Dec 15, 2018 Last Updated 7:39 AM, Dec 10, 2018

Bonek: Gerakan perlawanan pendukung sepak bola

Published: Aug 02, 2018

Fajar Junaedi

English version

Ribuan penggemar Persebaya, sebuah klub sepak bola legendaris dari Surabaya, Jawa Timur bergerak menuju Bandung, Jawa Barat menjelang tanggal 8 Januari 2017. Mereka tidak hanya berasal dari Surabaya, namun juga dari berbagai kota di Indonesia. Tujuan mereka satu, yaitu untuk memperjuangkan pemulihan status Persebaya dalam Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Saya berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 7 Januari 2017 pukul 9 malam bersama dengan salah satu cabang Bonek, kelompok pendukung Persebaya. Para pendukung ini berasal dari Yogyakarta dan kota-kota di sekitarnya. Rombongan ini menaiki satu bus besar berkapasitas 50 orang penumpang. Tidak ada kursi yang kosong, semua dipenuhi oleh anggota Bonek. Beberapa anggota Bonek berangkat dengan mengajak anak-anak mereka yang masih kecil. Ada dua anak kecil berumur di bawah lima tahun yang ikut dalam rombongan Bonek dari Jogja menuju Bandung.

Awalnya, kursi bus dikabarkan telah penuh. Saya nyaris putus asa dan berusaha mencari tiket kereta api. Tiba-tiba, satu hari sebelum keberangkatan terdapat seorang anggota Bonek yang membatalkan keikutsertaannya dalam rombongan dikarenakan oleh adanya pekerjaan rutin yang tidak bisa ditinggalkan. Tulus Budi, seorang pria kelahiran Surabaya yang telah mendukung Persebaya sejak tahun 1980-an, menyampaikan kabar tersebut kepada saya melalui pesan singkat di layanan Whatsapp.

Saya cukup lama mengenal Tulus Budi. Kecintaannya pada Persebaya tidak perlu diragukan lagi. Ia telah melewati masa kejayaan Persebaya dari tahun 1980-an hingga awal 2000-an, serta masa terpuruknya Persebaya di tahun 2012 sampai dengan 2017. “Yakini kebenarannya, perjuangkan selamanya,” kata Tulus Budi kepada saya tentang alasannya memperjuangkan Persebaya.

Ia duduk di kursi paling depan bersama istrinya. Di kursi sampingnya, duduk Anom Hafid. Ia adalah seorang Bonek yang berusia lebih muda dibandingkan Tulus Budi. Bersama dengan beberapa anggota Bonek generasinya, Tulus menginisiasi pendirian Green Nord, sebuah sayap Bonek bergaya ultra. Kelompok ini menempati tribun utara Gelora Bung Tomo yang merupakan stadion kandang Persebaya. Green Nord terkenal dengan kevokalannya dalam memperjuangkan Persebaya sekaligus mengkritisi manajemen Persebaya yang dianggap tidak kompeten untuk mengelola Persebaya.

Kami menempuh perjalanan malam dengan lancar dan memakan waktu sekitar 10 jam melewati kota-kota di beberapa provinsi, seperti Yogyakarta, Jawa Tengan dan Jawa Barat. Dua kali bus berhenti untuk memberikan kesempatan kepada penumpang makan dan beribadah. Warga di sepanjang perjalanan memberikan apresiasi kepada bus kami melalui lambaian tangan sebagai bentuk dukungan.

Pengasingan Persebaya

Selama lima tahun, Persebaya mengalami ketidakadilan dari PSSI. Sebagai akibat dari perlawanan Persebaya terhadap kebijakan PSSI, klub yang berdiri sejak tahun 1927 ini tidak diakui keberadaannya oleh PSSI. Awal mula ketidakadilan yang diterima Persebaya terjadi di tahun 2010. Pada saat itu, Persebaya harus menjalani pertandingan ulang melawan Persik Kediri setelah kedua tim ini berada di papan bawah Liga Super Indonesia (LSI). Pertandingan ini penting karena akan menentukan klub sepak bola mana yang didegradasi, antara Persebaya, Persik Kediri atau Pelita Jaya.

Secara sepihak, PSSI menyatakan bahwa pertandingan ulang antara Persebaya dan Persik Kediri dimenangkan oleh Persik Kediri dengan skor 3:0. Sebagai akibatnya, kedua klub sama-sama mengalami degradasi karena poin yang didapatkan oleh Persebaya dan Persik Kediri tetap berada di bawah Pelita Jaya. Pelita Jaya adalah klub yang dimiliki oleh Keluarga Bakrie, sebuah keluarga yang mendominasi kepengurusan PSSI dan mendapat dukungan dari Partai Golongan Karya (Golkar). Alih-alih menerima keputusan PSSI, Persebaya justru melawan keputusan tersebut karena menurut mereka pengaturan jadwal pertandingan dilakukan secara tidak adil.

Pembatalan pertandingan di Stadion Brawijaya, Kediri pada tanggal 29 April 2010 terjadi karena tidak adanya izin pertandingan dari pihak kepolisian. Jadwal pertandingan kemudian diganti tanggal 6 Mei 2010 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta yang dihadiri oleh Persebaya dan rombongan Bonek. Namun, pertandingan kembali gagal digelar. Sesuai dengan perturan liga sepak bola Indonesia, wasit memberikan kemenangan 3:0 kepada Persebaya karena Persik Kediri sebagai tuan rumah, meskipun di lokasi yang berbeda, telah gagal menggelar pertandingan.

Anehnya, PSSI membatalkan kemenangan Persebaya dan membuat kebijakan baru. Pertandingan Persebaya dan Persik Kediri dijadwal ulang di Stadion Brawijaya, Kediri pada tanggal 5 Agustus 2010. Melalui pesan singkat yang menyebar di telepon seluler, rombongan anggota Bonek bergerak secara masif ke Kediri. Namun, pertandingan kembali batal digelar. Sekali lagi, seharusnya Persebaya dinyatakan menang karena Persik sebagai tuan rumah gagal menggelar pertandingan. Akan tetapi, PSSI membuat keputusan kontroversial dengan menjadwalkan pertandingan di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang pada tanggal 8 Agustus 2010. Persebaya yang sudah muak dengan keputusan PSSI menolak datang. Persebaya divonis kalah oleh PSSI dan terpaksa harus mengalami degradasi.

Persebaya memutuskan tidak lagi mengikuti kompetisi sepak bola LSI dan memilih bergabung dengan Liga Primer Indonesia (LPI). Konflik Persebaya dengan PSSI menjadi episentrum persoalan sepak bola Indonesia. Pengurus PSSI terlibat konflik internal setelah Persebaya menyeberang ke LPI, menyebabkan dualisme kepengurusan PSSI. Pemerintah melakukan intervensi dengan membekukan PSSI. Tragisnya, status Persebaya yang dimatikan oleh PSSI masih berlangsung bahkan ketika pemerintah membekukan PSSI.

Bonek melawan PSSI

“Kami berjuang untuk kehormatan Persebaya. Tuntutan kami adalah pengakuan Persebaya kembali. Kami sudah bosan dibohongi oleh PSSI,” Anom berkata kepada saya tentang tujuan akhir perjuangan Bonek.

Perlawanan Bonek terhadap PSSI telah berlangsung sejak insiden di tahun 2010 tersebut. PSSI pernah berusaha menakluklan Bonek dengan membuat tim ‘Persebaya’ yang baru. Namun tim tersebut ditolak oleh Bonek. Jika biasanya pertandingan Persebaya bisa dihadiri oleh 50 ribu anggota Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, maka pertandingan yang dijalani tim ‘Persebaya’ baru ini hanya disaksikan tidak lebih dari 500 orang.

Saya pernah datang saat tim ‘Persebaya’ baru ini bertanding melawan Persiram Raja Ampat di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 2014. Pendukung ‘Persebaya’ baru buatan PSSI yang datang ke stadion tidak lebih dari 200 orang. Jumlah ini tidak sebanding dengan ribuan anggota Bonek yang secara konsisten memboikot ‘Persebaya’ baru dan memilih untuk terus berunjuk rasa melawan PSSI guna memperjuangkan Persebaya lama. Seorang polisi yang menjaga pertandingan bertanya kepada saya, “Apakah ini benar-benar Persebaya? Mengapa fan mereka yang datang hanya sedikit?” Saya menjelaskan kepadanya bahwa tim yang bertanding adalah Persebaya bentukan PSSI untuk mematikan Persebaya yang lama. “Oh, saya paham. Saya suka dengan Persebaya. Mereka klub legendaris, fan Persebaya juga sangat fanatik. Semoga Persebaya segera bangkit,” respon polisi itu.

PSSI juga pernah menguji kekuatan Bonek dengan menggelar Kongres di Surabaya pada tanggal 26 Januari 2014. Ribuan anggota Bonek berdemonstrasi di depan Hotel Shangri-la, Surabaya yang menjadi lokasi Kongres PSSI. Mereka menolak Kongres PSSI dan menuntut pengakuan kembali Persebaya. Meskipun tuntutan mereka tidak dipenuhi, acara kongres tersebut berhasil digagalkan.

Source: Hermawan Handaka courtesy of Fajar Junaedi

Parade Bandung

Pada hari Minggu, 8 Januari 2017 pukul 8 pagi, bus kami masuk kota Bandung. Awalnya bus akan diparkir di Gedung Olahraga Pajajaran yang menjadi pusat berkumpulnya anggota Bonek, namun beberapa anggota yang berada di dalam bus mengambil inisiatif untuk meminta pengemudi bus agar terus melaju ke alun-alun Bandung. Tulus Budi terus melakukan komunikasi di telepon selulernya dengan anggota Bonek yang sudah datang di Bandung. Ada kekhawatiran jika berhenti di Gedung Olahraga Pajajaran, rombongan kami akan dicegah polisi menuju Hotel Aryaduta yang menjadi lokasi kongres. Tujuan kami datang ke lokasi kongres bisa gagal karena blokade polisi.

Akhirnya bus kami sampai di alun-alun Bandung dan ribuan anggota Bonek sudah berada di lokasi ini. Tulus Budi bergabung dengan beberapa pemimpin rombongan Bonek yang berasal dari berbagai kota di sudut alun-alun Bandung untuk mendiskusikan aksi. Pada pukul 10.30 pagi, anggota Bonek yang berada di alun-alun Bandung mulai bergerak berjalan kaki menuju lokasi kongres PSSI. Flare (sejenis kembang api) dinyalakan sepanjang perjalanan. Lagu-lagu dinyanyikan dengan lantang tiada henti dan bendera besar dikibarkan oleh massa Bonek. Di sepanjang jalan, masyarakat Bandung memberikan sambutan dengan lambaian tangan. Tulus Budi dan Anom Hafid sudah tidak terlihat dari pandangan mata saya. Mereka bersama dengan anggota Bonek yang lain berparade di barisan depan.

Saya berada di bagian terakhir dari parade besar Bonek bersama beberapa anggota Bonek dari Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Salah satu yang saya kenal adalah Andhi Mahligai, seorang pria yang disegani dan aktif di Bonek Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Berjalan di bagian akhir parade Bonek, kami memunguti sampah yang tersisa dari rombongan besar yang berada di depan kami. Sampah itu kami masukan ke dalam kantong plastik besar. Kebanyakan sampah adalah flare yang masih panas setelah terbakar api. Kami harus menyiramnya dengan air dalam botol air minum yang kami bawa agar bisa memasukannya ke kantong sampah.

Anggota Bonek yang berparade dari alun-alun Bandung sampai Gedung Olahraga Pajajaran telah berjalan selama hampir dua jam. Rombongan Bonek yang berangkat dari Yogyakarta melebur bersama dengan ribuan bonek yang lain. Ribuan massa Bonek yang telah berparade dari alun-alun Bandung berjumpa dengan ribuan massa Bonek lainnya di Gedung Olahraga Pajajaran. Tujuan akhir parade ini adalah Hotel Aryaduta yang menjadi lokasi Kongres PSSI. Sebelum kami bergerak ke Hotel Aryaduta, sebuah kabar gembira datang di tengah hari bahwa Persebaya kembali diakui oleh PSSI.

Tangis bahagia massa Bonek pecah di sekitar Gedung Olahraga Pajajaran, Bandung. Bonek akhirnya berhasil mengalahkan PSSI. Sebuah gerakan penggemar sepak bola telah berhasil mengalahkan federasi sepak bola.

Di sore harinya, kami kembali berkumpul di alun-alun Bandung. Menjelang matahari tenggelam, bus kami berangkat menempuh perjalanan pulang kembali ke Yogyakarta.

Fajar Junaedi (fajarjun@gmail.com) adalah dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta serta merupakan seorang peneliti fan sepak bola.

Inside Indonesia 133: Jul-Sep 2018

Latest Articles

Radical theatre of the difabled

Nov 27, 2018 - IRFAN KORTSCHAK

The group during a rehearsal / Irfan Kortschak

Drawing upon the Theatre of the Oppressed, villagers with disabilities have an opportunity to express themselves

Essay: Contesting urban beauty in Jakarta

Nov 15, 2018 - JORGEN DOYLE & HANNAH EKIN

Source/ Doyle & Ekin  Wish images

Walking Jakarta’s northern coastline reveals communities experiencing disruptive and rapid change

Photo essay: Hope in the face of disaster

Nov 02, 2018 - MELANIE FILLER & TIM BARRETTO

Source/ Melanie Filler & Tim Barretto

Palu after the tsunami

Surviving while seeking asylum

Oct 26, 2018 - GEMIMA HARVEY

Hazara asylum seeker Shiringul first fled Afghanistan to Pakistan and then when the danger spread to Pakistan, she was forced to flee again, this time to Indonesia. She said the streets outside of Kalideres immigration detention centre were her best option. Source/ Gemima Harvey

A change in Australia’s asylum policy has denied refugees in Indonesia vital support

Subscribe to Inside Indonesia

Receive Inside Indonesia's latest articles and quarterly editions in your inbox.

 


Lontar Modern Indonesia

Lontar-Logo-Ok

 

A selection of stories from the Indonesian classics and modern writers, periodically published free for Inside Indonesia readers, courtesy of Lontar