Oct-Dec 2006

Bahasa Indonesia

Kamera kecil merekam orang besar: di balik pembuatan film dokumenter ‘Bab Akhir Pramoedya’

Ucu Agustin

Kamis malam, 27 April 2006, sebuah telepon dari seorang teman membuat kami terhenyak: ‘Pramoedya kritis, keluarga akhirnya membawa dia ke rumah sakit.’

Berita itu bukan hanya mengejutkan, tapi pada saat yang bersamaan, membuat kami saling pandang. Sungguh sebuah kebetulan yang ganjil. Saat menerima kabar tentang kondisi kritis sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kami sedang melakukan preview video kematian Ayahanda rekan kami yang baru saja meninggal.

Pada Desember 2005, saya dan rekan saya Veronica Kusuma, memenangkan Short Documentary Script Development Competition yang diadakan oleh panitia JiFFest (Jakarta Internasional Film Festival) dengan judul Death & Class in Jakarta. Dan untuk keperluan produksi film dokumenter tersebut, kami mendokumentasikan seluruh proses pasca kematian yang biasa dialami orang Indonesia, mulai dari mengurus pembuatan surat keterangan kematian sampai dengan biaya pemakaman dan seluruh birokrasi yang terkait dengan bisnis kematian.

Pada malam itu, bersama dua orang rekan, Veronica Kusuma dan Mamazh S, kami memutuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit St Carolus. Dengan membawa kamera handycam, kami pun mulai berkenalan dengan keluarga Pramoedya dan beberapa relasi dari penerbit Lentera Dipantara, Blora Institute serta beberapa ‘pramis’ – sebutan untuk sekelompok orang yang menganut paham yang sama dengan Pramoedya. Sebuah paham yang percaya pada kebenaran, keadilan dan keindahan – yang mengantar Pram ke rumah sakit.

Kepada mereka, saya katakan kalau kami ingin merekam keadaan Pramoedya. Setelah beberapa percakapan dan dibantu diyakinkan oleh Mujib Hermani (seorang rekan yang biasa membantu keluarga mengurusi penerbit Lentera Dipantara), keluarga memperbolehkan kami mengambil gambar.

Dari sanalah semuanya bermula. Kami terus mendokumentasikan keadaan Pramoedya dari sejak masuk Unit Gawat Darurat, perdebatan apakah Pram akan dirawat di ruang ICU atau tidak, rapat dokter dan keluarga, keputusan untuk membawa pulang Pramoedya dari rumah sakit ke rumah kediaman di Utan Kayu – di saat kritis, sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir dan dikubur di TPU Karet Bivak. Sebuah proses pendokumentasian yang bila kami mengingatnya sekarang, kerap membuat kami merinding.

Pramoedya bukan hanya sebuah pribadi yang kuat menerima penindasan yang terjadi ketika ia masih hidup, tapi juga seorang manusia yang benar-benar memiliki daya juang dan sangat percaya akan kekuatan dirinya di saat ia mesti bergelut dengan maut, sekalipun. Berkali kamera kami menangkap peristiwa itu. Dengan gerak tangannya yang lemah, Pramoedya berusaha mencopot dan menolak aneka selang (infuse dan oksigen) yang masuk ke tubuhnya. Sebuah metafora visual yang seolah ingin mengatakan kalau sang penulis besar, adalah sosok yang tetap mampu otonom sampai akhir hayatnya.

Kendala teknis

Tahap pra-produksi yang teramat spontan, fasilitas audio-visual yang terbatas dan keadaan keluarga yang panik serta ketidak-nyaman sewaktu pengambilan gambar karena harus berhadapan dengan kondisi psikologis yang beraroma sedih dan penuh duka, menjadi kendala sewaktu melakukan produksi. Akan tetapi film dokumentasi kami telah diputar dalam peringatan 40 hari kematian Sang Legenda ini, pada 8 Juni 2006.

Bagi banyak orang, film ini merupakan sebuah lambaian selamat tinggal dari Pramoedya Ananta Toer. Bagi kami, film ini merupakan saksi sejarah bagaimana seorang penulis besar Indonesia telah meninggalkan kami dengan gagah, mewariskan seluruh karya dan élan perjuangannya bagi generasi muda seperti kami. Tak pelak lagi, ketika kami melihat hasil dokumentasi kami, kami kembali menangis dan diingatkan bahwa kerja belum selesai, bahwa banyak hal yang harus diperjuangkan: keadilan, kebenaran, dan keindahan.  ii

Ucu Agustin adalah pembuat film Bab Akhir Pramoedya (Pramoedya: The Last Chapter), dia bekerja di Jakarta.

Kosa-kata

Ayahanda ... father
bergelut dengan maut ... wrestle with death
ganjil ... peculiar
hayat ... life
menganut paham ... profess an understanding
merinding ... feel frightened, spooked
pasca ... post, after
relasi ... client
selang ... tube
tak pelak lagi ... obviously
terhenyak ... startled