Apr - Jun 2001
 
Sinetron: Rating, Mimpi Dan Perempuan. 
 
Sinetron atau sinema elektronik adalah fenomena khas dalam pertelevisian Indonesia. Program acara televisi yang sama dengan soap opera ini  lahir  tahun 1980-an di TVRI (Televisi Republik Indonesia). Stasiun televisi milik pemerintah yang tidak menerima iklan ini adalah satu-satunya stasiun televisi yang ada saat  itu.

Sinetron semakin berkembang bersamaan dengan hadirnya lima stasiun televisi swasta di Indonesia : RCTI, SCTV, TPI, AN TV dan Indosiar  awal tahun 1990-an. Saat itu terdapat regulasi yang mengharuskan setiap stasiun televisi memproduksi program lokal lebih banyak dibandingkan program non lokal.  Sinetron menjadi unggulan program lokal dan merajai prime time hampir semua stasiun televisi. 

Perang sinetron antar stasiun televisi untuk merebut perhatian pemirsa televisi dimulai. Tak heran jika yang berlaku kemudian adalah sistem rating. Semakin tinggi rating diperoleh, semakin banyak penontonnya, maka semakin tinggi  pemasukan iklannya. Kondisi ini menguntungkan stasiun televisi, rumah produksi maupun pengiklan.  Oleh karena itu, sinetron yang sukses secara komersial seringkali memunculkan sekuel berikutnya. Seperti ‘Si Doel Anak Sekolahan’ maupun ‘Tersanjung’  yang diproduksi hingga 5 sekuel. Meskipun tidak berarti yang sukses di pasaran adalah yang baik mutunya.

Fenomena lain adalah star system yaitu produksi sinetron yang mengutamakan popularitas bintang utamanya. Ceritanya boleh tentang apa saja sepanjang bintangnya popular  pasti sinetronnya banyak ditonton orang. Sebut saja Desi Ratnasari, Paramita Rusadhy atau Jihan Fahira, yang diharapkan bisa mendongkrak rating.

Akibat pendewaan terhadap rating inilah kemudian muncul produksi sinetron kejar tayang. Produksi dilakukan secara cepat untuk mengantisipasi rating. Kualitas sinetron pun akhirnya diabaikan. Apalagi sebagian besar waktu prime time dikuasai melalui sistem blocking time oleh production house besar seperti Multivision dan Starvision sehingga keinginan mengisi space yang sudah dibeli lebih penting dibandingkan menjaga kualitas sinetron. 

Dilihat dari ceritanya sendiri, kebanyakan sinetron menggunakan resep yang hampir sama yaitu persoalan cinta yang ruwet dengan intrik keluarga dan perselingkuhan. 

Kehidupan keluarga yang ada dalam sinetron seperti dalam mimpi. Di tengah krisis ekonomi dan politik yang melanda, kemewahan dalam sinetron menjadi hal yang biasa. Keluarga yang kaya raya, figur yang cantik dan tampan, perusahaan milik keluarga, rumah mewah, mobil mewah, baju mahal, belanja berlebihan, restoran mewah, handphone merupakan atribut  visual yang seolah menjadi keharusan. Tanpa  perduli dengan karakter tokoh yang dimainkan.  Simak saja ‘Lupus’ , remaja SMA yang tinggal di rumah mewah padahal ibunya hanyalah seorang pengusaha makanan yang sederhana sementara ayahnya sudah meninggal. 

Selain tidak realistik, kebanyakan sinetron menggambarkan perempuan dan laki-laki secara stereotip. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah, cengeng, tertindas, tidak mandiri dan tergantung laki-laki. Sementara laki-laki digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegar, mempunyai kekuasaan, mandiri dan  melindungi. 

Kecengengan perempuan ini ditampakkan dengan banyaknya adegan menangis yang hampir merupakan adegan wajib bagi perempuan.  Perhatikan saja tokoh Indah dalam “Tersanjung”  yang sangat menderita sehingga perlu menangis paling tidak empat kali dalam satu episode. 

Perempuan juga hampir selalu diposisikan dalam ruang yang terbatas yaitu ruang domestik. Perempuan yang berada di sektor publik hanya digambarkan bekerja di kantor  sebagai status saja, sementara ceritanya masih berkutat pada masalah cinta maupun ruang domestiknya.  

Bahkan terkadang istri yang mandiri dan sukses seperti Adinda dalam “Apa Yang Kau Cari Adinda” atau Yustina dalam “Senandung”  malah membuat suaminya kehilangan harga diri dan mencari harga dirinya hilang dari wanita lain. Seringkali solusinya adalah kembalinya perempuan ke ruang domestik agar istri tidak ditinggalkan suaminya.

Dibalik semua kekurangan sinetron seperti yang  dijelaskan di atas, perlu dicatat beberapa sinetron berkualitas. Sinetron yang tak hanya menjual mimpi atau kelemahan perempuan.

Sebagai contoh adalah sinetron ‘Keluarga Cemara’ yang bercerita tentang keluarga tukang becak  yang hidup sederhana tapi memiliki ketulusan hati dan budi pekerti  luhur.  Atau  ‘Sayekti dan Hanafi’ yang menceritakan kegigihan  buruh gendong perempuan dalam usahanya menebus biaya pengobatan saat ia terpaksa melahirkan putranya di rumah sakit swasta. Ada lagi ‘Canting’ yang merepresentasikan kegigihan dua perempuan Jawa dua generasi dalam menekuni usaha batik. Atau  ‘Bukan Perempuan Biasa’ yang menceritakan kegigihan tukang jamu perempuan membesarkan  anak  perempuan hasil perkosaan beberapa laki-laki sekaligus. 

Beberapa sinetron yang telah disebutkan di atas mungkin adalah bukti bahwa perjalanan sinetron masih panjang. Menghasilkan sinetron berkualitas memang bukan hal gampang, meskipun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Semuanya kembali pada keinginan untuk menyajikan yang terbaik bagi pemirsa dan bukan yang terpopuler.