Sinetron atau sinema elektronik
adalah fenomena khas dalam pertelevisian Indonesia. Program acara televisi
yang sama dengan soap opera ini lahir tahun 1980-an di TVRI
(Televisi Republik Indonesia). Stasiun televisi milik pemerintah yang tidak
menerima iklan ini adalah satu-satunya stasiun televisi yang ada saat
itu.
Sinetron semakin berkembang bersamaan
dengan hadirnya lima stasiun televisi swasta di Indonesia : RCTI, SCTV,
TPI, AN TV dan Indosiar awal tahun 1990-an. Saat itu terdapat regulasi
yang mengharuskan setiap stasiun televisi memproduksi program lokal lebih
banyak dibandingkan program non lokal. Sinetron menjadi unggulan
program lokal dan merajai prime time hampir semua stasiun televisi.
Perang sinetron antar stasiun televisi
untuk merebut perhatian pemirsa televisi dimulai. Tak heran jika yang berlaku
kemudian adalah sistem rating. Semakin tinggi rating diperoleh, semakin
banyak penontonnya, maka semakin tinggi pemasukan iklannya. Kondisi
ini menguntungkan stasiun televisi, rumah produksi maupun pengiklan.
Oleh karena itu, sinetron yang sukses secara komersial seringkali memunculkan
sekuel berikutnya. Seperti ‘Si Doel Anak Sekolahan’ maupun ‘Tersanjung’
yang diproduksi hingga 5 sekuel. Meskipun tidak berarti yang sukses di
pasaran adalah yang baik mutunya.
Fenomena lain adalah star system
yaitu produksi sinetron yang mengutamakan popularitas bintang utamanya.
Ceritanya boleh tentang apa saja sepanjang bintangnya popular pasti
sinetronnya banyak ditonton orang. Sebut saja Desi Ratnasari, Paramita
Rusadhy atau Jihan Fahira, yang diharapkan bisa mendongkrak rating.
Akibat pendewaan terhadap rating
inilah kemudian muncul produksi sinetron kejar tayang. Produksi dilakukan
secara cepat untuk mengantisipasi rating. Kualitas sinetron pun akhirnya
diabaikan. Apalagi sebagian besar waktu prime time dikuasai melalui sistem
blocking time oleh production house besar seperti Multivision dan Starvision
sehingga keinginan mengisi space yang sudah dibeli lebih penting dibandingkan
menjaga kualitas sinetron.
Dilihat dari ceritanya sendiri,
kebanyakan sinetron menggunakan resep yang hampir sama yaitu persoalan
cinta yang ruwet dengan intrik keluarga dan perselingkuhan.
Kehidupan keluarga yang ada dalam
sinetron seperti dalam mimpi. Di tengah krisis ekonomi dan politik yang
melanda, kemewahan dalam sinetron menjadi hal yang biasa. Keluarga yang
kaya raya, figur yang cantik dan tampan, perusahaan milik keluarga, rumah
mewah, mobil mewah, baju mahal, belanja berlebihan, restoran mewah, handphone
merupakan atribut visual yang seolah menjadi keharusan. Tanpa
perduli dengan karakter tokoh yang dimainkan. Simak saja ‘Lupus’
, remaja SMA yang tinggal di rumah mewah padahal ibunya hanyalah seorang
pengusaha makanan yang sederhana sementara ayahnya sudah meninggal.
Selain tidak realistik, kebanyakan
sinetron menggambarkan perempuan dan laki-laki secara stereotip. Perempuan
digambarkan sebagai sosok yang lemah, cengeng, tertindas, tidak mandiri
dan tergantung laki-laki. Sementara laki-laki digambarkan sebagai sosok
yang kuat, tegar, mempunyai kekuasaan, mandiri dan melindungi.
Kecengengan perempuan ini ditampakkan
dengan banyaknya adegan menangis yang hampir merupakan adegan wajib bagi
perempuan. Perhatikan saja tokoh Indah dalam “Tersanjung” yang
sangat menderita sehingga perlu menangis paling tidak empat kali dalam
satu episode.
Perempuan juga hampir selalu diposisikan
dalam ruang yang terbatas yaitu ruang domestik. Perempuan yang berada di
sektor publik hanya digambarkan bekerja di kantor sebagai status
saja, sementara ceritanya masih berkutat pada masalah cinta maupun ruang
domestiknya.
Bahkan terkadang istri yang mandiri
dan sukses seperti Adinda dalam “Apa Yang Kau Cari Adinda” atau Yustina
dalam “Senandung” malah membuat suaminya kehilangan harga diri dan
mencari harga dirinya hilang dari wanita lain. Seringkali solusinya adalah
kembalinya perempuan ke ruang domestik agar istri tidak ditinggalkan suaminya.
Dibalik semua kekurangan sinetron
seperti yang dijelaskan di atas, perlu dicatat beberapa sinetron
berkualitas. Sinetron yang tak hanya menjual mimpi atau kelemahan perempuan.
Sebagai contoh adalah sinetron
‘Keluarga Cemara’ yang bercerita tentang keluarga tukang becak yang
hidup sederhana tapi memiliki ketulusan hati dan budi pekerti luhur.
Atau ‘Sayekti dan Hanafi’ yang menceritakan kegigihan buruh
gendong perempuan dalam usahanya menebus biaya pengobatan saat ia terpaksa
melahirkan putranya di rumah sakit swasta. Ada lagi ‘Canting’ yang merepresentasikan
kegigihan dua perempuan Jawa dua generasi dalam menekuni usaha batik. Atau
‘Bukan Perempuan Biasa’ yang menceritakan kegigihan tukang jamu perempuan
membesarkan anak perempuan hasil perkosaan beberapa laki-laki
sekaligus.
Beberapa sinetron yang telah disebutkan
di atas mungkin adalah bukti bahwa perjalanan sinetron masih panjang. Menghasilkan
sinetron berkualitas memang bukan hal gampang, meskipun bukan berarti tidak
bisa dilakukan. Semuanya kembali pada keinginan untuk menyajikan yang terbaik
bagi pemirsa dan bukan yang terpopuler.
|