eropa akan tenggelam di dalam polusinya sendiri, dan mereka akan tetap kehabisan sumberdaya alam. Namun, rupanya ada yang memikirkan seperti itu sampai sekarang.

Potensi kekerasan dalam dunia seperti itu sangatlah tinggi. Bahaya eko-fasisme sudah diperingatkan sejak Joel Kovel menyebutnya dalam Manifesto Ekososialis pada tahun 2001. Saat itu, dianggap kemungkinan kecil; kini, rasanya sudah nyata. Think tank 'ekofasis' mulai berpengaruh di Amerika Serikat. Pesan mereka: masalah lingkungan dapat diselesaikan dengan menghentikan imigrasi. Ini dapat disebut 'penghijauan kebencian.' Sebagian besar negara besar di dunia - termasuk negara-negara Asia yang sedang naik daun seperti Indonesia, India, dan Cina - sedang mengarah pada suatu bentuk Kapitalisme Hijau. Persaingan untuk mendapatkan logam tanah jarang sudah mulai menciptakan ketegangan di antara negara-negara adidaya di dunia (Pitron 2020).

Elmar Altvater dan Birgit Mahnkopf (2018) secara mengerikan menggunanakan frase 'konter-revolusi kapitalis yang permanen':

Dalam kondisi sekarang ini, 'Transformasi Besar' yang lain [yang akan memutar-balik Transformasi Besar menuju kapitalisme yang dibicarakan Polanyi] membutuhkan perubahan dalam seluruh kondisi produksi, termasuk distribusi, konsumsi, dan keuangan. Kami menunjukkan mengapa kita tidak dapat mempercayai ‘narasi hijau’ yang akan menghilangkan karbon dari ekonomi global, dan kami menjelaskan bagaimana janji ini diingkari kurang lebih secara sistematis…. [daripada itu,] seluruh pertanda menunjuk kepada sebuah konter-revolusi dalam hal transisi energi.

Yang dibayangkan oleh pergerakan ekososialis adalah sebuah revolusi. Ilmuwan Amerika Carl Boggs telah banyak menulis tentang hal ini. Ia belum melihat sebuah upaya politis yang serius yang akan melahirkan revolusi tersebut. Buku terakhirnya (Boggs 2021: 137) mencatat:

Kekuatan-kekuatan tandingan global saat ini dapat dikatakan lemah atau bahkan tidak ada: potensi radikal-ekologis dari kelompok-kelompok progresif utama tampaknya sulit berkembang. Kita melihat gagasan-gagasan ekososialis bertebaran di sana-sini, namun kita akan sia-sia mencari politik ekososialis yang layak.

Dan memang, kapitalisme telah membuktikan kekuatannya untuk menaklukkan perlawanan. Carl Boggs tidak berilusi tentang kesuksesan instan. Sebab revolusi harus dimulai dari dalam hati kita sendiri (Boggs 2012: 187):

Revolusi ekologi hanya akan membuat sedikit kemajuan, tanpa adanya erosi terhadap kepercayaan dan gaya hidup yang sudah tertanam kuat: individualisme posesif, konsumerisme, kepercayaan terhadap agenda pertumbuhan korporasi, fetisisme terhadap teknologi, dan patriotisme. ‘Penghijauan’ masyarakat industri yang sesungguhnya harus melibatkan pemikiran ulang yang kritis terhadap nilai-nilai Pencerahan yang menopang seluruh matriks dominasi ....

Kemudian ia membuat sketsa skala tantangan yang ada di hadapan kita (Boggs 2012: 191):

Politik transformatif pasca-liberal, pasca-Marxis sangat dibutuhkan dalam menghadapi tuntutan sosial dan ekologis yang belum pernah terjadi sebelumnya: mode produksi, kerja, dan konsumsi yang berkelanjutan, sistem politik yang terbebas dari kepentingan-kepentingan yang memiliki uang, layanan kesehatan yang adil, media yang independen, difusi teknologi ramah lingkungan, pertanian yang terlokalisasi, ekonomi pasca-karbon, demiliterisasi, dan revitalisasi perkotaan - semuanya diresapi oleh tata kelola pemerintahan yang demokratis.

Bacaan lanjutan

Materi bab ini dipresentasi dalam ceramah Indoprogress online. Dari puluhan judul yang menarik di bidang ini, beberapa dapat disoroti selain yang sudah disebut di atas. Sejarah konsep ekososialisme disajikan secara singkat dalam Foster 2015, dan secara lengkap dalam Foster 2000 dan 2020. Buku populer Foster yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah Magdoff dan Foster 2018. Lihat juga Foster 2022. Perintis pemikiran ekososialisme lain adalah James O’Connor 1998. Manifesto Ekososialis pada tahun 2001 yang disebut di atas ditulis oleh Joel Kovel (Amerika Serikat) dan Michael Löwy (Brasil). Mereka masing-masing kemudian mengarang buku sendiri: Kovel 2007, dan Löwy 2015. Penulis lain yang saya anggap penting adalah Arran Gare 2020, Paul Burkett 2017, dan William K. Carroll 2024.

Untuk penelitian lebih jauh
  • Apakah, menurut Anda, sejarah Revolusi ’45 di Indonesia menawarkan peluang historis untuk sekali lagi menantang kekuatan kapitalis pada abad ke-21 (kali ini dengan dimensi ekologis yang baru)?
  • Bacalah Wawasan Indonesia Emas 2045 secara kritis, dengan bantuan bacaan ekososialis dalam bab ini. Tulislah sebuah respon untuk dibuka pada perdebatan umum.
  • Temui dan wawancarailah sejumlah tokoh di Indonesia yang beridentifikasi dengan pemikiran ekososialis. Apakah ada peluang untuk membangun jaringan yang lebih luas?

Gerry van Klinken, pemimpin redaksi Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia (bacaanbumi@gmail.com), adalah guru besar emeritus sejarah Asia Tenggara di KITLV (Leiden), Universitas Amsterdam, dan Universitas Queensland. Ia menetap di Brisbane.

[Modifikasi terakhir: 04/083/2025]

Acuan

Altvater, Elmar. 2007. ‘The social and natural environment of fossil capitalism.’ The Socialist Register 43:37–59.

Altvater, Elmar, and Birgit Mahnkopf. 2018. ‘The Capitalocene: Permanent capitalist counter-revolution.’ Socialist Register 2019: A World Turned Upside Down? 55:79-99.

Berenschot, Ward, Ahmad Dhiaulhaq, Afrizal, and Otto Hospes. In press [2025]. Rightless resistance: The contentious politics of palm oil expansion in Indonesia. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Boggs, Carl. 2012. Ecology and revolution: global crisis and the political challenge. Houndmills: Palgrave Macmillan.

Boggs, Carl. 2021. Fugitive politics: the struggle for ecological sanity. New York: Routledge.

Brand, Ulrich, and Markus Wissen. 2018. The limits to capitalist nature: theorizing and overcoming the imperial mode of living. London: Rowman and Littlefield.

Brownhill, Leigh, Salvatore Engel-Di Mauro, Terran Giacomini, Ana Isla, Michael Löwy, and Terisa Turner, eds. 2021. The Routledge Handbook on Ecosocialism, Routledge International Handbooks. London: Routledge.

Burkett, Paul. 2017. ‘An eco-revolutionary tipping point?: Global warming, the two climate denials, and the environmental proletariat.’ Monthly Review 69 (1). doi: https://doi.org/10.14452/MR-069-01-2017-05_1.

Carroll, William K. 2024. Refusing ecocide: from fossil capitalism to a liveable world. London: Routledge.

Crutzen, Paul J., and Eugene F. Stoermer. 2000. ‘The Anthropocene.’ IGBP [International Geosphere-Biosphere Programme] Newsletter 41:17–18.

Foster, John Bellamy. 2000. Marx’s ecology: materialism and nature. New York: Monthly Review Press

Foster, John Bellamy. 2015. ‘Socialism – Marxism and Ecology: Common Fonts of a Great Transition.’ Europe Solidaire Sans Frontières (ESSF), October.

Foster, John Bellamy. 2017. ‘The long ecological revolution.’ Monthly Review 69 (9):1-17.

Foster, John Bellamy. 2020. The return of nature: socialism and economy. New York: Monthly Review Press.

Foster, John Bellamy. 2022. Capitalism in the Anthropocene: ecological ruin or ecological revolution. New York: Monthly Review Press.

Foster, John Bellamy, Brett Clark, and Richard York. 2010. The ecological rift: capitalism’s war on the earth. New York: Monthly Review Press.

Gare, Arran. 2020. ‘The eco-socialist roots of ecological civilisation.’ Capitalism Nature Socialism 32 (1):37-55. doi: https://doi.org/10.1080/10455752.2020.1751223.

Klein, Naomi. 2015. This changes everything: capitalism vs. the climate. New York: Simon and Schuster.

Kovel, Joel. 2007 [orig 2002]. The enemy of nature: the end of capitalism or the end of the world? 2 ed. London: Zed Books.

Löwy, Michael. 2015 [orig Fr 2012]. Ecosocialism: a radical alternative to capitalist catastrophe. Chicago, IL: Haymarket Books.

Magdoff, Fred, John Bellamy Foster (terj Pius Ginting). 2018. Lingkungan hidup dan kapitalisme: sebuah pengantar. Jakarta Selatan: Marjin Kiri.

Malm, Andreas. 2016. Fossil capital: the rise of steam power and the roots of global warming. London: Verso.

Mies, Maria, and Vandana Shiva. 2014 [1993]. Ecofeminism. London: Zed Books.

Moore, Jason W., ed. 2016a. Anthropocene or Capitalocene? Nature, history, and the crisis of capitalism, Kairos. Oakland, CA: PM Press.

Moore, Jason W. 2016b. ‘The rise of cheap nature.’ In Anthropocene or Capitalocene? Nature, History, and the Crisis of Capitalism, edited by Jason W. Moore, 78-115. Oakland, CA: PM Press.

O'Connor, James. 1998. Natural causes: essays in ecological Marxism. New York: Guilford Press.

Pitron, Guillaume (trans Bianca Jacobsohn). 2020. The rare metals war: the dark side of clean energy and digital technologies. London: Scribe.

Polanyi, Karl. 2001 [1944]. The great transformation: the political and economic origins of our time. Boston, Massachusetts: Beacon Press.

Wall, Derek. 2010. The rise of the green left: inside the worldwide ecosocialist movement. London: Pluto Press.

Baca dan download pdf artikel di sini.

Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis