Sep 27, 2021 Last Updated 4:59 AM, Sep 20, 2021

Esei: Jangan lupa cuci piring

Published: Jan 27, 2021
Terkunci dari teater langsung, Dina menghabiskan waktu merenungkan arti ruang fisik, menikmati waktu istirahat, dan membantu orang lain tetap aman
English version

Dina Triastuti

Sebagai sebuah kelompok independen yang baru berdiri sejak Maret 2012 Kalanari Theatre mempunyai rencana dan agenda tahunan bersama cita-cita mulia. Atas nama kelompok, kami menyewa sebuah rumah kecil: bangunan fisik yang kami gunakan sebagai ruang berkumpul, diskusi atau bertukar ide. Beruntung masih ada sebidang halaman beralas tanah yang bisa kami pakai untuk latihan. Semua bertumbuh dan organik. Rumah tepi sawah yang berada di bagian selatan Yogya ini selalu hangat oleh kopi yang diseduh sore hari bersama sepiring pisang goreng, rekan serta sahabat yang berproses bersama, duduk melingkar sembari ngobrol seni-senian. Asyik bukan?

Tahun ini, 2020 akan ada serangkaian workshop serta kolaborasi (padahal kami lebih sering menyebut latihan bareng) sepanjang Maret-Mei, latihan intensif di Juni-Agustus kemudian pentas di akhir Oktober atau November. Tidak muluk-muluk demi menjaga idealisme dan eksistensi kelompok serta estetika yang original kami selalu ingin punya satu karya yang dipersiapkan dengan mandiri. Disamping ada beberapa agenda kecil dan rutin kami susun seperti; temen ngobrol (serial diskusi), latihan bareng, kalabaca (kelas membaca).

Bagaimana kami ‘menghidupi’ kelompok ataukah kelompok kecil tersebut yang ‘menghidupi’? Hibah seni dan mencecap dana keistimewaan adalah nikmat yang datang tidak setiap hari. Keberuntungan itu tidak dapat digantungkan setiap saat. Jika rejeki itu tiba maka kami harus pandai menabung. Namun ada kalanya saldo kas kelompok harus diputar teramat pelan. Badan penerbitan buku Kalanari, Kalabuku lah yang kemudian menopang aman. Sebuah penerbitan independen, masih cukup kecil karena hanya mampu mencetak buku sesuai permintaan. Namun setidaknya ia mampu menjaga nafas pergerakan kecil akan literasi teater dan budaya pertunjukan. 

Hidup di negara yang konon kaya raya, loh jinawi tata tentrem karta raharja kami adalah pribadi yang semata-mata belum bisa hidup hanya dengan mengandalkan dari dunia kesenian. Kalanari theatre kadang menjadi ruang singgah atau pintu masuk menuju kehidupan yang lebih luas. Kami sadar bukan seniman yang kaya sejak lahir dan bukan lahir dari seniman yang kaya. Perihal ekonomi dan ‘urip’ hidup adalah ulang alik yang membuat masing-masing individu di Kalanari menjadi manusia super yang serba bisa, kreatif namun tetap unik. Justru hal itulah yang membuat kami cukup kaya. Kekayaan potensi dan latarbelakang seringkali tidak dapat kami ukur dengan nilai mata uang. Biarlah itu menjadi modal kami yang utama.

Saat pandemi

Pada bulan Maret beberapa teman yang berada di luar Indonesia berkabar tentang sebuah virus bernama covid-19. Saya lalu teringat pernah membeli sebuah buku berjudul Sampar terjemahan dari La Peste tulisan Albert Camus. Saya baca sampai habis! Makin intensif saling berkontak seputar pertanyaan: ‘Sehat kan? Bagaimana di Indonesia? Aman gak?’. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa itu pandemi. Selama 1-3 hari saya masih bengong dan bingung. Pada saat negara lain menetapkan lockdown, nyatanya saya masih bisa ke pasar membeli sayur, tahu dan tempe. Dan untuk pertama kalinya saya kenal aplikasi bernama: Zoom Meeting!

Sabtu malam minggu, tanggal 28 Maret 2020 pukul 21.00 atas undangan Joned Suryatmoko dan Naomi Srikandi kami berjumpa di zoom: Masih Perlukah Perjumpaan Fisik dalam Teater dan Seks Kita? Itulah tema obrolan kami. Tak banyak yang ikut serta, sekitar 20-an kawan berkesenian, yang berkelompok dan senasib sepenanggungan. Setidaknya mulai hari itu kami yakin dan masih menggantungkan HARAPAN pada teater. Untuk pertama kalinya juga saya merasa asing. Membayangkan ngobrol dan saling menguatkan dengan sahabat karib, rekan serta handai taulan yang berbeda tempat, jarak dan waktu lewat layar monitor masing-masing namun barangkali dengan perasaan yang sama. Bisa ditebak selanjutnya catatan di buku kecil saya dipenuhi oleh kode meeting ID beserta password. Berbagai live IG, zoom meeting, youtube diikuti semata-mata hanya untuk menutupi kebosanan dan menggeser rasa cemas.

Bagaimana mungkin kami yang biasa berkontak fisik, melakukan aksi-reaksi, merespon gerak tetiba harus diam dulu di rumah. Tidak boleh bertemu, tidak ada latihan lalu batal pentas. Terseok-seok harus hidup dengan tabungan yang tak seberapa. Bagi kami tidak ada yang normal, terlebih normal baru. Semuanya sangat tak normal dan tak biasa! Kesulitan membayar kontrakan rumah adalah desakan pertama yang muncul. Otak berputar cepat. Sebelum itu terpecahkan, memastikan teman-teman di lingkaran Kalanari tetap aman adalah yang utama. Pada awal kebingungan, kami sempat menggalang donasi serta membagikan beras, mie instant dan susu untuk kalangan terbatas. Kegagapan menyikapi pandemi kita tanggung bersama.

Pelan-pelan kami mencoba merespon pandemi. Potluck Teater adalah salah satu platform yang digagas oleh paguyuban teater Jogja. ‘Paling Pulang’ adalah karya pendek yang pertama kami produksi dalam bentuk digital. Selanjutnya kami terlibat Teratotera 2020 yang digarap oleh Ruang Mes 56 sebuah seri foto komunitas seni di Yogyakarta. Pertemuan dengan Alfian Widianto, seorang fotografer National Geographic yang melihat kami sebagai objek Human Interest paling potensial berhasil terekam dalam bidikan kamera. Kami memilih melakukan aktivitas-aktivitas kecil yang dilakukan dengan gembira nan bahagia.

Sebuah akan: masih ambang

Desember yang panen proyek. Proposal bertebaran, kelompok-kelompok baru mendadak pentas banyak yang lahir, diiringi istilah baru yang cepat diserap dalam keseharian. Di saat banyak kelompok beramai-ramai membuat pentas online, daring, tapping, dokumentasi video dan film kami justru anteng, adem ayem, tidak larut dalam dunia digital yang sesungguhnya melelahkan. Membuat rekaman yang biayanya dua kali menggarap pentas tapi dihitung dengan budget satu kali pentas mungkin tidak sesuai dengan nalar kami. Secara energi, waktu dan sumber daya itu semua tak mudah. Biarlah kami memilih menunggu untuk bertemu langsung. Bukankah aktor, penonton dan ruang masih perlu hadir bersama? Energi itu tak akan tergantikan oleh layar virtual. Setidaknya itu yang kami yakini. Sampai kapan? Semoga segera bertemu...

Jeda dan diam itu berharga. Ia memberi ruang untuk bernafas dan akan melegakan. Dalam jeda itu saya mencoba menarik nafas dalam-dalam seraya bertanya; Masih perlukah ruang fisik? Apa makna ruang fisik? Masih pentingkah kita berkelompok? Dana cadangan mutlak disiapkan? Diam-diam saya mencatat ada seniman yang bersepakat untuk berserikat dalam Penastri-Perkumpulan Nasional Teater Indonesia, PTN Konferensi Indonesia, Asosiasi Seniman Teater yang tumbuh di saat pandemi dan semoga jaya selalu.

Seperti pesta yang meninggalkan tumpukan piring dan gelas kotor, walau pandemi bukan pesta cucian itu harus kita bereskan bersama. Jangan lupa cuci tangan, pakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan adalah gaya hidup kita hari ini. Pandemi agaknya belum akan usai, maka mencuci piring kadang perlu untuk menjaga kebersihan dan kewarasan bersama.

Dina Triastuti (dina.triastuti@gmail.com) adalah pemraktik dan peneliti teater, production manager dan ‘founding member’ dari Kalinari Theatre Movement.

Inside Indonesia 143: Jan-Mar 2021

Latest Articles

Reshaping masculine cultures of terrorism

Sep 20, 2021 - NOOR HUDA ISMAIL

Young men gather at Monas, Jakarta / Francisco Anzola @Flickr creative commons

Former members of terror networks are focussing on masculinity’s role in encouraging violent extremism in Indonesia

A lost generation

Sep 01, 2021 - ANTON LUCANUS

'Where we used to be', Central Jakarta, 2020 / ATH

Thousands of children have been orphaned and ostracised as the pandemic crisis continues to spiral

Film review: Kinipan

Aug 31, 2021 - ARFAN AZIZ

How forest restoration and food estate policies affect local communities

Photo essay: Banyutowo harmony

Aug 28, 2021 - HUTAMA LIMARTA

Locally bought fishermen’s catch at Banyutowo Fish Auction House

A fishing village on the northern tip of Java stays true to its roots

Rethinking development

Aug 11, 2021 - VENANSIUS HARYANTO

Farmers work a potato farm near a geothermal plant on the Dieng Plateau, on the Indonesian island of Java / Raditya Mahendra Yasa via Flickr (CC BY-NC-ND 2.0).

A deadly accident at a geothermal power plant in North Sumatra in January 2021 has galvanised local indigenous community-led opposition to a similar planned development on Flores Island

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar