Jul 12, 2020 Last Updated 11:50 PM, Jul 2, 2020

Hip-hop: peluang yang terlewatkan

Published: Jan 26, 2020
English version

Diana Teresa Pakasi

Sebagai genre musik yang populer di kalangan pemuda Papua dan Papua Barat, hip-hop tidak hanya hadir untuk didengar - tetapi juga untuk diciptakan. Mereka kerap mengunggah lagu-lagu hip-hop yang mereka ciptakan ke dalam platform digital seperti Youtube, Instagram, dan Facebook - dan beberapa diantaranya bahkan sudah dilihat sebanyak jutaan kali. Sebagai contoh, sebuah lagu berjudul ‘Turun Naik Oles Terus’ ciptaan Fresh Boy yang turut menampilkan Blasta Rap Family telah dilihat sebanyak lebih dari 11 juta kali di Youtube.

Lagu lain yang berjudul ‘Ade Kelas’ ciptaan Suku Dani, yang turut menampilkan Fresh Boy, Zuid Boys, dan Lesto Baco telah dilihat sebanyak lebih dari sejuta kali pada bulan pertama lagu tersebut dirilis.

Selain Youtube, Facebook juga kerap digunakan sebagai media promosi hip-hop di Papua dan Papua Barat. Sebuah grup Facebook bernama ‘Para-Para hip-hop’ memiliki lebih dari 4000 anggota; sementara grup lain, ‘Abe Rap,’ memiliki lebih dari 200 anggota.

Hip-hop mulai populer di kalangan pemuda Papua pada tahun 1970-an, mengikuti jejak sukses dari grup band rock asal Jayapura, Black Brothers.

Kini, banyak kaum muda di Papua dan Papua Barat yang mulai membentuk grup hip-hopnya sendiri, membuat lagu ciptaan sendiri, serta membuat video musik dan membagikannya secara daring. Dampaknya, grup-grup hip-hop menjamur di kota-kota seperti Jayapura, Sorong, dan Manokwari. Mereka umumnya tampil setiap malam Minggu di pusat perbelanjaan, lapangan parkir, dan taman-taman umum. Grup-grup hip-hop ini juga kerap tampil di universitas dan acara-acara komunitas. 

Mereka yang menonton pertunjukkan hip-hop umumnya adalah kaum muda laki-laki dan perempuan yang berasal dari Papua dan Papua Barat dan daerah-daerah lain di Indonesia. Sebagian besar penonton turut menari sembari menikmati musik.

Kaum muda laki-laki dan perempuan Papua dan Papua Barat juga turut mengonsumsi lagu-lagu hip-hop asing melalui media sosial, dan aplikasi streaming musik seperti Spotify dan ReverbNation. Namun dalam praktiknya, pemuda di daerah ini tidak hanya sekadar mengonsumsi hip-hop: mereka melakukan penyesuaian, serta kontekstualisasi ulang atas musik hip-hop yang mereka nikmati berdasarkan pengalaman hidup dan latar belakang budaya mereka. 

Lantas, apakah bagi pemuda Papua dan Papua Barat yang mengonsumsi dan menciptakan musik hip-hop, hip-hop bukanlah sekadar musik? Apa yang dapat hip-hop katakan terkait kondisi maskulinitas dan seksualitas di masyarakat Papua dan Papua Barat kontemporer? 

Persaudaraan hip-hop

Sebuah grup hip-hop umumnya terdiri dari lima sampai sepuluh orang pemuda. Tak jarang rappers dari grup-grup tersebut masih berstatus sebagai siswa - baik siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun mahasiswa. Sebagian besar dari mereka berusia antara 18 - 24 tahun. Rata-rata para rappers ini datang dari kota-kota kecil untuk melanjutkan studi mereka di institusi pendidikan yang terletak di kota-kota besar, seperti Jayapura.

Para pemuda yang membentuk grup hip-hop ini umumnya tinggal bersama di asrama, rumah kos, atau kamar kos. Bagi mereka yang menyukai musik hip-hop, bernyanyi bersama dan menciptakan musik hip-hop merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari - sehingga pada akhirnya, tak jarang mereka memutuskan untuk membentuk grup hip-hopnya sendiri. “Bikin musik hip-hop tu macam cara produktif tong pakai bersama deng anana di sini, daripada tong hanya bicara-bicara dan mabuk-mabukan,” ujar salah satu musisi hip-hop yang saya temui.

Sebuah grup hip-hop umumnya memiliki ‘Markas Besar’ atau Mabes: tempat para anggotanya berkumpul dan menciptakan musik. Jika rumah tempat mereka tinggal ternyata turut berfungsi sebagai Mabes, anggota grup hip-hop tersebut akan membangun interaksi layaknya saudara. “Kitong basudara: tong tidur, makan, nongkrong sama-sama dan bikin musik sama-sama,” ucap salah seorang pemuda.

Grup hip-hop dapat menjadi keluarga baru bagi mereka yang tinggal jauh dari kota asalnya. Namun di antara grup-grup baru yang terus lahir, tidak banyak dari mereka yang bertahan lama. Sebuah grup hip-hop umumnya bubar setelah anggotanya lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan. Terlepas dari hal tersebut, hip-hop tidak pernah kekurangan jiwa-jiwa muda yang antusias dan grup-grup baru yang terus lahir. Mereka hadir untuk menggantikan, sekaligus melanjutkan harapan para pendahulunya untuk menjadi terkenal.

Fantasi-fantasi maskulin

Sebagian besar musisi hip-hop yang saya temui mengatakan bahwa mereka tidak menganggap hip-hop sebagai mata pencaharian yang dapat mereka geluti di masa depan. Selagi muda, mereka menikmati kesempatan-kesempatan yang ditawarkan oleh hip-hop untuk tampil di depan orang banyak, dan untuk menjadi - atau berharap menjadi - terkenal.

Ada beberapa stereotip yang dilekatkan pada musisi hip-hop di Papua dan Papua Barat. Pemuda yang berbincang dengan saya mengatakan bahwa rappers umumnya dianggap sebagai biang masalah, tukang mabuk-mabukan, serta pelaku seks bebas. Meskipun stereotip ini berlaku untuk sebagian rappers di Papua dan Papua Barat, sebagian lainnya mengatakan kepada saya bahwa stereotip tersebut tidak mencerminkan diri mereka sama sekali.

Sebagian dari stereotip tersebut lahir karena dalam penampilannya, para rappers Papua dan Papua Barat cenderung mengikuti gaya busana dan tingkah laku yang digambarkan dalam video rap Amerika. Mereka meniru apa yang didefinisikan sebagai ‘maskulinitas yang kasar,’ melalui busana, gerak tari, dan lirik lagu yang mereka bawakan.

Lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan umumnya menggunakan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Papua dan Indonesia. Beberapa lagu bahkan menggunakan kata makian dan sumpah serapah yang populer dalam bahasa Inggris dan Papua. Musisi-musisi yang berbincang dengan saya menyatakan bahwa menyelipkan kata-kata berbahasa Inggris ke dalam lagu merupakan hal yang dianggap keren; akan tetapi, hal yang tidak kalah penting bagi mereka adalah untuk selalu mengingat identitas kepapuaan mereka dalam bermusik. Para pemuda ini menggunakan musik hip-hop untuk memproyeksikan citra diri mereka sebagai orang Papua yang modern dan mengglobal.

Hasrat seksual

Banyak lagu ciptaan pemuda Papua Barat yang berbicara tentang cinta, romansa, dan hasrat seksual. Terdapat lagu yang bercerita tentang pengalaman pemuda ketika tertarik dengan seorang perempuan, seperti lagu ‘Ade Kelas,’ misalnya. Dalam lagu tersebut, ada lirik yang berbunyi “Ade kelas, tembak saya macam, dor, dor; Your hair is very nice”.

Beberapa lagu mencantumkan kisah-kisah terkait hubungan dan aktivitas seksual yang relatif dianggap tabu, khususnya bagi generasi ‘tua’. Sebagai contoh, lagu ‘Turun Naik Oles Terus’ bercerita tentang kondisi pesta dansa, ketika para lelaki meraba - “su raba kiri dan juga kanan” - tubuh perempuan.

Hip-hop dikenal sebagai genre musik yang tidak ragu mencantumkan lirik-lirik kasar. Beberapa dari lirik tersebut bahkan membenarkan dan mendorong terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan. Lantas, apakah musik hip-hop di Papua dan Papua Barat turut mencerminkan hal yang sama?

Kekerasan seksual 

Papua merupakan salah satu daerah dengan tingkat kekerasan seksual terhadap perempuan tertinggi di dunia. Laporan dari United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa di Papua, sekitar 38 persen perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dan/atau fisik.

Laporan lain dari UNDP mengungkapkan bahwa lebih dari 60% laki-laki mengaku pernah melakukan kekerasan seksual dan/atau fisik terhadap perempuan. Selain itu, tingkat perkosaan yang dilakukan oleh banyak pelaku (multi-perpetrator rape) di wilayah Papua juga relatif sangat tinggi

Meskipun hip-hop menyediakan ruang bagi para musisi untuk mengutuk kekerasan seksual dan mempromosikan bentuk maskulinitas yang tidak didasari oleh kekerasan seksual, lirik-lirik lagu hip-hop pada umumnya cenderung glorifikasi perkosaan. Sebagai contoh, lirik lagu berikut secara terang-terangan mempromosikan perkosaan geng:

Kayaknya cewe ini bisa ajak main gabung

Main kurung macam satu lawan seribu

Tra perlu tunggu lama jarak mabes dekat

Tiba di mabes teman-teman pada kaget

Sabar kawan antri satu-satu

Jelas nanti tong pasti baku ganti

Sekarang ko semua tunggu di situ

Sa kode ko maju tabrak pintu

Lagu dengan lirik yang sangat mengerikan tersebut diputar dengan bebas di media sosial tanpa sensor; dan hal ini tentu saja mencerminkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan: normalisasi kekerasan seksual di wilayah Papua Barat. Selama proses penulisan, saya belum menemukan lagu hip-hop Papua yang mengutuk kekerasan seksual terhadap perempuan.

Lagu-lagu lain yang tak kalah populer di media sosial turut mencantumkan lirik tentang perselingkuhan, transaksi seksual (yang melibatkan pemberian uang atau hadiah), dan hubungan seks di bawah pengaruh alkohol. Meskipun terdapat banyak pihak yang terkejut dan merasa terganggu dengan kepopuleran lagu-lagu tersebut, suara mereka cenderung diabaikan.

Hip-hop, idealnya, dapat menjadi ruang bagi pemuda Papua untuk mengambil sikap melawan kekerasan seksual, dan mendorong bentuk maskulinitas yang mempromosikan kesetaraan gender. Namun sayangnya, beberapa lagu hip-hop populer malah berfungsi sebagai alat untuk menormalisasi kekerasan seksual terhadap perempuan.

Diana Teresa Pakasi (diana.pakasi@ui.ac.id) adalah seorang peneliti di Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia.

Inside Indonesia 139: Jan-Mar 2020

Latest Articles

A generation of resistance

Jun 26, 2020 - IVO MATEUS GONCALVES

Students demonstrate at Santa Cruz cemetery, 12 November 1991 / Author

East Timor’s student movement and the struggle against oppression

Essay: Celebrating Imlek, Catholic style

Jun 22, 2020 - JOSH STENBERG

/ Josh Stenberg

Practices such as Imlek masses are a welcome example of tolerance and plurality

West Papua and Black Lives Matter

Jun 17, 2020 - SOPHIE CHAO

We are not monkeys / Twitter

A movement seeking justice, healing, and freedom for Black people has become a powerful rallying call for Indigenous West Papuans

Artists seek assistance

Jun 14, 2020 - RAHMADI FAJAR HIMAWAN

Several pesinden accompanying a wayang performance / Rahmadi Fajar Himawan

Javanese traditional musicians are among the many artists and performers struggling to survive, or qualify for government payments under COVID restrictions

A house of cards?

Jun 02, 2020 - YULIDA PANGASTUTI

ANTARA FOTO/Saiful Bahri/wsj

The COVID-19 crisis has highlighted the exploitation of non-formal early childhood educators 

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar