Kolaborasi tentang kata-kata
Pertemuan pertama saya dengan Pat Walsh adalah dalam suatu rapat siang yang cukup panas, sedikit buntu. Tahun 2013—saya tak ingat bulannya, mungkin pertengahan tahun, mungkin Agustus atau September. Saya masih seorang asisten editor baru, belum genap dua tahun bekerja. Pertanyaan sulit yang meliputi kami waktu itu adalah: Bagaimana menyiapkan Chega!—laporan setebal 3.000 halaman dari Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR)—agar bisa dicetak di Jakarta dan dikirim ke Dili pada tahun yang sama?
Yang saya ingat, selain suasana panas dan sedikit buntu dalam rapat, adalah bahwa Pat seorang pendengar yang baik. Ia berusaha menggali masalah satu per satu.
Setelah rapat usai, kami naik taksi menembus kemacetan sore Jakarta menuju hotel tempat rekan-rekan STP-CAVR (Secretariado Técnico Pós‑CAVR) menginap, untuk membereskan beberapa urusan administrasi. Di dalam taksi itu—di suatu jalur macet Jakarta yang tak bisa saya ingat persis di mana—saya berbincang untuk pertama kalinya dengan Pat Walsh. Tak ada yang istimewa dari obrolan itu, kecuali bahwa ia tampak seorang pencerita yang sabar. Sabar menjelaskan ini dan itu, terutama, dengan bahasa Inggris lisan saya yang waktu itu jauh lebih terbatas daripada sekarang. Ketika ia menyebut pernah belajar di seminari, suatu ruang kepercayaan yang agak primordial terbuka dari sisi saya. Di sisi lain, tetap tersimpan semacam skeptisisme: Kenapa ada seorang bule Australia yang begitu getol mengutik-utik persoalan Timor-Leste (dan Papua dan Aceh)?
Singkat cerita Pat dan saya lantas didaulat menjadi tenaga baru dan segar untuk menjalankan misi itu. Alur kerja dan jadwal disusun dengan menghitung mundur dari tenggat yang ditetapkan. Kami tidak berdebat, juga tak menyuarakan kemustahilan yang menggelayut. Dari kebungkaman itu, suatu kerja sama mulai terjalin—suatu kerja sama yang tak saya duga akan bertahan lama, suatu kerja sama yang tak saya kira juga akan bermakna, tetapi ternyata keduanya.
Tahun 2013 belum era AI (akal imitasi), bahkan tren telepon pintar dengan layar sentuh baru dimulai. Di kantor penerbit kami, KPG, dua orang ‘luar’ berkunjung agak rutin: Peter Carey, yang terjemahan karyanya dalam bahasa Indonesia, Kuasa Ramalan, baru saja kami terbitkan tahun sebelumnya; dan Pat Walsh, yang bukan sekadar bertandang, tetapi benar-benar berkantor selama banyak bulan—dalam ingatan saya setidaknya sangat intensif atau hampir setiap hari selama empat bulan terakhir 2013, mengawal tahap akhir Chega! edisi bahasa Inggris.

Dengan AI hari ini, kita bisa ‘mengobrol’ dalam bahasa yang berbeda—satu orang berbicara dalam bahasa Inggris, yang lain menjawab dalam bahasa Indonesia—dan keduanya saling memahami. Namun, bahkan sebelum era AI, saya sudah menyaksikan orang berkomunikasi serta bertukar informasi dan cerita dalam dua bahasa yang berbeda. Itu terjadi baik pada Peter Carey maupun Pat Walsh, ketika mereka mengobrol dengan satu atau dua orang dari kami, di sela-sela istirahat minum kopi atau makan siang.
Dan selama berbulan-bulan itu saya memperhatikan kebiasaan kecil Pat. Ia kerap mengenakan kemeja kotak-kotak biru. Ia datang dan pulang pada jam-jam yang relatif ajeg, sering membawa kopi dari kafe di lantai bawah—waktu itu bernama Javaro—dan pegawai di balik konter hafal namanya.
Suatu siang di kantin kantor, seorang kolega bertanya kepada Pat: 'Bagaimana—atau mengapa—Anda bisa terus-menerus bekerja untuk HAM?'
Saya tidak ingat jawabannya. Mungkin saat itu saya belum sepenuhnya memahami. Yang saya ingat adalah senyum dan sedikit jeda sebelum ia menjawab—jeda yang biasa diambil seseorang ketika hendak mengutarakan sesuatu yang dirasakannya dengan jelas agar bisa terucap dengan sederhana. Senyum itu, anehnya, mengingatkan saya pada seorang penjaga rental VCD di Yogyakarta yang saya tanyai hal serupa hampir satu dekade sebelumnya: 'Kok hafal sih cerita setiap film?'
Penjaga itu—saya masih ingat nama rentalnya Universal—balik bertanya: 'Pernah jatuh cinta? Dan tidakkah saat tertarik dengan seseorang, kau otomatis ingin tahu semua tentang dia, dari A sampai Z?'
Saya menyesal bukan tipe orang yang rajin mencatat. Jawaban Pat, apa pun itu, terkubur di suatu tempat dalam arsip otak saya yang kian sesak.
Tapi pertanyaan itu akhirnya berbalik dan menampar saya sendiri: Mengapa saya—orang Indonesia—seolah tak begitu peduli pada persoalan-persoalan HAM itu? Bukannya saya acuh. Pada tahun-tahun kemudian, secara langsung maupun tak langsung, KPG dan saya terlibat (lagi) dalam menerbitkan buku-buku tentang 1965, tentang Papua, tentang kehidupan orang-orang di mana sejarah bukan kata-kata abstrak. Pertanyaan dan jawaban itu tak hilang. Hanya butuh waktu lebih lama untuk kembali mengemuka.
Akhir 2015, menjelang usia tiga puluh, saya memutuskan untuk berpindah jalur. Saya keluar dari KPG dan membuka kedai kopi kecil di Yogyakarta bersama beberapa teman. Pat baru saja menerbitkan Stormy with a Chance of Fried Rice: Twelve Months in Jakarta, dan ia ‘mendukung’ perpindahan saya itu—yang waktu itu saya sebut “ketetapan hati” tetapi sekarang saya rujuk sebagai petualangan—dengan mengadakan diskusi buku di kedai. Komentar Pat tentang apa yang tampak seperti perubahan karier yang drastis itu masih melekat: 'Menyunting buku dan mengelola kedai kopi tidak jauh berbeda, kan? Sama-sama memilihkan sesuatu untuk orang lain—yang pertama buku, yang kedua kopi.'

Saya memahaminya secara konseptual. Yang belum saya mengerti adalah konsekuensinya. Selera kopi saya ternyata terlalu eksentrik—atau, dengan pilihan kata yang menghibur, agak mendahului zaman. Saya suka kopi hitam single‑origin dengan metode seduh yang rumit. Dalam hal bacaan ternyata saya juga adalah minoritas dari minoritas: bahkan penulis yang saya sukai—Haruki Murakami, Mieko Kawakami, Hiromi Kawakami—hanya menarik pembaca di ceruk yang agak sempit, setidaknya di pasar buku Indonesia. Konsekuensi yang kemudian saya sadari, dengan agak terlambat, adalah bahwa selera pribadi saya bukanlah bagian dari pasar besar. Karena alasan tersebut dan berbagai alasan lainnya, dalam waktu kurang dari dua tahun saya kembali bekerja sebagai pegawai di penerbit buku. (Sebenarnya, sambil membuka kedai kopi itu pun, saya masih terlibat dalam pengerjaan indeks untuk edisi Portugis Chega!—sepertinya sulit benar untuk melarikan diri dari sini).
Februari 2016 adalah kali terakhir saya bertemu Pat dalam tatap muka langsung. Di kedai kopi saya di Yogyakarta. Saat itu kami tidak tahu tentu saja. Delapan atau sembilan tahun berselang, kami menerbitkan setidaknya lima buku bersama—nama Pat sebagai penulis, nama saya sebagai editor di kolofon—tanpa pernah bertemu langsung, tanpa satu pun pembicaraan di telepon. Semuanya lewat surat elektronik. Suatu keajaiban kecil dunia modern, atau mungkin melulu kepercayaan yang bertahan melampaui jarak, antara Jakarta dan Melbourne, karena fondasinya sudah terpancang sebelumnya.
Di antara buku-buku itu, yang paling mengesan barangkali A Window on Our Street: Sondering through Covid-19 in Northcote. Melalui buku itu saya mengenal kata sonder (yang dipinjam Pat dari The Dictionary of Obscure Sorrows karya John Koenig): kesadaran bahwa setiap orang yang lewat menjalani hidup serumit dan seintens kita—diliputi oleh ambisi, rutinitas, kekhawatiran, dan warisan kegilaan masing-masing. Pat sudah memperkenalkan kata ini dalam Stormy, tetapi yang paling melekat dari Stormy pada saya adalah satu esai: 'Two Sharp Eyes'.
Ketika ia berpulang Desember 2025, kami menulis dalam unggahan Instagram: 'Pak Pat, terima kasih sudah menjadi pengawal yang setia Chega!—walaupun pekerjaan rumah kami dalam soal HAM, apalagi sekarang, jelas tidak mudah. Terima kasih telah mempercayakan banyak buku kepada kami. Sungguh suatu kehormatan dan kegembiraan bekerja bersama Anda. Terkhusus, terima kasih telah menulis Two Sharp Eyes dalam Stormy with a Chance of Fried Rice. I am not perfect but I am limited edition, yang Anda perhatikan dari kaos seorang gadis di Plaza Senayan, akan selalu menjadi penghiburan bagi kami para editor yang betapa pun telah berusaha menajamkan mata tak jarang tetap luput juga.'
Pat bukanlah tipe penulis yang butuh editor. Pada awalnya saya tidak mencantumkan nama saya di buku-bukunya. Ia bersikeras. Menyiapkan buku-bukunya adalah kebahagiaan kecil: ia memikirkan segalanya dari sampul depan hingga sampul belakang, punya berkas-berkas yang rapi, dan memberi petunjuk jelas di mana dan bagaimana setiap gambar harus diletakkan. Hampir tak pernah merepotkan.
Selalu soal Chega! atau Timor-Leste. Demikian simpul otak saya mengenang Pat Walsh. Tentu ingatan tidak presisi.
Ketika Jemma Purdey bersurat dan meminta saya menulis kenangan atas Pat, saya spontan bertanya-tanya apa yang menautkan kami selama ini. Saya mengenang korespondensi-korespondensi kami yang terakhir. Dua peristiwa mengemuka.
Saya senang rezim lama masih berkuasa di KPG, saya ingat Pat menulis demikian dalam suatu surel. Sekitar Mei 2025. Hugo Fernandes—Direktur Eksekutif Centro Nacional Chega!—berkunjung ke KPG. Kami membahas rencana menerbitkan Chega! dalam bahasa Tetum. Sebuah foto berempat (Hugo, Alpha, Candra, dan saya) sampai ke tangan Pat; rezim lama yang ia maksud adalah Candra dan saya.
Di lain waktu, sebelumnya, sekitar September 2024, Ian Martin berkunjung ke KPG. Kami bertemu merayakan penerbitan edisi Indonesia dan Tetum bukunya, Self-Determination in East Timor, dengan makan siang bersama di restoran Padang di depan kantor—yang ternyata merupakan juara kuliner nomor satu untuk rendang. Pat, orang yang paling banyak berjasa mempertemukan kami, sayangnya tak bisa ikut dan hanya mengikuti kabar lewat utas surel.
Ketika saya benar-benar memeriksa arsip surel, ternyata korespondensi pribadi saya dengan Pat yang terakhir adalah pada 5–6 Mei 2025. Ia bertanya tentang akronim Kompas sebagai komando pastor pada masa awal surat kabar itu. Dan ia berkata, “I'm writing a work memoir and am back in 1968 when I first came to Indonesia as a total innocent!”
Dalam semua korespondensi kami, tak ada kalimat yang terasa seperti pesan perpisahan. Tak ada simpulan. Tetapi, ketika membaca lagi surel-surelnya yang lebih awal, saya menemukan frasa-frasa seperti: “You should hammer your iron when it is glowing hot.” Dan: “You have a lot on your plate.” Waktu itu saya baca ungkapan-ungkapan itu sekadar sebagai semacam pernyataan simpatik. Jarak usia kami—Pat lahir 1940-an, lebih tua daripada ayah saya; saya 1980-an—membuat saya kadang memahami hal-hal lebih lambat daripada yang mungkin ia maksudkan. Sekarang saya pikir: punya banyak yang harus dikunyah dari atas piring berarti kelimpahan sekaligus beban. Dan besi panas tak selamanya tetap panas.
Akhir Desember 2013, setelah sekitar 28 minggu maraton menyunting Chega! dan sembari pamit pulang ke Melbourne, Pat mengulurkan kepada saya buku Di Tempat Kejadian Perkara. Pada halaman pertama ia membubuhkan pesan dan pada halaman lain ia menyelipkan satu amplop dan satu kertas memo. Di dalam amplop itu ada tiket pesawat pulang untuk liburan Natal untuk saya. Tulisan tangannya di halaman i agak sulit dibaca: 'You now have made an honorable member of the Order of Chega.' Di kertas memo, ia berpesan agar saya membaca halaman 377—puisi berjudul: Oh manggis. Saya ingat, kami pernah membicarakannya pada suatu makan siang: seseorang bertanya apa buah kesukaannya dan Pat menjawab: manggis.
Saya tak sepenuhnya yakin apa yang ingin ia sampaikan dengan itu. Namun, rasanya seperti versi lain ungkapan Latin yang pernah saya temui dalam sebuah film: Fallaces sunt rerum species, penampilan mengelabui. Berbagai hal tidak selalu seperti kelihatannya. Bule Australia itu ternyata seseorang yang bisa dipercaya. Suatu kerja sama terjalin bertahun-tahun tanpa pertemuan tatap muka, dijalankan seluruhnya lewat surel yang tak memburu musim. Editor yang tak merasa benar-benar menyunting dan penulis yang bersikeras bahwa ia menyunting.
Ining Isaiyas (isaiyas@penerbitkpg.id) adalah editor di KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dan saat ini sedang menyunting banyak karya fiksi terjemahan, khususnya yang diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Ia meraih penghargaan 'honorable mention' dalam Kompetisi Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2017.










