Aug 03, 2021 Last Updated 4:08 AM, Jul 29, 2021

Saatnya berbicara tentang rasisme

Published: May 10, 2021
English version

Jemma Purdey, Antje Missbach and Tamata Soukotta

Dalam dua tahun terakhir, isu ras dan rasisme telah menjadi salah satu topik utama dalam debat politik dan sosial di banyak negara, termasuk Indonesia. Resonansi gerakan #BlackLivesMatter di Amerika Serikat terasa secara global dan memantik sejumlah aksi termasuk #PapuanLivesMatter dan seruan untuk perubahan di Indonesia. Sebagai negara dan bangsa poskolonial, rasisme adalah tema penting dalam sejarah Indonesia, yang terus terasa dalam seluruh aspek kehidupan di masyarakat, mulai dari seni, sastra, dan standar kecantikan, hingga politik dan ekonomi. Sebagaimana ditulis oleh dua kontributor untuk edisi ini, Weipo dan Munro, ‘Tidak ada fakta biologis mengenai ras – secara genetik seluruh umat manusia saling berkaitan, namun ide mengenai ras terus bertahan dalam imajinasi sosial.’

Dalam edisi ini, kami menelusuri bagaimana ras dan rasisme berkembang, dan terus hadir dalam imajinasi sosial yang berdampak dalam kehidupan masyarakat Indonesia hingga hari ini. Edisi ini juga berupaya memahami tanggapan individu dan kolektif terhadap rasisme, dan apa saja harapan untuk masa depan yang menjadi bahan diskusi dalam ranah publik.

Edisi ini dimulai dengan provokasi dari Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid yang mempertanyakan landasan berbangsa negara Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Hamid menyorot sejumlah tantangan yang dihadapi kelompok minoritas ras dan agama dalam mendapatkan akses yang setara ke sistem peradilan, dengan memberikan contoh masyarakat Papua dan Tionghoa. Siapa yang menjadi kelompok paling rentan dalam masyarakat Indonesia, dan mengapa rasisme terhadap mereka masih terjadi? Mengapa masih sangat sulit untuk dapat mengadili tindakan kejahatan kebencian (hate crime) berdasarkan ras dan etnis?

Pertanyaan-pertanyaan ini menggema dalam konteks historis, sosial, dan politik yang lebih luas, di mana diskusi terkait Suku, Bangsa, Ras, dan Agama (SARA) secara resmi dianggap tabu sejak era 1960-an. Sebagaimana ditanyakan oleh Tamara Soukotta dalam artikelnya, pertanyaan sederhananya adalah, ‘apakah masyarakat Indonesia sudah siap atau bersedia membahas rasisme?’

Weipo dan Munro menyoroti isu ketidakadilan ekonomi sebagai konsekuensi dari ‘rasisme teknokratik’. Penulis berargumen bahwa kepercayaan bahwa warna kulit dan budaya menentukan perilaku dan kemampuan seseorang telah berdampak pada terbatasnya kesempatan pekerjaan masyarakat Papua dan melanggengkan stereotipe negatif, meski pemerintah pusat berkomitmen memperbaiki perekonomian Papua. Alfonsa Jumkon Wayap juga meneliti tema ini dengan menceritakan diskriminasi struktural dan berbasis gender dalam pasar tradisional Papua atau kerap disebut ‘pasar mama mama’.

Ilham menceritakan pengalaman para pengungsi yang terdampar di Indonesia dan tidak dapat kembali ke negara asal mereka atau melanjutkan hidup mereka di negara baru. Cerita tersebut mengungkap rasisme yang berlapis-lapis dan proses ‘meliyankan’ pengungsi yang terjadi di masyarakat Indonesia maupun lainnya. Pembatasan dan hierarki terus-menerus dilanggengkan dan diperbaharui. Artikel Anne-Meike Fechter berfokus pada kelompok migran lain di Indonesia, yang memiliki pengalaman yang jauh berbeda. Kelompok ekspatriat di Indonesia, yang secara historis mayoritas orang kulit putih, telah lama memiliki privilese tertentu. Namun, dalam dua puluh tahun terakhir dengan peningkatan pergerakan antarnegara, asal negara ‘kelompok’ ini pun semakin bervariasi. Dalam konteks Indonesia sebagaimana di konteks-konteks lainnya, fenomena ini telah menarik perhatian pada pentingnya interseksi warna kulit dengan ras, keahlian, dan kebangsaan dalam memahami pengalaman rasisme.

Seni, budaya, sejarah, dan tubuh

Kehadiran ras dan rasisme juga tampak nyata dalam budaya populer. Apa yang kita ketahui mengenai bagaimana negosiasi rasisme dan ras dalam media, dan bagaimana media sosial berdampak pada wacana tersebut? Seringkali, stereotipe dan bias mengenai etnis tampak dalam berbagai bentuk seni. Di sisi lain, rasisme juga dapat ditangkal melalui medium tersebut. Sebagaimana ditunjukkan dalam tulisan-tulisan di edisi ini, dalam banyak hal seni berada di posisi terdepan dalam debat dan aktivisme mengenai ras dan rasisme di Indonesia. Bagaimana Indonesia menggunakan seni sebagai alat untuk menegosiasi isu-isu terkait ras?

Salah satu seniman kontemporer paling terpandang di Indonesia, FX Harsono, berbagi perjalanan pribadinya dalam berziarah dan mengungkap sejarah yang hilang mengenai kekerasan yang dialami masyarakat Tionghoa selama Revolusi. Sebagaimana dijelaskan Usman dalam tulisannya, masyarakat Tionghoa merupakan salah satu kelompok minoritas yang secara konsisten mengalami marjinalisasi dan diskriminasi dalam sejarah kolonial dan modern Indonesia. Melalui upayanya merekam, memetakan, dan memberikan penghormatan pada mereka yang menderita dan dipersekusi atas dasar ras, karya artistik FX Harsono bersifat ganda: sebagian serupa investigasi forensik detektif, dan sebagian lagi terapi pemulihan luka batin.

Menggunakan tagar #papuancurls, influencer dan model Papua Monalisa Sembor merupakan salah satu anak muda Indonesia yang menggunakan media sosial dan budaya populer untuk mengubah persepsi kecantikan dan identitas / Dipublikasi dengan izin

Esai Sadiah Boonstra menjelaskan secara mendetil karya seniman digital Indonesia, Syaura Qotrunadha, yang menginterogasi cara-cara antropolog, museum, dan pemerintah mengklasifikasi dan melakukan komodifikasi ras dalam narasi kolonial Indonesia. Jika diamati menggunakan lensa kontemporer, gambar berbagai tengkorak masyarakat asli Indonesia yang diabadikan di museum-museum Belanda untuk mendukung wacana hierarki saintifik mengenai ras terlihat konyol. Namun, sebagaimana diobservasi oleh Boonstra, karya Syuara menunjukkan narasi tersebut merupakan warisan rasisme yang tak kunjung berakhir.

Ulasan Wulan Dirgatoro mengenai produksi teater Garin Nugroho berjudul The Planet – A Lament menggarisbawahi ketegangan yang dapat timbul antara intensi artistik dan praktiknya. Dia menunjukkan pentingnya fokus yang diberikan Nugroho kepada para pelaku teater yang berasal dari Indonesia Timur dan Papua, dengan menggabungkan bentuk-bentuk artistik personal mereka, tapi juga bagaimana penggambaran-penggambaran tersebut turut berbalik mendukung stereotipe yang kurang menyenangkan.

Penting untuk memahami keberlanjutan historis dari rasisme, sehingga edisi ini juga mendorong berbagai perspektif historis. Apa dampak dari sejarah historis Indonesia dalam pemikiran masa sekarang mengenai ras dan etnis? Apa saja stereotipe, bias, dan ketidaksetaraan yang dapat dipahami sebagai keberlanjutan masa kolonial? Seperti Boonstra dan Harsono, Bronwyn Beech Jonesmembawa kita ke masa lalu, melalui cerita dua gadis kecil di Sumatra Barat pada awal abad ke-20, untuk menggarisbawahi cara-cara kompleks bagaimana konsep ‘menjadi [orang] Melayu’ dibentuk, dikonstruksi, dan dialami pada masa tersebut.

Dengan berbasis pada pendekatan feminis dan interseksional, seperti Beech Jones, artikel-artikel dari L. Ayu SarawatiTerje Toomistu dan Monika Winarnita berupaya menganalisis interaksi jenis kelamin, gender, dan seksualitas dengan ras, dan bagaimana interaksi tersebut dapat berujung pada peningkatan kerentanan. Sebagaimana mereka jelaskan, standar kecantikan juga dipengaruhi oleh konsep-konsep rasial, sebuah pemahaman yang terus bertumbuh di kalangan anak muda Indonesia, yang memotivasi semakin banyak anak muda untuk secara aktif melawan norma-norma tersebut.

Dengan pengaruh gerakan BlackLivesMatter yang turut membangkitkan #PapuaLivesMatter dan kampanye-kampanye anti-rasisme lainnya, apakah kita sedang menyaksikan dialog-dialog atau pendekatan baru pada rasisme di Indonesia?

Kontribusi pada edisi ini mengindikasikan bahwa meskipun secara internasional dan terutama di Kawasan Utara isu ras dan rasisme semakin banyak menempati posisi terdepan dalam kritik, aksi protes, dan (dalam beberapa kasus) perubahan politik dan sosial, situasi di Indonesia cukup berbeda. Sebagaimana Yuliana Langowuyo mengungkapkan dalam esai cerita pribadinya yang menyentuh, dalam konteks Indonesia yang multietnis, konsep rasisme, diskriminasi, dan hak asasi manusia dapat berbenturan langsung dengan gagasan mengenai keluarga, identitas, dan kepemilikan (belonging).

Dalam kerja kami menerbitkan edisi ini dan bekerja sama dengan para penulis, menjadi jelas bagi kami bahwa diskusi terbuka atau eksplisit mengenai rasisme sebagai masalah struktural di Indonesia masih berada di tahap yang sangat awal. Sebagaimana ditunjukkan olah para kontributor, diskusi tahap awal ini dimulai dari bagian masyarakat yang seringkali menginisiasi perubahan lebih besar – seni, budaya populer, dan anak muda. Kami percaya bahwa edisi ini turut menjadi kontribusi yang kecil namun penting dalam diskursus yang semakin berkembang ini, dan kami menanti dengan penuh harap perkembangan dan kemajuannya dalam tahun-tahun mendatang.

Jemma Purdey adalah Commissioning Editor Inside Indonesia dan ketua Dewan. Antje Missbach adalah Profesor Migrasi dan Mobilitas di Bielefeld University, Jerman. Tamara Soukotta adalah Peneliti PhD di The International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam dan Dosen di Bachelor International Studies, Leiden University.

Inside Indonesia 144: Apr-Jun 2021

Latest Articles

Countering the information void to beat COVID-19

Jul 19, 2021 - LaporCovid-19

/ Ahmad Tri Hawaari

In the absence of reliable government information, citizens are stepping up to share local stories on COVID-19 and keep each other informed about the state of the pandemic

Carmel Budiardjo (1925-2021)

Jul 19, 2021 - KATHARINE MCGREGOR

/ Tapol.org

Human rights campaigner Carmel Budiardjo died aged 96 on 10 July 2021, after a long and dynamic life of activism dating back to her years as a student activist in...

Review: A narrative of denial

Jul 05, 2021 - PAT WALSH

COVID-19 denial in Indonesia

Jun 21, 2021 - NAJMAH, KUSNAN, SARI ANDAJANI, SHARYN GRAHAM DAVIES & TOM GRAHAM DAVIES

Antara Foto/ Irwansyah Putra

Mixed messaging from government about COVID-19 has left rumours and competing narratives to fill the information void, fuelling mistrust

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar