Oct 29, 2020 Last Updated 10:59 PM, Oct 26, 2020

‘Mengapa anda di sini?’

Published: Jul 24, 2020
English version
Sebuah kisah pribadi tentang merawat masyarakat yang paling rentan

Anke Felicitas Boeckenfoerde

‘Mengapa Anda berada di sini, di Indonesia?’ Orang sering bertanya kepada Saya. Sejujurnya, bukan suatu hal yang mudah untuk dijawab. Tetapi, jawabannya pasti tidak bisa diberikan tanpa dua kata ini: Gila dan Cinta.

GILA. Tidakkah Anda akan menertawakan keputusan Saya untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian, jauh dari zona nyaman, beriklim tropis dan budaya yang asing bagi Saya. Terlebih lagi keputusan untuk hidup di kota besar dengan polusi udara dan kemacetan yang terus menerus. Anda akan lebih terheran-heran jika tahu bahwa saya mencintai alam dan senang bersepeda setiap hari. Apa yang dapat memotivasi Saya, sehingga Saya mau melepaskan pekerjaan yang sudah mapan sebagai Psikiater dengan penghasilan tetap di salah satu rumah sakit di Jerman? Sedangkan di Indonesia, Saya harus mengeluarkan biaya tahunan untuk izin tinggal. Bukankah kegilaan ini juga yang memaksa Saya harus mengajukan proses permohonan surat izin praktik yang rumit dan tidak jelas sebagai seorang Psikiater. Konon, sampai hari ini belum ada satupun dokter asing yang sudah mendapatkan izin ini. Dan, jangan lupa usaha yang sangat besar untuk mempelajari bahasa serta budaya yang baru dari nol.

Pastinya ada alasan yang kuat kenapa Saya meninggalkan seluruh kenyamanan dan keamanan yang sudah Saya miliki. Tidak ada kata yang lebih tepat daripada kata CINTA: Cinta untuk sebuah negeri yang begitu beragam, Indonesia, dengan budaya ‘Selamat Datang’ dan keramahtamahannya. Selalu ada upaya untuk menolong seseorang, wajah yang tersenyum dan suara ceria yang menyambut. Saya bersyukur mempunyai kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam komunitas yang beragam etnis, agama, dan budaya, khususnya di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, tempat Saya bekerja pada saat ini. Apabila Saya keluar dari Jakarta, Saya sering terkagum-kagum dan terpesona pada keindahan alam negeri ini, dengan sawah-sawah yang hijau, pemandangan gunung berapi, pantai-pantai yang sepi, dan pohon-pohon tua yang begitu tinggi dan besar serta banyak hal yang menarik lainnya.

CINTA. Semenjak masa kecil, Saya sudah merasakan empati dan cinta kepada orang-orang sakit yang terpinggirkan. Saya bercita-cita untuk menjadi Dokter bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap layanan medis. Maka, berpraktik di tempat di mana tidak terdapat Dokter sama sekali, adalah konsekuensi logis dari keinginan ini.

Penulis sedang berbicara dengan Sarah*, yang berada dalam pasung di sebuah desa terpencil di Pulau Flores. Foto oleh Penulis.

Saya menjadi Psikiater setelah menyadari bahwa gangguan jiwa adalah salah satu masalah kesehatan yang paling terabaikan di dunia dan bahwa gangguan ini masih tabu di kebanyakan negara. Psikiatri merupakan suatu cerminan dari sebuah kelompok masyarakat yang bisa memberikan wawasan mengenai isu sosial dan budaya dari kelompok orang dengan gangguan jiwa. Saya semakin menyadari bahwa Tuhan memberikan Saya hati penyayang untuk orang yang menderita depresi, psikosis, adiksi, gangguan kepribadian, dan gangguan lainnya. Semakin lama Saya berkecimpung di bidang ini, semakin Saya percaya pada kehadiran Tuhan di dalam orang dengan gangguan jiwa.

Sarah

Setelah sepuluh tahun bekerja di rumah sakit jiwa di Jerman, sebagai dokter spesialis jiwa, Kongregasi meminta Saya untuk melakukan kunjungan singkat ke Indonesia. Di berbagai daerah Indonesia, saya menemukan banyak orang dengan gangguan jiwa. Salah satunya adalah Sarah*. Ia tinggal di Flores, yakni salah satu pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mayoritas penduduk di sana beragama Katolik Roma. Kebanyakan wilayah di pulau tersebut kurang berkembang dan angka kemiskinan termasuk tinggi.

Saat itu kami dalam perjalanan untuk bertemu Sarah, seorang perempuan berumur 33 tahun yang tinggal di Flores. Kami mengikuti jalan aspal yang curam hingga mencapai titik dimana kami harus meninggalkan mobil jip dan berjalan untuk beberapa kilometer terakhir. Kami mendaki sebuah bukit yang terjal untuk mencapai sebuah desa yang terletak di lereng bukit. Dari jauh, kami mendengar suara seorang perempuan menangis—tetapi tiba-tiba, terdengar ia tertawa. Desa ini berada di wilayah yang sangat miskin dengan hanya beberapa rumah kecil yang bobrok. Ketika kami tiba, kami bertemu dengan Sarah yang sedang duduk sendiri di depan sebuah rumah.

Kaki kiri Sarah terikat di batang pohon yang memiliki panjang sekitar dua meter dan sangat berat. Orang tuanya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan saudara-saudara lelakinya telah pindah ke tempat jauh untuk bekerja. Sarah memiliki tiga anak yang tinggal dengan keluarga ayah masing-masing. Enam tahun yang lalu, masyarakat desa memutuskan untuk memasungnya. Orang-orang takut dengan Sarah dan berpikir bahwa ia ‘kesurupan roh jahat’. Sarah sering tertawa tanpa alasan yang jelas, berbicara sendiri, dan kadang-kadang melepas pakaiannya di muka umum.

Ketika kami mulai berbicara dengan Sarah, ia terkesan agak mudah marah, tetapi ia terlihat memahami pertanyaan kami. Kebanyakan jawabannya terdengar cukup baik. Sampai saat kami mengunjunginya itu, Sarah belum pernah diperiksa oleh tenaga kesehatan. Ketika kami hendak pulang, ia mulai menangis tersedu-sedu. Saya segera memeluk Sarah sehingga membuatnya perlahan menjadi lebih tenang.

Derita dan harapan

Sarah hanyalah satu dari seratusan orang dengan gangguan jiwa terpasung, yang Saya temukan di Flores selama empat tahun terakhir. Beberapa dari orang-orang ini sangat berkesan di hati saya. Banyak dari mereka sudah dilepas dari pasung karena kerja keras dan usaha kelompok setempat yang begitu berkomitmen seperti Kongregasi Bruder Karitas, yang mendirikan sebuah pusat rehabilitasi dan klinik untuk individu dengan disabilitas psikososial pada tahun 2014. Tempat ini dinamakan Renceng Mose dan merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi yang berbasis medis untuk orang-orang di seluruh Pulau Flores.

Pusat Rehabilitas Renceng Mose, Ruteng: Kelas pagi / Penulis
Di depan Pusat Rehabilitas Renceng Mose, Ruteng. Penulis dengan Bruder Ferdinand (kiri) dan Bruder Honorius (kanan) / Penulis

Salah satu kelompok yang paling berpengaruh bagi orang awam di Flores adalah kelompok dukungan untuk masyarakat bernama Kelompok Kasih Insanis (KKI). KKI didirikan oleh seorang Romo yang bernama Avent Saur, SVD (Societas Verbi Divini) pada Februari 2016 di Ende, yakni sebuah kota di Flores Tengah. Kelompok ini membantu dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dari orang yang dipasung. KKI juga telah menjembatani pasien dengan sistem kesehatan dan terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu kesehatan jiwa. Selain Bruder Karitas dan KKI, terdapat pula Kongregasi Camilian di Maumere, salah satu kota terbesar yang terletak di Flores Timur. Di Maumere ada juga Panti rehabilitasi penyandang disabilitas bernama Santa Dymphna yang sebagian besar penghuninya adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Jerman, negara asal saya, memiliki sejarah yang kelam tentang perlakuan terhadap orang dengan gangguan jiwa pada rezim Nazi di tahun 1939 hingga 1945. Banyak pasien dikurung dan lebih dari 300.000 orang dibunuh. Hari ini, di dunia Barat, praktik pemasungan fisik masih saja terjadi pada beberapa institusi, sementara di negara berkembang pemasungan sering dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Tampaknya dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada berberapa penelitian yang dilakukan terkait pasung di Indonesia. Meskipun demikian masalah pasung jauh dari tuntas sampai hari ini.

Pasung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘alat untuk menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher’. Metode yang sering ditemui di Flores adalah pasung dengan menggunakan balok kayu, tali, dan mengurung seseorang dalam satu ruangan.

Selama beberapa tahun terakhir ini, semakin banyak pasien pasung yang Saya lihat, semakin Saya mengerti alasan kenapa keluarga akhirnya menggunakan cara pasung sebagai solusi yang singkat walaupun tidak manusiawi.

Anggota-anggota KKI. Pater Avent Saur, SVD, duduk di sisi kanan / Avent Saur

Di daerah yang terpencil, mereka tidak ada alternatif lain; para keluarga sering merasa terbebani dan terlantar. Adanya kekhawatiran tentang risiko menyakiti orang lain dan diri sendiri, kabur dari rumah, dan perilaku yang memalukan—seperti Sarah yang melepas pakaian di depan umum—telah memaksa keluarga untuk memasung anggota keluarganya. Karena kebanyakan orang berpikir bahwa keluarganya yang memiliki gangguan jiwa telah ‘kesurupan kekuatan gaib atau roh jahat’ maka mereka berkonsultasi dengan ‘orang pintar’/dukun. Di wilayah di mana akses layanan kesehatan jiwa dan dukungan lainnya sulit didapat, atau bahkan tidak ada, pengobatan medis dicari hanya sebagai pilihan terakhir saja.

Flores hanya memiliki satu orang Psikiater untuk populasi hampir dua juta orang dan di beberapa wilayah, kesehatan jiwa belum dianggap sebagai prioritas oleh Dinas Kesehatan setempat.

Ditambah lagi, kemiskinan memainkan peran yang besar. Lia*, seorang ibu dari anak laki-laki yang memiliki gangguan jiwa dan dipasung, menyampaikan kepada kami: ‘Sebagai sebuah keluarga, kami harus bisa memutuskan apakah akan membeli satu karung beras atau menghabiskan uang ini untuk membawa ia ke dokter dan beli obat untuk anak kami yang sakit.’ Tidak hanya kemiskinan yang mengakibatkan orang yang menjadi sakit, namun penyakit juga bisa mengakibatkan kemiskinan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyadari bahwa pasung adalah penanganan yang mendiskriminasi dan tidak manusiawi untuk orang dengan gangguan jiwa, melanggar hak asasi manusia dan memiliki dampak buruk yang sangat besar untuk kesehatan. Pemerintah telah meluncurkan beberapa program untuk mempromosikan kesehatan jiwa dan mengakhiri pasung, termasuk program yang dinamakan ‘Indonesia Bebas Pasung 2014’, yang sekarang telah diperpanjang hingga tahun 2030. Ditambah lagi, ada banyak peraturan tambahan untuk pengentasan pasung yang telah diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir.

‘Mengapa anda berada di Indonesia, Suster?’

Sebagai Psikiater yang peduli terhadap kesejahteraan orang dengan gangguan jiwa, terasa sangat menyakitkan untuk melihat penderitaan mereka. Tetapi bagaimana menjawab kebutuhan-kebutuhan ini sebagai seorang ‘bule’ dari budaya yang berbeda dan tanpa memiliki izin praktik? Anna Dengel, pendiri kongregasi saya, mengatakan: ‘Jika Kamu sungguh mencintai…, Kamu inventif... jika Kamu sungguh mencintai… Kamu akan berusaha mencari tahu dan Kamu akan sabar serta tabah hati’.

Program pelatihan Jiwa Merdeka

Satu hasil dari usaha kami di Flores adalah Program Pelatihan Jiwa Merdeka. Saya bersyukur untuk Universitas Atma Jaya yang mendukung visi saya untuk Flores Bebas Pasung. Staf dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Kedokteran, bersama dengan Psikiater dari Seksi Psikiatri Komunitas-PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) bersama-sama telah mengembangkan sebuah program bernama Jiwa Merdeka, untuk merespons kebutuhan orang dengan gangguan jiwa yang terpasung di Flores. Program pemberdayaan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan jiwa ini merupakan kolaborasi antara Dinas Kesehatan setempat dan pihak berkepentingan lain di Flores. Program ini juga merupakan proyek penelitian para peneliti dari kedua fakultas, dan menyediakan pelatihan untuk tenaga kesehatan dan orang yang merawat ODGJ untuk meningkatkan pengetahuan mereka mengenai gangguan jiwa sekaligus penatalaksanaan dan pengobatan gangguan jiwa.

Program Pelatihan Jiwa Merdeka, 2019 / Penulis
Program Pelatihan Jiwa Merdeka, 2020 (kanan) / Penulis

Melepaskan individu dari pasung saja tidak cukup. Ini hanya titik awal untuk pengembangan sistem kesehatan jiwa yang efektif dan berkelanjutan, bebas dari stigma, diskriminasi dan penghinaan.

Hanya apabila semua pihak yang disebut di atas bisa bekerja sama sesuai dengan komitmen, maka kita bisa memperbaiki pelayanan kesehatan jiwa dan menghilangkan metode pasung. Dengan demikian, di masa yang akan datang kita bisa berharap, Sarah dan yang lainnya bisa menjalani kehidupan sosial dan menjadi bagian dari masyarakat yang bermakna dan dihargai.

Ayo! Bersama kita bisa!

*nama-nama telah diganti

Anke Felicitas Boeckenfoerde adalah Psikiater dan Psikoterapis dari Jerman, dan anggota dari Kongregasi Biarawati Karya Kesehatan/Medical Mission Sisters. Sejak tahun 2016, Ia tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya di Jakarta.

Inside Indonesia 141: Jul-Sep 2020

Latest Articles

Why so serious?

Oct 15, 2020 - PRATIWI UTAMI

Twitter/mumaxxmuma

Netizens’ responses to the banning of a popular slang word raise questions about the moral character of public communication

Review Essay: Banishment and belonging

Oct 02, 2020 - RON WITTON

Japanese and Malay Pearl Divers / State Library of Western Australia

Essay: Seeking solace in the midst of COVID-19

Sep 25, 2020 - SEBASTIAN PARTOGI

Since the beginning of the coronavirus outbreak the book club has hosted weekly virtual meetings/ Baca Rasa Dengar

Book clubs and creative communities have headed online where they provide Jakartans with vital connections and solace during the pandemic

A 150-year old obstacle to land rights 

Sep 18, 2020 - AHMAD DHIAULHAQ & WARD BERENSCHOT

Protestors calling for land reform, Jakarta, September 2019 / Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

The Dutch colonialists adopted the concept of domein verklaring (domain declaration) to claim control over a large part of Indonesia’s land. This act lives on in modern-day Indonesia, causing conflict...

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar