Dekolonisasi pengetahuan
Para penambang, para pengorder dan para penjahat punya generasi. Bagaimana dengan kita?
Itulah pertanyaan yang terus berputar dalam benak Gunarti, seorang perempuan petani dari Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Ia lahir pada tanggal yang tak biasa— sama dengan tanggal kelahiran R.A. Kartini, 21 April. Seperti Kartini yang memperjuangkan pendidikan anak-anak, khususnya perempuan, Gunarti juga meyakini pentingnya pengetahuan. Sejak 1993, ia membuka ruang belajar bagi anak-anak Sedulur Sikep, komunitasnya, di sekitar Pegunungan Kendeng. Tiap hari Jum’at, ia menggelar tikar di ruang tamu rumahnya, tempat anak-anak dan remaja belajar tentang makna kehidupan dengan dua bahasa dan dua aksara, bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, aksara Latin dan aksara Jawa.
Sebagai seorang ibu dari tiga anak, Gunarti tumbuh dalam dalam ajaran Surontiko Samin (1859-1914), seorang tokoh yang menjadi panutan utama dan sumber pengetahuan Sedulur Sikep. Mbah Samin dikenal sebagai sosok yang menolak tunduk pemerintah kolonial yang kapitalis, ditangkap dan dibuang ke Sawahlunto, Sumatra Barat, dan meninggal di sana. Meski Gunarti lahir lebih dari setengah abad setelah kepergian Mbah Samin, dia tetap memegang teguh ajarannya sebagai obor hidup. Dia tidak sekadar mewarisi, tapi juga menghidupkan nilai-nilai dari Mbah Samin: hidup selaras dengan alam, bersikap jujur, menolak kekerasan, dan berdiri tegak saat kebenaran diinjak-injak.
Gunarti dan keluarganya tinggal di kaki Pegunungan Kendeng, tepatnya di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai wilayah kart—bentang alam dari batuan kapur yang menyimpan air layaknya spons raksasa, sehingga memiliki peran sangat penting dalam menjaga ketersediaan air. Saat kemarau melanda, air dari perut bukit karst tetap mengalir. Itulah sebabnya Kendeng bukan sekadar tempat tinggal bagi manusia, tapi juga penyangga kehidupan.
Semen
Tapi harmoni itu mulai terusik ketika kabar tentang rencana pembangunan pabrik semen beredar di desa-desa. Gunarti menyaksikan langsung bagaimana kehadiran tambang dan pabrik semen sejak awal telah meresahkan warga dan membuat keretakan hubungan sosial antarwarga dan bahkan antar-anggota keluarga, antara yang menolak dan yang menerima. Dan dalam pusaran konflik itu, Gunarti berdiri, menggandeng para perempuan Kendeng lainnya, menolak rencana perusakan kampung halaman mereka.
Pada 2006, rencana pabrik semen mulai terdengar di sekitar Pati. Mulailah Sedulur Sikep mencari tahu tentang kebenaran rencana itu. Mereka kemudian berkumpul di hutan Sonokeling, bertemu dengan pemerintah setempat, dan mendapat kepastian kabar buruk itu: pabrik semen PT Semen Gresik akan dibangun di Sukolilo. Sedulur Sikep memahami betul bahwa rencana itu akan membahayakan wilayah Pegunungan Kendang dan sekitarnya, khususnya Sukolilo yang menjadi salah satu wilayah lumbung pangan Kabupaten Pati. Jika karst dibongkar, sawah-sawah akan kekeringan. Lebih dari 10 persen sawah di Kabupaten Pati berada di Sukolilo, yang tersebar di enam belas desa dengan total luas lahan mencapai 13.754 hektar (BPS Kabupaten Pati 2020). Jika kita berkeliling di wilayah Kecamatan Sukolilo, menyusuri jalan dari rumah Gunarti di Desa Sukolilo hingga Kaliyoso, terlihat hamparan sawah membentang luas. Airnya mengalir dari sungai serta sumber air dari gua Simbar dan Wareh.
Pada 2008, wilayah pegunungan karst Kendeng benar-benar terancam dibongkar dan komunitas Sedulur Sikep yang bergantung pada pertanian pun bersiap melawan, menjadi penggerak utama gerakan penolakan rencana pabrik semen. Mereka menempuh jalan panjang selama bertahun-tahun: menyuarakan penolakan, membawa kasus ke jalur hukum, menggalang solidaritas. Akhirnya, pada 2010, mereka berhasil mengusir PT Semen Gresik. Tak lama berselang, datang PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa, menyasar wilayah tetangga: Kayen dan Tambakromo. Warga kembali menggugat penerbitan izin pabrik dan penambangan, dan pada 17 November 2015, mereka menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Tapi seperti biasa, pemerintah (Kabupaten Pati) dan perusahaan (PT SMS) tak menyerah begitu saja, dengan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya. Sementara itu, pada 2012, PT Semen Gresik yang berganti nama menjadi PT Semen Indonesia memperoleh izin di wilayah Desa Tegaldowo, Kabupaten Rembang; dua tahun kemudian, di sinilah pembangunan pabrik semen dimulai pada 2014.
Perempuan
Saat mengikuti perjalanan kasus semen, Gunarti menyadari bahwa perempuan sering kali tidak memiliki ruang untuk terlibat dalam pertemuan-pertemuan penting yang membahas dampak buruk tambang dan pabrik semen. Ia pun khawatir perempuan tidak mendapatkan informasi memadai tentang ancaman tersebut, padahal posisi mereka bisa sangat rentan jika didekati pihak lawan untuk menjual tanah. Gunarti percaya bahwa perempuan bisa melakukan hal yang jauh lebih besar bila mereka diberi informasi dan ruang-ruang untuk grenengan, curhat, ataupun berembuk. Gagasan ini juga ia sampaikan dalam berbagai pertemuan.
Sejak akhir 2007, Gunarti mulai melakukan silaturahmi ke sekitar dua belas desa yang akan terkena dampak pabrik semen. Namun, sebagai perempuan dan ibu, waktu luangnya terbatas—hanya sore atau malam hari. Itupun kalau malam ia sering kali harus meminjam sepeda motor, atau meminta antar jika lokasinya cukup jauh. Untuk desa-desa yang lebih dekat, Gunarti memilih menggunakan sepeda tuanya (ontel) sendirian. Usaha-usaha yang dilakukan Gunarti memperkuat posisi Sedulur Sikep dan warga sekitar yang menolak pabrik semen. Kekuatan perempuan mulai terlihat dengan terbentuknya kelompok perempuan Simbar Wareh, yang mengadakan pertemuan rutin dua minggu sekali. Nama kelompok ini diambil dari nama dua gua yang menjadi sumber air penting di sekitar Sukolilo: Gua Simbar dan Gua Wareh. Simbar Wareh merupakan organisasi perempuan pertama yang secara terbuka menolak pabrik semen di Pati.
Pada 2008, warga penolak semen membawa persoalan ke jalur hukum. PT Semen Gresik akhirnya dipukul mundur dari tanah Sukolilo setelah Mahkamah Agung, pada 2010, memutuskan bahwa PT Semen Gresik dan Pemerintah Kabupaten Pati terbukti melanggar peraturan daerah tentang tata ruang. Sebab, wilayah yang hendak dijadikan lokasi pabrik semen merupakan kawasan yang telah ditetapkan untuk kawasan pertanian dan pariwisata, bukan untuk industri semen.
Namun, perjuangan belum usai. Setelah berhasil menghentikan PT Semen Gresik di Sukolilo, Gunarti menghadapi babak baru ketika PT SMS, anak perusahaan Indocement, mulai masuk ke wilayah tetangga. Gunarti kembali menggerakkan Simbar Wareh untuk menyebarkan informasi ke warga di dua kecamatan yang akan terkena dampak PT SMS, yaitu Kayen dan Tambakromo. Seperti yang telah ia lakukan sebelumnya, Gunarti turun langsung mendatangi perempuan dari desa ke desa, dari rumah ke rumah, dari pengajian ke pengajian. Total ada sekitar empat belas desa yang ia sambangi. Namun, kali ini tekanan terasa lebih berat dari aparat. Tekanan sosial juga muncul dalam bentuk ucapan-ucapan tetangga yang kadang disampaikan dengan nada sindiran, bahkan kepada Kang Koh, suami Gunarti.
'Bojomu digondol wong lanang mengko, Kang', ujar Gunarti menirukan cerita suaminya—sindiran dalam bahasa Jawa ini bermakna, 'Istrimu bisa dibawa laki-laki lain nanti, Kang.'
Rumah mereka pun mulai dimata-matai. '[Ada yang] lewat beberapa kali [di] depan rumah, [rumah kami] dipotret, terus [orang itu] pergi,' katanya. Gunarti dan keluarganya lambat laun terbiasa dengan bentuk-bentuk intimidasi semacam ini. Namun, Gunarti percaya bahwa anggapan miring itu bisa ditangkis dengan bijaksana. 'Ucapan adalah senjata', ujarnya. Baginya, cara kita membentuk persepsi orang lain adalah keterampilan yang harus terus diasah dalam perjuangan. Termasuk bagaimana mengajak alam untuk menjadi sekutu perjuangan. Gunarti meyakini bahwa alam bukan benda mati, melainkan makhluk hidup yang perlu diajak berkoalisi, atau bahkan ikut melawan.
Anak
Gunarti tidak hanya bergerak di jalanan. Ia juga menanam benih perubahan di ruang tamunya sendiri. Sejak 1993, Gunarti membuka sekolah adat bagi anak-anak Sedulur Sikep, guna mengenalkan semangat perjuangan dan pelestarian lingkungan. Salah satu dorongannya adalah sara sedih, prihatin, sekaligus semangat untuk memperjuangkan kehadiran Sedulur Sikep di tengah masyarakat. Rasa sedih itu ia rasakan saat beberapa keponakannya mengadu kepadanya karena diejek teman mereka. 'Mereka diejek … karena tidak sekolah', kenang Gunarti.
Dari keprihatinan itu, Gunarti memutuskan untuk memulai kelas kecil di ruang tamu rumahnya . Mulanya hanya empat anak yang datang saban Jumat petang, termasuk dua anaknya sendiri, Heny dan Niken. Kelas dimulai selepas magrib dan selesai setelah isya. Mereka belajar membaca dan menulis, tapi yang lebih utama, mereka banyak belajar tentang tata laku sehari-hari sebagai Sedulur Sikep.
Wajibe nom-noman iku
Anampeni katehe pitutur
Kanggo muntur
Yo katoto katiti
Katitio lelakonipun
Lelakon ingkang utama
Artinya: Wajib bagi anak anak muda menerima nasihat. Setelah menerimanya, harus diteliti, ditata, dan dilakukan. Sementara kewajiban orang tua adalah menurunkan nasihat.
Kelas Gunarti tidak dipandu kurikulum tertulis; semua materi dan metode ada di kepalanya. Tapi jika merujuk pada buku Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire (1970)—yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Pendidikan Kaum Tertindas (1985)—apa yang dilakukan Gunarti sebenarnya sangat sejalan dengan semangat pendidikan yang membebaskan bagi kaum tertindas; ia mengembalikan fungsi pendidikan sebagai proses penyadaran atas segala bentuk penindasan, terutama dalam hal ini yang dirasakan oleh anak-anak Sedulur Sikep. Metode belajar ini mengedepankan dialog, bukan hafalan seperti yang biasa diterapkan; anak-anak diajak belajar dari pengalaman hidup, lingkungan sekitar yang kebanyakan tidak menerapkan ajaran Sedulur Sikep, dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat. Termasuk mengajarkan tentang apa yang terjadi di sekeliling mereka tinggal.
Kelas-kelas Gunarti juga menghidupkan semangat yang kita kenal saat ini sebagai dekolonisasi pengetahuan, di mana ia menggunakan bahasa dan aksara Jawa dalam pengajaran, termasuk melalui tembang atau lagu-lagu tradisional. Belajar dilakukan dengan bernyanyi tanpa iringan musik, menggunakan bahasa Jawa dan Kawi, yang kerap disebut macapat. Bersama murid-muridnya, Gunarti telah menulis puluhan tembang. Ia menunjukkan sebuah buku berbentuk persegi panjang yang sampulnya mulai terkelupas, yang selama ini digunakan untuk menulis tembang-tembang itu, baik dalam aksara Jawa maupun Latin. Anak-anak diajak memahami nilai-nilai laku Sedulur Sikep melalui bahasa dan nada-nada leluhur, seperti dandanggula dan pangkur.
Sekolah ini terbukti cukup efektif menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak Sedulur Sikep untuk hidup di tengah teman-teman mereka. Salah satu nasihat yang selalu diulang Gunarti kepada murid-muridnya adalah, 'Ojo gumuman, ojo kemiren', yang berarti 'jangan mudah terheran-heran, dan jangan iri hati'. Nasihat ini mengingatkan mereka agar tidak gampang hanyut dalam arus modernitas yang tanpa batas.
Sejak berdiri pada 1993, berapa banyak murid yang sudah belajar di sekolah ini? 'Mungkin sekitar seratusan, kebanyakan dari dua kabupaten: Pati dan Kudus. Ada yang ibu atau ayahnya [pernah] sekolah di sini, kini anak-anak mereka juga bersekolah di sini,' ujar Gunarti. Atas dedikasinya bidang pendidikan informal, ia diberi piagam penghargaan oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE) peringatan Hari Kartini 2023. Penghargaan ini ditandatangani langsung oleh Iriana (istri Presiden Joko Widodo) dan Wury (istri Wakil Presiden Ma’ruf Amin).
Gunarti menolak pandangan bahwa ekonomi adalah satu-satunya landasan kesejahteraan; baginya, pandangan semacam itu adalah bentuk penindasan. Ia percaya bahwa sandang, pangan, dan moral manusia harus menjadi fondasi yang sama pentingnya. Pemenuhan sandang dan pangan rakyat berkaitan erat dengan perlindungan atas tanah-tanah rakyat, sementara moral bermakna menghormati keberagaman keyakinan dan cara hidup. Suara Gunarti mewakili bagaimana bentuk penindasan berlapis dan bersilangan antara kuasa negara, agama, etnis, gender, pendidikan, hingga bahasa. Pada masa Orde Baru, kakek-kakeknya hingga Gunarti sendiri dipaksa memilih salah satu dari lima agama resmi negara. Dalam wawancaranya dengan Tempo (17/07/2015), Gunarti mengaku bahwa di KTP ia pernah tercatat beragama Islam, dan pada kesempatan lain tertulis Kristen. Baru pada 2010 ia diperbolehkan untuk tidak mencantumkan agama di KTP-nya. Sebab, agama leluhur Sedulur Sikep, yang dikenal sebagai agama Adam, tak diakui oleh pemerintah. Mereka juga dipaksa menjalani prosesi pernikahan yang mengikuti prosedur administrasi negara yang rumit. Mereka pun mengalami kesulitan saat harus mengurus layanan publik seperti kesehatan dan listrik.
Selain pandangannya tentang ekonomi, Gunarti juga selalu mengingatkan bahwa kita, manusia, adalah bagian dari alam. Ia percaya bahwa hubungan manusia dengan alam merupakan kekuatan penting dalam perjuangan. Alam adalah makhluk hidup yang bisa kita ajak berkomunikasi. Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali datang ke Rembang, di wilayah yang direncanakan menjadi lokasi pabrik semen. Di sana, ia sengaja berjalan-jalan menyusuri sumber-sumber air dan merasakan pengalaman batin bahwa alam di sekitarnya belum diajak bercakap-cakap tentang ancaman dari rencana pabrik semen. Pandangan ini merupakan kritik lokal terhadap cara pandang antroposentris yang menganggap manusia sebagai penguasa dan pengubah alam. Gunarti justru mengajak kita untuk mendudukan alam sebagai Ibu Bumi, pelaku penting dalam perjuangan, bukan objek eksploitasi.
Pandangan Gunarti selaras dengan pemikiran Carolyn Merchant dalam Earth Care: Women and the Environment (1995), yang menyebut perempuan sebagai kuncen hubungan antara alam dan budaya, perawat yang paling mampu memelihara masyarakat menuju masa depan yang lebih setara dan berkelanjutan. Kedekatan perempuan dengan alam membuat mereka melahirkan konsep etika feminis yang terus diartikulasikan oleh banyak pemikir, termasuk Swanson (2015), yang menyatakan bahwa 'etika feminislah yang mengikat kita pada ibu bumi.' Kedekatan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga berakar pada pengalaman sehari-hari perempuan dalam berinteraksi dengan alam dan dalam kegiatan sehari-hari di komunitas. Dalam pandangan ini, perempuan mempunyai posisi epistemologis yang unik. Dibandingkan laki-laki, perempuan punya pengetahuan lebih banyak serta pengalaman berbeda dan lebih baik tentang cara alam bekerja. Artinya, perempuan punya potensi untuk menciptakan paradigma ekologi baru, baik secara teoretis maupun praksis. Perempuan dipercayai sebagai pelaku yang handal, bukan hanya karena berposisi sebagai korban yang mampu bersuara sebagai saksi, tapi juga dalam taktik-taktik perlawanan, penyintasan, hingga pemeliharaan praktik-praktik kearifan lokal.
Gunarti mempraktikkan perawatan tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada alam. Ia meletakkan alam sebagai ibu bumi yang ikut berjuang bersama. Gagasannya sejalan dengan prinsip ekofeminisme more-than-human, yaitu pendekatan yang mengedepankan kesetaraan sesama makhluk hidup dalam sistem ekologi yang saling bergantung. 'Saya minta maaf pada padi di sawah saya karena harus pergi menghadiri kegiatan, sehingga tak bisa ikut merawat,' ujar Gunarti, menegaskan bahwa ia memperlakukan tanamannya sebagai entitas hidup yang layak dihormati. Mata pencaharian utama Sedulur Sikep adalah bertani, khususnya tanaman pangan padi. Mereka mengakui bahwa hidup mereka bergantung pada padi.
Gunarti juga berterima kasih pada gua mata air Simbar dan Wareh yang terus menyediakan air bagi kehidupan sehari-hari Sedulur Sikep.










