Oct-Dec 2006

bahasa indonesia

Yang sudah hilang

Pramoedya Ananta Toer

Sebagai penghormatan kepada Pramoedya Ananta Toer kami menyumbang kutipan ceritanya berjudul ‘Yang Sudah Hilang’ dari buku ‘Cerita dari Blora’, terbitan Wira Karya, Kuala Lumpur 1989. ‘Cerita dari Blora’ pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh Balai Pustaka. Kutipan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen tersebut. Kami berterima kasih kepada Astuti Ananta Toer atas izinnya untuk menerbitkannya lagi.

Ibu Bunda diam di pinggir kota kami, Blora, setelah kawin dengan penduduk di situ. Kadang-kadang nenek datang ke tempat kami membawakan buah-buahan. Penghasilan nenek ialah menjual sayur-sayuran. Pagi-pagi ia bangun dan mencegat petani yang membawa sayur-mayurnya yang mau dibawanya ke pasar. Ia membeli dagangannya dari mereka dan menjualnya ke rumah-rumah para priyayi, atau kukatakan yang menyebut dirinya priyayi. Kakek yang diam di pinggir kota mencari penghasilannya dengan berjualan sate ayam di pasar. Kakek sendiri jarang datang selain untuk keperluan meminjam uang. Tadinya kakek bertani juga, tapi panennya selalu gagal.

Orang-orang penduduk kota kecil kami mempunyai kepercayaan yang aneh. Dan ini kuketahui waktu aku sudah dewasa. Orang akan kejatuhan sial – sial untuk seumur hidupnya – bila telah menurunkan manusia yang disebut umum tidak sah. Demikian juga halnya dengan kakek. Tapi tentang hal itu aku tak tahu betul.

Kadang-kadang aku lihat bunda berparas kesal bila bapak tirinya datang. Dan pernah suatu kali ia berkata padaku dengan jalan tak langsung: ‘Engkau tak boleh menjalani jalan maksiat,’ katanya. ‘Lihatlah kakekmu itu. Begitulah akibatnya. Segala usahanya gagal. Segala doa dan harapannya tak sampai ke tempatnya.'

Tapi pengertian kanak-kanakku tak sampai pada apa yang dimaksudkan olehnya. Dan sekali itu juga aku pernah bertanya: ‘Mengapa kakek, bu?’

‘Kalau engkau sudah besar engkau akan tahu sendiri mengapa.’

Dan aku tak bertanya-tanya lagi.

Bunda biasa mencangkul di ladang. Dan di waktu-waktu seperti itu, kalau aku tak sedang bermain-main, pasti ikut dengannya. Dalam waktu-waktu seperti itu biasa meluncur dari mulut bunda dongeng-dongeng yang semua berisi pendidikan – pendidikan agar anaknya mencintai alam, mencintai sesuatu pekerjaan yang tertentu, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Pengertian kanak-kanakku tak dapat menangkap apa yang dimaksudkannya. Tahunan kemudianlah aku baru mengerti apa yang dimaksudkannya.

‘Orang hidup dari keringatnya sendiri, anakku. Kalau engkau sudah dewasa, engkau pun akan demikian pula. Dan segala barang yang kau terima tidak dari hasil pekerjaanmu sendiri itu tidak sah. Ya, sekalipun barang itu barang pemberian orang dermawan padamu.’

Dan seperti yang lain juga, semua itu hilang sudah. Hilang untuk takkan kembali lagi – hilang untuk abadi menetap dalam ingatan dan kenangan. Kali Lusi mengalami banjir dan surutnya, mengalami naik dan turunnya. Demikianlah juga halnya dengan segala yang telah terjadi dalam hidup semasa kanak-kanak itu.

‘Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu dengan barang-barang yang kauperoleh – juga hidup dan badanmu sendiri. Semua saja, semua saja yang kauperoleh dengan sah,’ pernah sekali ayah berkata.

Suara itu hanya terdengar beberapa detik saja dalam hidup. Getaran suara yang sebentar saja berdengung, takkan terulang lagi. Tapi seperti juga halnya dengan kali Lusi, yang abadi menggarisi kota Blora, dan seperti kali itu juga, suara yang tersimpan menggarisi kenangan dan ingatan itu mengalir juga – mengalir ke muaranya, ke lautan yang tak bertepi. Dan tak seorang pun tahu kapan laut itu akan kering dan berhenti bertepi.

Hilang.

Semua itu sudah hilang dari jangkauan pancaindera.

Kosa-kata

berdengung ... reverberate
Bunda ... a respectful term for mother (‘Ibu Bunda’ refers to the narrator’s grandmother)
diam ... to reside
getaran suara ... quiver of sound
kauperoleh ... you receive
kejatuhan sial-sial ... suffer bad luck
keringat ... sweat
kukatakan ... what I would call
kuketahui ... I found out
maksiat ... immoral
mencegat ... to hail, call
menggarisi ... to border, delineate
muara ... estuary
pancaindera ... the five senses
pengertin kanak-kanakku ... my childish understanding
perparas kesal ... look cross
priyayi ... Javanese upper class
sekalipun ... although
takkan ... not
tidak sah ... not right