Apr 22, 2021 Last Updated 2:05 AM, Apr 21, 2021

Budaya populer queer

Published: Jan 26, 2020
English version

Teguh Wijaya Mulya

Budaya populer Korea dan Jepang - yang akhir-akhir ini makin digemari di Indonesia - telah membuka ruang baru bagi remaja untuk belajar keragaman ekspresi gender. Para fans Indonesia tidak hanya mengikuti kehidupan idola Korea lewat media sosial, membaca komik bromance Jepang, atau berdandan ala karakter kesukaan (dikenal dengan cosplay), namun juga membangun komunitas, menulis cerita fiksi, serta bermain peran dengan cara membuat akun Twitter palsu idolanya lalu menjalin relasi sesama (fans). Ekspresi maskulinitas yang lembut dan ramah - seperti ditampilkan para idola Korea - telah menjadi standar baru kelelakian bagi para fans ini. Komik bromance dan cosplay jenis kelamin berbeda (crossplay) juga begitu populer dan relatif tidak dipermasalahkan di kalangan fans. Namun, patriarki dan heteronormativitas tidak menyerah begitu saja. Dengan cepat hal-hal baru ini dikotakkan kembali ke ranah fantasi dan hiburan semata; menjadi tidak berlaku jika diterapkan di dunia nyata. Seperti dituturkan beberapa fans, misalnya, penggemar bromance tetap saja banyak yang homofobik di kehidupan sehari-hari. Bagaimana pun juga, budaya populer tetap adalah peluang bagi ruang resistensi yang menjanjikan, terutama seiring makin tipisnya batasan antara dunia maya dan nyata.

Teguh Wijaya Mulya adalah dosen di Indonesia. Dia mengucapkan terima kasih kepada para fans yang amat antusias berbagi cerita-cerita mereka dalam proses penulisan artikel ini.

Inside Indonesia 139: Jan-Mar 2020

Latest Articles

Kartini in her own words

Apr 13, 2021 - INSIDE INDONESIA

An essential resource for Indonesian history scholars and students, Kartini's works are now available by open access

Sugar taxes save lives

Mar 24, 2021 - CITTA WIDAGDO

Teh Botol / Flickr Creative Commons

Indonesia lags behind many countries in taxing high sugar drinks

An urgent mental health challenge

Mar 03, 2021 - SHERINE HASSAN

/ Abdul Rahman Flickr CC

The demand for support for children with ASD is growing, but a lack of data and research means services remain woefully inadequate

Review: An improbable nation

Feb 16, 2021 - MADE SOMA

Review: Indonesia Calling 2020

Feb 08, 2021 - RON WITTON

Ipehnur Beresyit/ The Chronicle of Twenty Twenty: Pagar, 2020/ hand drawn batik, 110 x 150 cm

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar