Oct-Dec 2006

bahasa indonesia

Ketika sang naga menggeliat

Ouda Ena

Menurut cerita legenda, gempa bumi disebabkan oleh seekor naga raksasa yang menggeliat di bawah tanah. Karena hebatnya gerakan itu maka tanah di atasnya menjadi berguncang hebat dan terjadilah gempa bumi. Cerita ini tidak seratus persen salah. Ketika terjadi gempa di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 ada sesuatu di bawah permukaan tanah yang bergerak.

Gempa yang berkekuatan 5,9 skala Richter ini menghancurkan puluhan ribu rumah, serta ratusan fasilitas umum seperti sekolah, pasar, kantor pemerintah, tempat ibadah, jalan, dan jembatan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lebih dari enam ribu orang meninggal dunia.

Pada hari pertama listrik mati dan saluran telepon terganggu. Jalur telepon sangat padat sehingga sulit melakukan komunikasi. Pada kira-kira jam delapan pagi terjadi kepanikan massal karena isu adanya tsunami. Semua orang lari, naik sepeda motor, atau mobil ke tempat yang lebih tinggi. Banyak terjadi kecelakaan karena kepanikan ini.

Rumah sakit yang ada di Yogyakarta tidak mampu menampung korban gempa. Sebuah rumah sakit di Bantul yang mempunyai 150 tempat tidur misalnya harus menerima seribu lebih korban. Persediaan obat yang ada juga tidak memadai. Pada hari-hari pertama bantuan obat, makanan, dan tenda belum datang. Hari kedua terjadi hujan lebat yang menambah penderitaan korban. Banyak yang sakit, kelaparan, dan kedinginan.

Bantuan mulai berdatangan pada hari ketiga. Pemerintah, LSM Indonesia maupun LSM asing, dan pemerintah asing mulai datang membawa bantuan makanan, dan medis. Tentara Indonesia dan tentara asing juga terlihat membantu evakuasi korban yang masih tertimbun runtuhan bangunan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang segera membuat dapur umum dan mengirim makanan ke daerah-daerah yang terkena gempa.

Bencana selalu meninggalkan trauma bagi korbannya. Beberapa organisasi yang membantu pemulihan kesehatan jiwa dari para korban. Ada yang membuka klinik konsultasi dan ada juga yang membuat kegiatan bersama terutama bagi anak-anak.

Banyak korban yang menjadi takut untuk masuk ke dalam bangunan karena pengalaman mereka ketika gempa. Retno, siswa kelas satu sekolah dasar di Klaten, Jawa tengah sekarang belajar di lapangan sepakbola karena sekolahnya hancur. Dia masih takut masuk rumah.

‘Ketika ada gempa saya masih tidur. Ibu saya sudah bangun dan sudah di luar rumah. Kaki saya kejatuhan tembok dan saya menangis keras-keras. Tetapi sekarang saya sudah sembuh.’

Bayu, seorang mahasiswa yang belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak saja rumahnya rusak tetapi juga peralatan kuliahnya rusak karena hujan.

Natalia Dewi mahasiswi yang tinggal di Jetis, Bantul, Yogyakarta juga mengalami hal yang serupa. Untuk menghilangkan kesedihannya dia ikut ‘kuliah kerja nyata’ di daerah gempa yang lain.

‘Rumah saya hancur. Motor saya yang biasa saya pakai kuliah kerobohan rumah dan rusak. Jadi saya sekarang harus menunggu teman kalau mau pergi kuliah. Saya ikut kuliah kerja nyata di Klaten. Saya bekerja dengan anak-anak korban gempa, membantu mereka belajar dan bermain untuk menghilangkan trauma mereka.’

Bayu juga melakukan hal yang sama. Meskipun dia adalah korban gempa tetapi dia juga menjadi relawan bekerja dengan seniman-seniman Kelompok SEPI yang membuat program menggambar bersama untuk anak-anak. Dengan kegiatan ini anak-anak bisa mengungkapkan perasaan mereka sehingga beban psikologis mereka akibat gempa berkurang.

Ouda Ena (ouda@lycos.com) adalah dosen Bahasa Inggeris dan Bahasa Indonesia di Universitas Sanata Dharma dan anggota Kelompok SEPI. Ada informasi tentang kegiatan Kelompok SEPI di www.kelompoksepi.blogspot.com. Lihat halaman 20 untuk informasi tentang pameran hasil proyek Menggambar Bersama di Perth.

Kosa-kata

kuliah kerja nyata ... University student volunteer program
menggeliat ... to stretch after sleeping
tertimbun runtuhan ... buried under rubble