Sep 19, 2021 Last Updated 10:51 AM, Sep 1, 2021

Budaya populer queer

Published: Jan 26, 2020
English version

Teguh Wijaya Mulya

Budaya populer Korea dan Jepang - yang akhir-akhir ini makin digemari di Indonesia - telah membuka ruang baru bagi remaja untuk belajar keragaman ekspresi gender. Para fans Indonesia tidak hanya mengikuti kehidupan idola Korea lewat media sosial, membaca komik bromance Jepang, atau berdandan ala karakter kesukaan (dikenal dengan cosplay), namun juga membangun komunitas, menulis cerita fiksi, serta bermain peran dengan cara membuat akun Twitter palsu idolanya lalu menjalin relasi sesama (fans). Ekspresi maskulinitas yang lembut dan ramah - seperti ditampilkan para idola Korea - telah menjadi standar baru kelelakian bagi para fans ini. Komik bromance dan cosplay jenis kelamin berbeda (crossplay) juga begitu populer dan relatif tidak dipermasalahkan di kalangan fans. Namun, patriarki dan heteronormativitas tidak menyerah begitu saja. Dengan cepat hal-hal baru ini dikotakkan kembali ke ranah fantasi dan hiburan semata; menjadi tidak berlaku jika diterapkan di dunia nyata. Seperti dituturkan beberapa fans, misalnya, penggemar bromance tetap saja banyak yang homofobik di kehidupan sehari-hari. Bagaimana pun juga, budaya populer tetap adalah peluang bagi ruang resistensi yang menjanjikan, terutama seiring makin tipisnya batasan antara dunia maya dan nyata.

Teguh Wijaya Mulya adalah dosen di Indonesia. Dia mengucapkan terima kasih kepada para fans yang amat antusias berbagi cerita-cerita mereka dalam proses penulisan artikel ini.

Inside Indonesia 139: Jan-Mar 2020

Latest Articles

A lost generation

Sep 01, 2021 - ANTON LUCANUS

'Where we used to be', Central Jakarta, 2020 / ATH

Thousands of children have been orphaned and ostracised as the pandemic crisis continues to spiral

Film review: Kinipan

Aug 31, 2021 - ARFAN AZIZ

How forest restoration and food estate policies affect local communities

Photo essay: Banyutowo harmony

Aug 28, 2021 - HUTAMA LIMARTA

Locally bought fishermen’s catch at Banyutowo Fish Auction House

A fishing village on the northern tip of Java stays true to its roots

Rethinking development

Aug 11, 2021 - VENANSIUS HARYANTO

Farmers work a potato farm near a geothermal plant on the Dieng Plateau, on the Indonesian island of Java / Raditya Mahendra Yasa via Flickr (CC BY-NC-ND 2.0).

A deadly accident at a geothermal power plant in North Sumatra in January 2021 has galvanised local indigenous community-led opposition to a similar planned development on Flores Island

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar